Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
51


__ADS_3

"Jessica"


Robert berseru kaget setelah mendengar teriakan dari anak gadisnya. Matanya membulat. Darahnya menjadi dingin saat dia melihat nyala api di kulit kaki Jessica. Gadis itu berteriak sangat keras sehingga Robert berubah panik.


Robert menarik jaket yang ia gunakan dan dengan cepat membungkus di sekitar kaki Jessica untuk memadamkan api. Robert tahu betul bahwa anak gadisnya itu pasti akan menderita karena hal ini. Robert membawa Jessica agar berlutut di lantai, agar bisa melihat kondisi kaki dari gadis itu. Dan Robert bisa melihat dengan jelas bahwa tubuh Jessica kini bergetar dengan hebat.


"Oke, oke," bisik Robert padanya. "Ayah di sini, Jessie. Ayah ada di sini."


"Ayah," isak Jessica, "Ini sangat... sakit..."


"Ayah tahu," jawab Robert, tidak terlalu yakin apa yang harus dia lakukan saat ini. Tapi satu hal yang Robert tahu saat ini adalah bahwa dia harus membawa Jessica ke rumah sakit. Jessica sangat membutuhkan perhatian dan juga perawatan medis. Robert tahu jelas itu.


"Aku tahu, Jessie. Semua ini akan menjadi lebih baik, ayah janji padamu. Kau akan baik-baik saja. Ayah akan segera membawamu ke rumah sakit, oke?"


"Oke...oke..." kata Jessica di sela tangisnya dan Robert tahu bahwa dia akan shock setelah ini.


Robert memejamkan kedua matanya memikirkan apa yang akan menimpa atasannya, Marie. Saat itu dia hanya memiliki satu keputusan yang harus ia tentukan detik itu juga. Menyelamatkan Marie atau putrinya. Robert tahu benar bahwa nyawa Marie sedang dalam bahaya, tetapi putrinya sedang terluka sekarang. Jessica adalah perhatian utamanya saat ini.


Robert mengeluarkan ponsel pribadinya dari saku sambil mencari nomor ponsel Jessica. Ia menelepon nomor itu dan berharap kalau Nathan akan menjawabnya.


Dan Robert cukup beruntung karena pria muda itu mengangkat teleponnya.


"Nathan, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku!" seru Robert di telepon.


"Tentu, apa itu?"


"Aku butuh ambulans udara ke Kingdom. Aku butuh sekarang juga. Jessica terluka."


"Apa?" Nathan menjawab dengan kaget. Ia lalu segera mengetik sesuatu di keyboard komputer di depannya, mencoba untuk mengirim pesan dalam beberapa saat, baru kemudian ia kembali bicara.


"Robert, aku sudah mengabari tim rahasia kita yang ada di sana. Mereka akan segera datang dengan helikopter untuk menolong Jessica."


"Bagaimana dengan Dimitri?"

__ADS_1


"Aku sudah mengurus itu juga. Mereka pasti juga akan membawa bantuan dari pihak militer di sana. Semua bantuan akan datang mulai dari darat, air dan udara untuk mengejar Dimitri. Oh ya, aku juga akan mengirim helikopter ekstra untuk mengejar Dimitri nanti segera setelah helikopter pertama membawa Jessica. Aku pikir itu perlu."


"Aku belum melihatnya," jawab Robert sambil menahan Jessica di sisinya.


"Tunggulah sebentar. Mereka pasti sedang dalam perjalanan sekarang. Tadi pesanku agak terlambat terkirim karena Dimitri sudah meretas komputer BIN dan sejak tadi dia terus menerus mengarahkan mereka ke lokasi lain setiap kali saya memberi tahu mereka ke mana harus pergi, tapi aku sudah mengurusnya. Bantuan akan datang" balas Nathan panjang lebar. "Bisakah aku tahu apa yang terjadi pada Jessica?"


Robert melirik Jessica sebentar di sela pelukannya.


"Kakinya terbakar," kata Robert, rasa bersalah terus menggerogoti hatinya atas apa yang telah terjadi pada anak gadisnya ini.


Robert terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Dia sama sekali tidak bisa tidak berpikir bahwa ini bukanlah kesalahannya.


Memikirkan semua ini, Robert memilih untuk memejamkan kedua matanya. Dia lalu mencoba untuk lebih mengeratkan putrinya ke dalam pelukannya. Robert kemudian memasangkan jaket di tangannya ke bahu Jessica saat gadis itu terisak. Robert mengelus punggung Jessica di sela pelukannya.


"Bantuan akan segera datang." ujar Robert pada Jessica.


Jessica mengangguk. Ia sendiri sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.


Robert kembali menatap ponsel di tangannya. Ia bahkan hampir lupa jika Nathan masih ada di sambungan telepon. Ia lalu berbicara kembali pada Nathan.


"Bagus," kata Robert. Ia lalu mengangkat Jessica, menggendong gadis itu untuk membawanya keluar. Robert berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung menyusuri koridor. "Dan Marie? Bisakah kau melacaknya lokasinya? Kami berpisah sebelumnya, aku tidak tahu dimana dia sekarang."


"Itu tidak mungkin," kata Nathan. "Tidak ada yang bisa membantuku dalam hal itu. Marie adalah satu-satunya misteri bagi ku. Apakah kau tidak tahu di mana dia? Dia tidak mengatakan apapun padamu sebelumnya?"


"Tidak! Tapi aku tahu kalau Dimitri pasti akan mengejarnya. Tapi aku sempat memberikannya alat pelacak yang kau berikan padaku tempo hari." kata Robert saat di langkah terakhirnya keluar dari rumah itu. Ia kini bisa merasakan udara segar yang menerpa kulitnya.


"Bagus, aku akan mencoba mencarinya dari sini melalui pelacak itu. Tunggu sebentar!" ujar Nathan kemudian.


Robert terus berjalan hingga berada cukup jauh dari rumah itu, sebelum kemudian dia meletakkan putrinya di atas rumput yang ada di bawah pohon. Jessica duduk tegak menyandar ke pohon dan Robert bergerak untuk memeriksa denyut nadi Jessica dengan jari.


"Kau harus berbaring," Robert berujar pada Jessica. "Kau pasti akan shock, Jessica."


Jessica mengangguk, putrinya itu lalu menarik napas dalam-dalam dan melakukan apa yang diperintahkan ayahnya kepadanya.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Robert?" ujar Nathan di sambungan telepon. "Bagaimana dengan Marie?"


"Dia," kata Robert menjeda kalimatnya. "Ada putriku di sini, Nathan. Apa yang harus kulakukan? Meninggalkannya di sini sendirian?"


"Tapi Marie, dia-"


"Pergi dan temukan Marie, ayah" ujar Jessica pada Robert.


Robert mendongak dan menatap mata anak gadisnya itu. Menggelengkan kepalanya pelan, seakan menolak. 


Jessica menatap Robert lekat, kemudian menganggukkan kepalanya mantap. "Kau harus menghentikan Dimitri, ayah."


"Tapi kau membutuhkan ayah di sini," jawab Robert.


"Marie saat ini lebih membutuhkanmu, ayah." kata Jessica. "Pergi saja...ayah...lakukan! Pergilah sekarang. Kau akan kembali sebelum ambulan datang dan membawaku. Aku tahu kau akan kembali."


"Aku akan tetap berhubungan dengannya. Aku akan terus mengawasinya dari sini."  Nathan berujar kemudian. "Aku sudah berhasil melacaknya. Aku menemukan lokasi Marie."


"Dimana dia?" ujar Robert, sementara kedua matanya terus menatap Jessica lekat.


"Pelacaknya menunjukkan kalau dia sedang ada di sebuah motel yang berada sekitar satu kilometer dari tempatmu saat ini." ujar Nathan. "Dia berada sangat dekat denganmu."


Robert kembali menatap Jessica.


"Pergi saja!" Jessica membentak dan Robert memberikan ponsel tadi pada Jessica, menekan jari-jari Jessica dengan erat pada benda itu.


"Ayah pasti akan kembali untukmu, Jessie" ujar Robert meyakinkannya. "Kau pegang kata-kata ayah. Tunggu ayah, akan segera kembali!"


"Aku tahu, ayah" jawab Jessica tersenyum kecil dan Robert kini menutup kedua matanya untuk beberapa saat.


Robert bisa merasakan dadanya yang terasa berat saat dia bangkit dan mulai mengejar Dimitri, meninggalkan Jessica sendirian di tempat itu.


***

__ADS_1


__ADS_2