
"Ah, Jessica,"
Nathan berujar kaget sesaat setelah dia membuka pintu depan rumahnya. Dia membuka pintu hanya dengan satu tangan sementara tangan yang lain di bantu sebuah penyangga yang di kaitkan di lehernya.
Saat ini Jessica tengah berdiri di depannya, sebuah tas baru tergantung di atas bahunya dengan kacamata bacanya yang menempel di pangkal hidungnya. Gadis itu mengepit sebuah majalah wanita di bawah lengannya dan sebuah kotak Macbook di tangannya.
"Hei," sapa gadis itu dengan nada yang lembut pada Nathan.
"Hei, Jessica... balas Nathan lagi.
"Kau memintaku membawa sesuatu yang cantik untuk di pakai, jadi aku melakukannya. Ah, aku juga membawanya di dalam tasku, sebuah gaun yang cantik, tapi aku mungkin perlu menyetrikanya dahulu. Boleh aku pinjam alat setrikamu." Jessica berujar panjang lebar.
"te-tentu saja," Nathan mengangguk, ia bicara agak tergagap. Sejujurnya itu mungkin karena dia merasa agak gugup sekarang, entah kenapa.
__ADS_1
Jessica lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Nathan sementara pemuda itu bergerak ke samping, memberi ruang gadis itu untuk melangkah. Setelah Jessica sampai di dalam, Nathan segera menutup pintu rumahnya kembali sambil menelan ludah dengan kasar.
Nathan sebenarnya merasa agak ragu untuk mengatakan apa yang dia rencanakan untuk Jessica hari ini. Ia juga tidak mendapat ide tentang apa yang akan dia katakan pada gadis itu atau bagaimana cara mengatakannya. Nathan tidak pernah mengajak seorang wanita jadi dia tidak tau caranya. Mereka berdua baru saja saling mengenal. Entah kenapa itu membuat Nathan juga merasa takut kalau ini akan terlalu cepat bagi Jessica untuk terlihat di depan umum bersamanya.
'Semoga saja tidak terlalu cepat baginya,' batin Nathan menghembuskan napasnya panjang, mencoba meyakinkan diri sendiri.
"Jadi apa yang terjadi?" Jessica bertanya-tanya, sambil meletakkan barang-barangnya di meja sarapan. "Kenapa kau memintaku membawa pakaian yang indah?"
"Begini... aku punya teman dari Oxford, tempat kuliahku dulu..." Nathan menjelaskan, sebelah tangannya memegang dadanya, merasakan sakit pada tulang rusuknya saat dia melangkahkan kaki ke meja sarapan dan bersandar di sana.
"Lalu..." Jessica menunggu kelanjutannya.
"Dan mereka tinggal di sini, di Indonesia sekarang... yah...kataku barusan mereka adalah teman...tapi sebenarnya, mereka hanya-lah kenalan. Ibuku selalu bilang kalau aku butuh teman. Aku sering tidak setuju dengan pendapatnya itu. Jadi aku tidak begitu menganggap mereka temanku."
__ADS_1
Nathan kemudian menggelengkan kepalanya, menyadari ceritanya yang sejak tadi entah kenapa terus menerus berputar-putar. "Ah, pokoknya, teman-teman ini... yah... aku mentolerir kehadiran mereka sesekali, dan mereka... mereka akan mengadakan pesta malam ini."
"Oke," gerutu Jessica. Ia tersenyum dengan raut bingung. Jessica agak bertanya-tanya sekarang apakah mereka berteman atau bukan. Dia tidak tahu. "Kurasa kau ingin pergi ke pesta kalau aku tidak salah menebak, begitu?"
"Yah, begitulah," keluh Nathan, menggosok leher belakangnya dengan senyum kaku . "Sebenarnya aku belum pernah pergi ke pesta selama tiga tahun terakhir. Ya, permintaan memaksa dari 'teman sebaya' terkadang agak mengganggu, jadi..."
"Aku mengerti," kata Jessica, bertanya-tanya berapa kali temannya mendesaknya untuk datang ke pesta. Beberapa kali dia juga pernah menolak ajakan dari temannya?
"Jadi, apakah kau?" Nathan bertanya-tanya, Nathan menggaruk lehernya sekali lagi. "sebenarnya aku tidak ingin menyeretmu pergi bersamaku, tapi aku akan senang jika kau mau ikut denganku pergi... maksudku... aku...yah...tidak pernah pergi bersama seorang gadis..."
"Tidak apa-apa, Nathan," ujar Jessica tersenyum padanya. "Aku akan menemanimu."
"Kau mau?"
__ADS_1