
"Saat ini John memang sedang merasakan sakit yang begitu parah di kepala karena pukulanmu itu. Ayah tebak kepalanya pasti bocor. Tapi itu jelas tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang telah terjadi padamu. Ayah akan memastikan kalau dia tidak akan selamat dari hukuman karena apa yang telah dia lakukan padamu sangatlah kejam. Saat ini dia sedang dipindahkan kembali ke penjara khusus di dalam organisasi."
Jessica tidak tahu harus berpikir apa saat dia mendengar itu. Dia telah memukul John dengan sangat kuat dan dia yakin bahwa dia telah membunuhnya.
Ya, sejujurnya Jessica berharap bahwa dia telah membunuh pria itu. Tapi apakah dengan pikiran seperti itu akan membuatnya terlihat seperti monster? Apakah itu membuat Jessica jadi seburuk John? Entah kenapa, dalam lubuk hatinya yang terdalam, Jessica sangat ingin membunuhnya. Ia ingin membalas atas apa yang telah pria itu lakukan pada ibunya. Tentu saja. Jessica tidak menginginkan apa pun selain balas dendam pada pria itu.
"Begitu rupanya," Jessica bergumam kepada ayahnya.
Jessica memejamkan matanya untuk sejenak. Ia bisa merasakan kepalanya yang berdenyut dengan kencang setelah semua yang baru saja terjadi padanya. Jessica merasa begitu kelelahan, tetapi dia tahu bahwa dia tidak akan bisa tidur. Dia tidak ingin kejadian itu akan datang ke mimpinya nanti.
Robert dan Jessica kini hanya diam. Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi sebelum akhirnya tirai ditarik kembali agar terbuka dan seorang perawat berdiri di sana dengan clipboard di tangannya.
"Nona Jessica," katanya, lalu memandang pada Robert. "Dan Anda?"
__ADS_1
"Robert Anderson," jawabnya, nadanya bicaranya terdengar singkat. "Aku adalah ayahnya."
Wanita itu mengangguk mengerti dan melihat kertasnya sebelum berjalan mendekat ke aarah mereka. Perawat itu berdiri di samping tempat tidur Jessica dan Robert memegang tangan putrinya, berusaha sebaik mungkin untuk menghibur gadis itu.
"Baik, Tuan Anderson," kata perawat itu sambil membaca papan di tangannya. "Putrimu beruntung bisa lolos. Tulang rusuknya tidak patah, tapi luka memar-nya parah. Dia punya luka memar di sekujur tubuhnya, tapi tidak terlalu parah. Jahitannya... yah... itu sangat-lah parah. Kita harus membersihkannya dan menjahitnya kembali. Dan sepertinya tidak ada tanda-tanda infeksi pada lukanya."
"Jadi... dia akan sembuh?" Robert memastikan.
Perawat itu mengambil waktu sejenak sebelum dia menyerahkan satu stel pakaian berwarn biru yang dia pegang di lengannya kepada Jessica. "Ini adalah pakaian rumah sakit. Bisakah kau mengganti pakaianmu dengan ini?"
"Apa kamu butuh bantuan?" tanya perawat itu lagi.
Jessica menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri," jawab Jessica pada perawat itu.
"Baiklah. Ayahmu dan aku akan berada di luar, menunggumu untuk berganti. Kau bisa memanggilku jika kamu tidak bisa memakainya nanti," kata perawat itu dan Jessica mengangguk.
Robert mengangguk, mengusap rambut gadis itu sebelum kemudian dia mengikuti perawat itu pergi ke luar dari ruangan. Robert berdiri bersama perawat itu di luar ruangan sebelum kemudian perawat itu menatapnya.
"Tidak ada perawat lain yang akan berbicara tentang situasi putri Anda, tuan." bisik perawat itu dengan suara yang bahkan nyaris tidak bisa didengar Robert. "Saya diminta untuk percaya bahwa ini semua adalah kasus tersembunyi untuk beberapa alasan yang tidak bisa diketahui."
"Yang terbaik seperti itu," Robert membalas padanya.
"Ya, mungkin saja," ujar perawat itu mengangguk dengan pelan. "tetapi saya bisa mengatakan kalau putri anda pasti menderita secara fisik dan juga mental. Ya, secara fisik dia pasti akan sembuh, tetapi ... saya bisa mendengar isak tangisnya sebelumnya. Dan ketika dia pertama kali masuk ke rumah sakit ini, dia terlihat begitu hancur. Jelas dia telah melalui banyak hal."
Robert tetap diam dan melihat ke dalam ruangan lagi. Robert menutup matanya menghela pelan kemudian kembali membuka matanya, menganggukkan kepalanya pada perawat itu. Dia tahu betul bahwa butuh waktu bagi Jessica untuk pulih kembali, terutama untuk mentalnya.
__ADS_1
***