
Jessica menggigit bibir bawahnya saat dia memeriksa jam pada pergelangan tangannya untuk yang kesekian kali. Ia merasa bosan untuk menunggu kabar apapun di sini.
Sementara itu, Evelyn terlihat tengah duduk di kursi cadangan yang berada di dekat meja Nathan.
Mengingat ini ruang kerja milik Nathan membuat Jessica jadi miris. "Saat ini Nathan dalam bahaya. Dia pasti ketakutan." gumamnya pada diri sendiri.
Jessica melihat sekeliling ruang kerja milik pemuda itu yang entah kenapa terlihat agak penuh namun masih tampak sangat rapi. Gadis itu juga memperhatikan bagaimana tidak ada yang tidak di letakan pada tempatnya.
Nathan memang diketahui merupakan pemuda yang memiliki kehidupan rapi. Semuanya bahkan tertata dengan baik dan teratur.
Jessica menolehkan pandangan pada Evelyn. Sejak tadi ia telah mencoba untuk berbasa-basi dengan gadis itu, tetapi dia merasa agak kesulitan. Jelas, karena Evelyn dan dirinya memiliki kepribadian dan latar belakang yang berbeda.
Selain itu, Jessica juga memiliki hal-hal yang lebih mengganggu pikirannya di banding harus mengobrol basa-basi.
"Apakah belum ada kabar apapun tentang ini?" tanya Jessica pada Evelyn penuh harap. Nathan dan ayahnya, keduanya begitu membuat dirinya khawatir saat ini.
Evelyn menggeleng lelah.
__ADS_1
"Belum ada kabar apapun dari mereka." jawab Evelyn.
Jessica menghela napasnya dan memilih untuk diam dan kembali menunggu kabar.
Barulah setelah pukul setengah sebelas malam ponsel milik Evelyn berdering.
Jessica yang sejak tadi duduk khawatir di atas kursi sontak saja mengangkat kepalanya ketika mendengar bunyi telepon itu dan menatap ke arah sekretaris Regina itu.
"Ya, baiklah. Oke. Tapi apakah mereka akan tetap mengawasinya? Apa kalian masih melacaknya sekarang? Baiklah. Aku akan memberitahunya."
Evelyn menutup telepon dan dia berdiri dengan tergesa-gesa. Mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas. Ia berhenti bergerak untuk beberapa saat dan menatap ke Jessica dengan pandangan seakan ingin meminta maaf.
"Apa?" bentak Jessica. "Dia membawanya? Bagaimana bisa?"
"Kami tidak tahu," Evelyn berbicara. "Ah, dan juga Nathan telah ditemukan. Dimitri membiarkannya keluar dari bagasi mobilnya dan membuangnya begitu saja ke pinggir jalan kemudian ia melanjutkan perjalanan, pergi bersama Robert."
"Ayahku pergi dengan sukarela?" Jessica bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," kata Evelyn. "Aku rasa kurang lebih begitu."
"Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia mau pergi dengan sukarela." Jessica berseru kesal dan di balas gelengan kepala oleh Evelyn.
Evelyn melanjutkan kegiatannya memasukkan barang, "Nathan sedang di rumah sakit sekarang. Sepertinya dia dipukuli."
Jessica yang terkejut setelah mendengar kalimat itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Mereka menyakiti Nathan?" seru Jessica kaget.
Evelyn sendiri sudah kembali bekerja dengan tergesa-gesa. Ia memasukan tangannya ke dalam kantong jaket kulitnya untuk mengambil kunci mobil.
"Regina meminta diriku untuk membawamu ke rumah sakit, menjenguk Nathan," ujar Evelyn. "Aku tidak tahu kenapa, tapi Nathan agaknya bersikeras agar kau dibawa ke rumah sakit. Sepertinya Mr. Robert meminta Nathan untuk memastikan kau untuk bersamanya di sana."
"Baik," jawab Jessica, suaranya kini terdengar terlalu bersemangat.
Jessica lalu ikut menyiapkan barang-barangnya. Dia kemudian berdiri dan menyampirkan blazernya di tangannya. Setelah itu Jessica bergerak dengan agak tergesa-gesa di belakang Evelyn saat mereka berjalan melewati koridor kantor organisasi.
__ADS_1
***