
Setelahnya, barulah pemuda itu mulai melakukan pekerjaan yang Robert minta darinya tadi. Ia mulai melacak lokasi dan juga keberadaan Robert dari alat pelacak yang sudah diaktifkan kembali oleh Robert.
Nathan tetap tenang saat jari-jari tangannya tengah fokus mengetik dengan cepat di keyboard di hadapannya. Ia berusaha melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh Robert.
Butuh beberapa saat sebelum akhirnya Jessica berbisik kepada Nathan.
"Mengapa orang itu sangat ingin mendapatkan Marie?" tanya Jessica.
Nathan berhenti bekerja beberapa detik kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Banyak alasan. Aku rasa salah satunya adalah karena dia ingin membunuh Marie. Entahlah!" Nathan menggedikkan bahunya.
"Ya, tapi kenapa? Apa alasannya?" Sejujurnya, Jessica merasa sangat penasaran dengan ini sejak tadi.
Nathan kembali menghentikkan pekerjaannya sebentar. Ia memejamkan kedua matanya, menarik napasnya dalam-dalam baru kemudian menghembuskannya perlahan. Ia lalu membuka kembali matanya dan menoleh pada Jessica.
"Ada cerita lama tentang ini."
__ADS_1
"Cerita lama?"
"Ya, Dimitri adalah salah satu agen kami. Dan saat itu Marie pernah 'menukar' Dimitri dengan lima agen lain yang harus di selamatkan dari penyandraan. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Ceritanya bahkan terlalu panjang untuk di ceritakan." kata Nathan padanya.
Nathan diam untuk beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya, "Tapi aku pikir saat itu Dimitri pasti merasa kalau dirinya sudah dikhianati oleh Marie. Tapi banyak sekali laporan dari para agen lapangan yang mengatakan kalau saat itu Dimitri selalu mengerjakan pekerjaannya dengan cara yang terlalu…yah ... sembrono ..."
"Sembrono?"
Nathan menganggukkan kepalanya. "Yah, kau bisa menyebutnya begitu. Tapi aku merasa saat itu Marie hanya melakukan apa yang harus dia lakukan sebagai atasan."
"Kedengarannya agak kejam," komentar Jessica sedikit sinis. "Tidak heran dia begitu marah pada Marie."
Jessica mengambil selimut yang ada di atas kursi. Dia menyampirkan selimut itu di bahunya lagi sambil melihat pada Nathan yang sedang bekerja. "Ke mana ayahku pergi?"
"Aku akan mencaritahu dan memberitahumu sesegera mungkin setelah aku mengetahuinya," Nathan berjanji pada Jessica. Ia lalu mengalihkan pandangan matanya yang tertutup kacamata untuk menatap Jessica.
Menganggukkan kepalanya, Jessica melihat kembali ke Nathan, tidak terlalu yakin mengapa pria muda itu menatapnya dengan matanya yang lebar.
__ADS_1
"Kau memiliki penampilannya. Maksudku, penampilan dari Robert Anderson." Nathan tiba-tiba berujar dengan senyuman kecil di bibirnya. "Aku bisa melihat dengan jelas bahkan hampir seperti aku sedang melihat dua Robert sekaligus sekarang."
"Aku pikir matamu salah lihat." Jessica membalas dengan senyuman sinis dan Nathan menyeringai.
"Kenapa?" balas Nathan.
"Ya, itu karena hampir semua orang selalu mengatakan kalau aku sangat mirip dengan ibuku."
"Tidak, aku justru melihat gambaran Robert padamu. Dan menurutku itu lebih cocok untukmu." ujar Nathan.
Jessica tidak tahu apakah perkataan Nathan itu adalah sebuah pujian atau justru penghinaan. Jessica memilih menggelengkan kepalanya lalu memutuskan untuk mengabaikannya saja dan kembali menonton Nathan yang bekerja.
Nathan terlihat berbalik dan berpindah ke meja yang ada di belakangnya untuk melihat pada laptop Dimitri, tetapi pemandangan ngeri yang dia lihat di bagian belakang ruangan membuatnya terkejut setengah mati.
"Jessica!"
Nathan berseru dan berbalik ke arah Jessica, memeluk dan menundukkan tubuh mereka saat tiba-tiba saja suara tembakan menghujani ruangan itu.
__ADS_1
***