
"Jadi apa tujuannya?" tanya Robert saat Dimitri melajukan kendaraannya di jalan raya yang malam hari itu. Pria itu tampak tenang setelah dia memberi tahu Robert apa yang ingin dia lakukan. "Kau sudah memberitahuku bahwa kau berniat meledakkan gedung organisasi."
"Ya aku pikir ada beberapa cara untuk membuatmu bersedia ikut denganku dan itu adalah salah satu caranya." jawab Dimitri sambil bersandar lebih jauh ke sandaran kursinya. "Itu karena aku yakin kau akan mau ikut jika aku mengatakan itu. Memangnya kau akan bersedia ikut denganku kalau aku tidak mengatakan hal seperti itu?"
"Jelas tidak," jawab Robert.
"Ah, kau perlu belajar untuk mendeteksi pembohong, karena kau sangat mudah di bohongi. Apalagi yang berhubungan dengan anakmu." kata Dimitri, decakan kecil keluar dari bibirnya saat dia mengatakan itu.
Robert menaikkan sebelah alisnya, menatap Dimitri, "Kau membohongiku?"
Dimitri tergelak. "Ayolah Robert, tidak ada bom di bawah gedung organisasi. Aku tahu kalau kau pasti meninggalkan putrimu di sana. Cara apa yang lebih baik untuk membuatmu menuruti perintahku selain mengancammu kalau aku akan menyakiti putrimu jika kau tidak mau ikut denganku?"
Robert mengerang pelan dan menggelengkan kepalanya menatap Dimitri sinis, "sial, kau membuang waktuku dengan ini."
"Aku bahkan membuat sistem aktivasi palsu di depan Nathan hanya untuk membuat segala kebohongku lebih bisa dipercaya." komentar Dimitri, ia terlihat bangga pada perbuatannya sendiri.
__ADS_1
"Sangat pintar," Robert berkomentar untuknya.
"Aku suka berpikir bahwa aku memang pandai," kata Dimitri dengan seringai kecil. "Sekarang, kau pasti bertanya-tanya ke mana kita akan pergi. Aku tahu bahwa kau penasaran."
"Itu memang terlintas di benakku," Robert mengakui kepadanya. "Aku penasaran kemana pengkhianat ini akan membawaku."
Dimitri tetap diam, ia membelokkan mobilnya di sebuah tikungan sementara Robert melihat ke luar jendela. Dia tenang, sangat tenang. Ah, sejujurnya dia melakukan yang terbaik agar terlihat tenang. Ia tidak ingin terlihat tertekan pada situasi yang dia alami saat ini. Maksudnya, tentu saja dia merasa sangat khawatir. Robert akan berbohong jika dia mengatakan tidak. Tapi yang perlu dia lakukan adalah tidak akan pernah membiarkan kegugupan dan rasa khawatirnya terlihat oleh Dimitri.
"Sejujurnya aku tidak tahu," Dimitri terkekeh pada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin berbicara denganmu tanpa ada orang lain yang mendengarkan. Ya, apakah kau melihat betapa mudahnya bicara tanpa kabel? Maksudku adalah... aku tidak ingin ada yang perlu tahu tentang hal ini."
"Kau sudah mengambil kabel penyadapnya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang kita bicarakan saat ini," jawab Robert perlahan. "Ya, meskipun aku berniat untuk keluar dari semua ini secara hidup-hidup. Dan setelah itu aku akan memberitahu atasanku apa yang baru saja kita bicarakan."
"Kau tidak bisa menyalahkanku karena itu adalah kecerobohanmu sendiri," jawab Robert membela diri sendiri. "Jadi apa motifnya sekarang? Apa yang kau inginkan dariku?"
"Kenapa harus ada motif?" tanya Dimitri menaikkan sebelah alisnya. "Sejujurnya, aku justru berharap kau percaya padaku, Robert."
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, tapi rasa percaya itu sudah hilang ketika kau meledakkan kereta api waktu itu." Robert menggedikkan bahunya
"Baiklah! Aku benar-benar minta maaf untuk itu," kata Dimitri. "aku tahu bahwa kau akan mengetahuinya. Tentu saja, Nathan akan memberi tahumu. Dia benar-benar menyukai putrimu itu. Kau tau? Aku bahkan memeriksa riwayat internet pemuda itu. Dan aku harus mengatakan bahwa halaman Facebook putrimu lebih sering muncul daripada mencari informasi tentang diriku."
"Ck, aku memang tau dari Nathan. Tapi bagaimana kalau jika kami tidak turun dari kereta?" Robert bertanya-tanya dengan sinis. "Dan apakah kau tahu berapa banyak orang yang mati karena ulahmu?"
"Sekitar tujuh puluh satu menurut hitunganku," kata Dimitri santai, bahkan tanpa ragu sedikit pun. Dia terlihat menyesuaikan tangannya pada kemudi dan dengan cepat melirik ke samping untuk melihat Robert. "Aku entah bagaimana harus mendapatkan perhatian dari organisasi. Apa cara yang lebih baik untuk melakukannya selain mencoba membunuh agen terbaik mereka?"
Robert mengambil beberapa saat untuk bergeser di tempat duduknya. Dimitri tetap diam selama beberapa detik, menunggu Robert berbicara lebih dulu. Tak ada tanggapan dari Robert akhirnya Dimitri kembali bicara.
"Ya, intinya aku ingin mendapat perhatian mereka lagi," kata Dimitri. "Aku ingin mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah bisa menangkapku. Aku ingin mereka berhenti mencoba. Ya, lagipula mereka juga tidak akan pernah menang. Tapi ternyata mereka tetap saja mengejarku dan aku tahu mereka akan terus mengirimmu untuk mengejarku. Rupanya aku memang di cap sebagai buronan, meskipun aku juga adalah mantan agen."
"Dari mana kau mendapatkan ide itu?" Robert bertanya, nada suaranya terdengar sinis. "Mereka jelas tidak akan meninggalkanmu sendirian. Meskipun kau berhasil lolos, kau juga akan terus di kejar."
"Mereka akan melakukannya. Mereka akan terus berusaha untuk mengejarku, aku tau itu." jawab Dimitri masih terdengar santai. "Ngomong-ngomong, aku menikmati serunya permainan kucing dan tikus denganmu, Robert. Pengejaran di kereta bawah tanah waktu itu adalah salah satu favoritku."
__ADS_1
"Begitu juga aku" jawab Robert, suaranya terdengar tidak tulus.
Dimitri kembali diam, ia menatap jalanan di depannya sambil terus menyetir.