
Sudah beberapa waktu berlalu setelah mereka kehilangan kabar dari Robert. Jessica tak mengatakan apapun setelah mengetahui ayahnya tak dapat dihubungi sama sekali.
"Apa belum ada kabar dari ayahku?"
"Nihil."
"Dia tidak menghubungimu?"
Nathan menggeleng, "Dia juga belum menghubungi aku."
"Apa dia sering hilang tanpa kabar seperti ini?"
"Ya, aku bisa mengatakan begitu. Tapi biasanya tak selama ini."
"Jadi, apa menurutmu ayahku baik-baik saja?" Jessica bertanya ragu.
Nathan diam sebentar sebelum menjawab, "Aku juga tidak tahu kenapa tapi ayo kita berharap yang baik-baik saja."
__ADS_1
Jessica menganggukkan kepala, mencoba memahami kalimat Nathan. Ia tahu Nathan juga tidak bisa memastikan kondisi ayahnya, jadi untuk saat ini ia memilih duduk diam saja.
Ini sudah menunjukkan waktu pulang kerja. Suasana mulai sepi karena para pekerja yang ada di belakang Nathan satu-persatu mulai terlihat membubarkan diri.
Mereka berdua hanya bisa melihat kepergian para pekerja itu dan tak dapat berbuat apa-apa. Mereka juga tak bisa menahan kepergian para pekerja itu sampai mendapatkan kabar dari Robert karena saat itu jam memang sudah menunjukkan waktu untuk pulang kerja.
Selain itu beberapa dari mereka memang menghindari kemacetan lalu lintas jam pulang kerja yang akan membuat mereka sampai di rumah pada malam hari. Dan beberapa lainnya memilih tidak tinggal karena mereka memang tak menandatangani kontrak kerja untuk jam lembur.
"Bos, apa kau mau aku menemani kalian di sini?" Gerry mendekat pada Nathan.
Nathan menggeleng, "Tidak masalah, kau bisa pulang! Lagipula kau bukan pegawai tetap di sini. Kau juga tidak menandatangani kontrak kerja lembur, kau tidak akan di bayar jika bertahan di sini."
Nathan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. "Ya, kau pergilah!"
Gerry mengangguk dan kembali ke mejanya untuk membereskan barang-barangnya. Setelah itu barulah Gerry pamit pada Nathan dan meninggalkan ruangan itu.
"Dia karyawan magang?" tanya Jessica.
__ADS_1
"Begitulah." Nathan mengangguk, "aku adalah tutornya sebelumnya. Itu sebabnya dia sering bertanya apapun padaku terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu."
Jessica mengangguk mengerti. Ia lalu menundukkan kepalanya, menatap pada jari-jarinya. Jessica kembali teringat ayahnya. Sudah setengah hari ini ayahnya menghilang tanpa kabar sama sekali.
Nathan melihat Jessica yang saat ini terus duduk dengan gelisah, dia pasti menunggu kabar terbaru dari sang ayah. Nathan menghela napasnya, ia juga tak tau harus berbuat apa saat ini. Ia sudah mencoba melacak keberadaan Robert, tapi pria itu juga mematikan alat pelacaknya.
Nathan melihat Jessica yang tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Kau mau kemana?"
"Aku ingin ke kamar mandi, sebentar." jawab Jessica lalu melanjutkan langkahnya, berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Dia akan baik-baik saja, kau tahu itu," Nathan akhirnya berujar, mencoba untuk memberitahu Jessica saat gadis itu kembali setelah membasuh wajahnya.
Jessica tersenyum pahit sambil menganggukkan kepalanya pelan. Sejujurnya, Jessica tau kalau saat ini ia harusnya berpikiran positif, tapi ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan sendiri aksi ayahnya. Dan entah kenapa ia hanya merasa tidak terlalu yakin apakah dia harus setuju dengan ucapan Nathan itu atau tidak. Dalam hati, Jessica tahu kalau Nathan pasti hanya sedang mencoba menghiburnya sekarang.
Jessica menyisir rambutnya kebelakang telinganya dengan jari sambil memasang raut frustasi dan detik setelahnya Nathan dengan tiba-tiba mendengar sinyal dari Robert yang muncul kembali.
"Nathan apa kau dengar?" seru Robert dari speaker.
__ADS_1
"Itu ayahku!" Jessica berseru pada Nathan.