Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
70


__ADS_3

"Jadi apakah kita akan aman setelah ini?"


Robert mengangguk mengiyakan, "ayah bisa menyebutnya seperti itu."


"Kita akan lebih aman dari gedung organisasi?" tanya Jessica lagi, memastikan. Jessica mengingat gedung organisasi tempatnya berlindung sebelumnya, yang ayahnya sebut akan aman untuknya, tapi nyatanya?


Robert diam untuk beberapa saat.


"Ayah akan mengusahakannya." jawab Robert seadanya.


Jessica memutar bola matanya. Jadi mereka tidak akan lebih aman dari gedung organisasi itu? Lantas kenapa ayahnya malah membawanya jauh-jauh ke Yogyakarta seperti ini.


Robert dan Jessica kini sedang dalam kereta yang menuju ke tempat tujuan mereka. Jessica meringkuk di kursi sambil bersandar pada lengan ayahnya. 


"Ayah juga akan mengusahakan dimana pun ayah berada. Lantas kenapa ayah memilih Yogya sebagai tempat berlindung."


Robert hanya bisa menghela nafas saat melihat tingkah putrinya.


"Aku tidak seharusnya memberitahumu," gumam Robert padanya. "sejauh ini ayah punya Nathan yang bisa melacak kita. Dia akan memastikan kita dalam keadaan aman. Juga, sudah ada beberapa agen BIN di Yogya."

__ADS_1


Alis Jessica berkerut. Ia tampak berpikir untuk beberapa saaat. Dia menutup majalah yang ada di depannya dan memandang ayahnya. Bola matanya tampak melebar saat dia menatap sang ayah.


"Jadi, ini apa?" dia memeriksanya dan dia mengangguk.


"Anggap saja itu sebagai perlindungan ganda untukmu," kata Robert. "Regina telah bersumpah padaku untuk menjaga kerahasiaan tentang masalah ini. Jadi ayah tidak bisa cerita banyak padamu, kau ikuti saja."


"Tapi aku putrimu," Jessica mengingatkannya saat dia menyesap minuman miliknya. Jessica menegakkan posisinya dan menyilangkan satu kaki di atas yang lain. "Bukankah aku punya hak untuk mengetahuinya?"


"Aku tidak ingin membuatmu merasa cemas dan khawatir, Jessica," jawab Robert, suaranya rendah dan terkendali.


Jessica menggelengkan kepalanya dan memejamkan mata, tangannya bertumpu pada dahinya, memijitnya pelan.


Robert tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Ia memilih untuk tetap diam dan tak menanggapi omelan anak gadisnya itu.


"Kau harus berhenti menyembunyikan sesuatu dariku, ayah." desak Jessica padanya. "Aku ini sudah berumur dua puluh tahun, Ayah. Maksudku, aku ini bukan anak kecil lagi."


Robert mengusap bagian belakang lehernya canggung, sedikit rasa malu menghampirinya ketika dia mendengar putrinya berbicara. Jessica masih menatapnya saat tangan Robert menarik jasnya yang agak kumal dan merapikannya di tubuhnya.


"Bisakah ayah setuju dengan ku tentang itu?" Jessica memastikan. "Aku mengerti bahwa ayah tidak ingin membuatku khawatir. Dan aku juga tidak ingin khawatir, percayalah padaku tentang itu. Tapi ... jika aku harus khawatir maka tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada kau menyembunyikan sesuatu dari aku, ayah."

__ADS_1


"Aku mengerti," Robert meyakinkannya, tidak terlalu yakin berapa banyak omelan yang bisa dia terima dari anak gadisnya itu. Dia mengangguk pada Jessica dan menyandarkan punggungnya kembali di kursinya. Robert menyisir jari tangannya ke rambut Jessica sebelum kemudian dia mendengar suara yang familiar datang dari tas anaknya.


"Mungkin itu ibumu," kata Robert padanya.


"Kuharap begitu," gumamnya, meraih iPhone dan menatap si penelepon. Dia tidak mengenali nomor itu karena muncul sebagai nomor tidak dikenal. Dia melihat ke ayahnya, mengulurkan telepon kepadanya dan Robert mengangguk.


"Nomor tidak dikenal," komentar Robert. "Ponselmu adalah satu-satunya ponsel yang kita miliki saat ini."


"Di mana ponsel ayah?" Jessica bertanya-tanya, masih menatap layar ponselnya.


"Hancur," kata Robert. "Tapi siapa ini? Satu-satunya orang yang bisa meneleponmu adalah Nathan."


"Atau mungkin 'dia'," Jessica berkomentar juga.


"Atau Dimitri," Robert menganggukkan kepalanya. "Kau tidak akan tahu sampai kau mengangkatnya."


Jessica menghela nafas ketika dia merasakan kereta itu masih bergerak. Dia melihat ke luar jendela saat dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan itu. Dia menempelkan telepon ke telinganya.


"Jessica, syukurlah."

__ADS_1


"Nathan?"


__ADS_2