
Saat ini Nathan tengah duduk bersandar di kursi penumpang mobil Robert, duduk tepat di sebelah pria paruh baya itu. Mereka mendapat mobil pinjaman dari organisasi sesaat setelah sampai di Indonesia. Mobil itu kini terlihat tengah melaju keluar dari area bandara.
Jessica berada di kursi belakang dengan jaket ayahnya yang berrguna untuk menutupi gaun musim panasnya yang terlihat agak rusak. Sejujurnya, Jessica tidak punya pakaian lain untuk diganti dan Robert tidak punya banyak waktu meninggalkannya untuk membeli beberapa pakaian.
Sementara Nathan, walaupun pria muda itu sempat menawarkan untuk membantu membelikkan pakaian baru, tapi waktunya memang tak cukup untuk mencari pakaian baru karena mereka harus mengejar keterlambatan pesawat.
Nathan yang sejak tadi menatap pada layar laptop di tangannya, menoleh pada Robert yang ada di sebelahnya.
"Sayang sekali, mereka kehilangan Dimitri di tengah malam. Dia berhasil kabur, lagi!" kata Nathan kepada Robert saat mereka masih dalam perjalanan. Nathan menjaga nada suaranya tetap rendah, lalu berbalik untuk memastikan kalau dia tidak membangunkan Jessica dari tidurnya. Nathan menoleh ke bawah, melihat pada kaki gadis itu. Dan saat itulah, Nathan bisa melihat perban putih yang menempel di kaki gadis itu.
"Bagaimana mereka bisa kehilangan dia?" Robert menjawab, sementara kedua matanya masih fokus pada jalanan di hadapannya, "Bagaimana mungkin hal konyol seperti itu bisa terjadi?"
"Dia sama pintarnya dengan mereka. Dia pernah menjadi anggota kita, kalau kau lupa. Itu sudah jelas membuatnya tahu permainan apa yang akan kita lakukan. Bahkan jika dia ingin tidak terlihat maka dia bisa melakukan hal itu dengan mudah." ujar Nathan kepada Robert.
"Ck, salah satu alasan dia selamat adalah... karena dia memiliki beberapa teknologi yang bisa membantunya. Dia sempat mencuri beberapa alat penting kita."
Nathan mengangguk, "ya, itu bantuan terbesarnya. Aku bisa mengatakan, teknologi jauh lebih pintar daripada senjata."
"Tapi pada akhirnya itu pasti akan menjadi senjata yang membunuh Dimitri" kata Robert sinis.
"Jadi apakah itu cara yang kau pilih untuk membunuhnya?" Nathan memastikan tebakannya pada Robert.
__ADS_1
"Itu adalah teknologi milik organisasi kita. Bukan milik Dimitri. Jadi hanya kita yang bisa mengakhirinya. Dan kau akan mencaritahu dimana jejak semua alat yang Dimitri gunakan itu."
Nathan menoleh pada Robert. "Kau tahu jelas bahwa kau hanya bisa membunuhnya jika dia melakukan kesalahan atau mencoba melawan saat penyergapan, bukan? Dan jika kau berhasil menangkapnya maka itu artinya sudah jelas kalau kau tidak bisa membunuhnya."
"Kalau begitu aku tidak akan menangkapnya," jawab Robert saat Jessica tiba-tiba saja mengerang dalam tidurnya. Robert diam sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak perlu menangkapnya agar aku bisa menghabisinya."
Nathan menoleh untuk menatap pada Robert beberapa saat, sebelum kemudian dia berbalik untuk menatap Jessica. Dan saat dia memperhatikan gadis itu, Nathan menyadari kalau jaket yang Jessica kenakan terjatuh dari pangkuannya.
Nathan kemudian bergerak untuk menarik kembali jaket itu dan mengenakannya kembali pada Jessica, ia menutupnya hingga ke dagu dari gadis itu.
"Kau bisa melakukan sesukamu," ujar Nathan berbalik. Ia lalu menghela napas dan memperbaiki posisi duduknya di kursi. Nathan perlahan merasa tubuhnya kini mulai mati rasa setelah duduk begitu lama di pesawat di tambah dengan di mobil saat ini.
Nathan tetap diam di posisinya ketika Robert melihat ke arahnya dan menatap Nathan dengan pandangan heran sekaligus curiga. Nathan sendiri tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Ia memutuskan untuk tetap diam karena dia merasa kalau Robert tengah mengawasinya saat ini.
"Maksudmu?" Nathan melirik sekilas pada Robert.
"Kau menunjukkan sisi dewasamu yang 'galak', begitukah harusnya aku menyebutnya?" Robert menatap Nathan dengan agak sinis. Apa itu sebuah sindiran?
Nathan kembali mengeluarkan helaan napas dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Maksud dari kalimat 'lakukan sesukamu' adalah... kau memiliki hak melakukan apapun yang kau inginkan. Aku tak berhak melarang apapun." ujar Nathan mencoba menjelaskan kata-katanya.
Robert hanya diam, ia tidak begitu berniat untuk menanggapi penjelasan pemuda itu. Merasa tak ada tanggapan dari Robert, Nathan menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung.
__ADS_1
"Tapi aku hanya berpikir kalau Jessica mungkin saja tidak akan setuju jika kau sampai harus membunuh Dimitri. Apalagi ketika pria itu bisa lebih jauh lebih menderita jika dia berada di balik jeruji besi. Maksudku, aku tidak berpikir Jessica akan merasa nyaman kalau sampai mengetahui bahwa kau… membunuh orang."
"Ini adalah pekerjaan ku," jawab Robert tegas, ia bahkan terkesan tak peduli. "Jessica pasti akan mengerti itu. Lagipula sejak kapan kau tahu apa yang dipikirkan oleh putriku?"
"Tidak," Nathan menggelengkan kepalanya kemudian berujar pasrah pada Robert. "Aku hanya mengatakannya sebagai saran kecil, Mr. Robert. Aku tidak bermaksud apa-apa padamu. Dan aku juga tidak memintamu melakukan apa yang aku katakan"
Robert tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Saat ini ia justru lebih memilih untuk mengubah topik pembicaraan.
"Aku merasa kalau aku tidak lagi bisa meninggalkan Jessica di apartemen pribadi ku. Dan aku juga tak bisa meninggalkannya di flat ku, itu akan berbahaya." Robert memberi tahu Nathan. "Tapi aku tidak punya tempat untuknya bersembunyi lagi. Dan setelah ini aku harus pergi untuk melihat atasan kita yang baru. Aku hanya tidak merasa nyaman membawa Jessica bersamaku jika Dimitri masih mengawasi."
"Lalu di mana kau berniat untuk meninggalkannya setelah ini? Di apartemenku?" Nathan bertanya dengan nada bercanda di sertai tawa kecil. Namun alisnya berkerut saat menatap Robert yang saat ini juga tengah menatapnya. Ia bisa melihat jelas tatapan sinis di wajah pria tua itu.
"Ide bagus, Nathan," kata Robert dengan seringaian di wajahnya. "Aku pikir itu adalah salah satu tempat teraman untuk Jessica, kalau boleh jujur. Dimitri tidak tahu di mana kau tinggal. Dan dia juga tidak akan curiga bahwa Jessica akan tinggal bersamamu. Dimitri pasti tidak akan berpikir kalau aku akan meninggalkan Jessica sendirian sekarang."
"Ya, kurasa," kata Nathan dengan nada malas.
"Kau tidak suka?" tanya Robert tanpa basa basi.
Nathan menggeleng dengan cepat, matanya menatap ngeri pada pria tua itu. "Ah, bukan. Maksudku adalah, aku tidak mungkin keberatan jika kau membawanya ke tempatku tinggal, sementara kau pergi untuk bertemu atasan baru kita. Aku… aku bisa bekerja dari rumah." ujarnya ketakutan.
"Bagus kalau begitu," gumam Robert sambil memperbaiki posisi duduknya. Kemudian ia memilih untuk kembali memfokuskan perhatian pada stir mobil selama sisa perjalanan.
__ADS_1
***