Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
23


__ADS_3

Helaan kesal keluar dari mulut Jessica saat dia selesai mendengar percakapan itu. Ia menatap tajam ke arah pintu tempat Marie keluar barusan.


"Apakah aku bahkan tidak diizinkan ikut berbicara untuk keperluan diriku sendiri?" ujar Jessica pada Nathan dengan nada nyaring. Ia merasa agak kesal sekarang.


Sementara itu Nathan hanya menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Bagaimana jika aku tidak ingin tinggal di sini sepanjang malam? Kenapa tidak ada yang bertanya tentang pendapatku?" lanjut Jessica.


"Ya, aku pikir untuk saat ini kau bahkan tidak punya pilihan lain selain menurut," kata Nathan yang hanya bisa menggedikkan bahunya pada gadis itu sebagai tanggapan. "Kau juga masuk dan terlibat dalam kekacauan yang terjadi saat ini."


"Lalu bisa aku tau siapa yang sudah melakukan itu pada Macbook ku? Jadi apa benar itu ulah dari seseorang?" tanya Jessica pada pemuda itu.


"Aku tidak sepenuhnya yakin dengan itu. Aku tidak tau siapa yang sudah melakukan itu, tapi sepertinya aku bisa mengatakan padamu kalau kita akan mengetahui apa penyebab sebenarnya dari semua ini." jawab Nathan.


"Ya ampub," keluh gadis itu.


Nathan kemudian menarik kursi dari salah satu meja kantor yang ada di dekatnya. Ia kemudian berjalan ke arah meja lain dan kembali mengambil kursi yang lainnya dari tempat itu. Ia menarik kedua kursi itu dan meletakkannya tepat di dekat mejanya.


Nathan menyodorkan salah satunya pada Jessica.


"Ini kursi untukmu. Duduklah dahulu! Untuk saat ini alangkah lebih baik kalau kau duduk saja dulu, cobalah untuk tenangkan dirimu." ujar Nathan kemudian dia memilih untuk duduk di kursi itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jessica padanya.


Nathan menunjuk komputer dengan dagunya. "Aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk mencari tau bagaimana pesan ancaman ini bisa masuk ke Macbookmu."


Jessica kemudian mengangguk dan memilih melakukan apa yang Nathan katakan padanya barusan. Ia menarik tempat duduk yang Nathan berikan padanya beberapa saat lalu dan memposisikan benda itu tepat di sebelah Nathan barulah kemudian mendudukan dirinya sendiri pada benda itu.

__ADS_1


Diam-diam Jessica menatap pria muda di depannya itu lekat.


"Apakah itu benar?" Jessica bertanya bertanya-tanya pada Nathan. Kali ini Jessica melakukan sebisanya untuk menahan dirinya, mencoba untuk terdengar lebih tenang dari dirinya yang sebelumnya.


"Apa yang benar?"


"Semuanya… maksudku ... apa benar kalau ayahku adalah seorang agen mata-mata yang bekerja untuk pemerintah?"


"Ya, kita bisa menyebutnya begitu," Nathan menganggukkan kepalanya, mencoba untuk kembali meyakinkan Jessica.


Nathan lalu menghentikkan kegiatan tangannya pada keyboard komputernya dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arah gadis muda itu.


"Sekarang coba kau katakan padaku karena aku penasaran. Apakah selama ini kau bahkan tidak pernah merasa curiga tentang pekerjaan ayahmu?"


"Kenapa aku harus merasa curiga dengan itu? Aku bahkan tidak punya alasan untuk hal itu?" tanya Jessica terdengar protes.  "Maksudku... dia adalah ayahku, jadi aku..."


"Tapi tetap saja. Mau bagaimana pun, ini semua sudah membuatku merasa sangat terkejut dan juga merasa begitu terpukul. Ya, aku tidak berharap dia akan selalu jujur padaku tentang banyak hal. Tapi... menjadi mata-mata? Serius? Bahkan itu terasa agak tidak nyata bagiku. Itu hanya ada di drama-drama dan tontonan masa kecilku saja."


"Kau berpikiran begitu?" Nathan tersenyum miring, ia nyaris tertawa mendengarnya.


"Selama ini aku memang berpikir kalau itu hanya ada di drama."


"Ya, aku bisa mengatakan kalau mereka memang ada, Jessica" Nathan meyakinkan Jessica dengan senyum kecil di wajahnya.


"Ya, seandainya pun ada, tapi kau tentunya tidak akan sampai berpikir bahwa ayahmu sendiri-lah yang menjadi mata-mata itu bukan," sindir Jessica sinis.


"Bayangkan, jika tiba-tiba saja seorang pembunuh tiba-tiba datang padamu menembakkan sesuatu padamu dengan tujuan utamanya adalah untuk mencari ayahmu yang ternyata adalah seorang mata-mata? Ini seperti adegan yang ada di dalam film-film bukan?" lanjut Jessica sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, kau memang benar," Nathan menjawab setuju. Ia lalu kembali memutar tubuhnya ke arah komputernya dan menekan keyboard yang ada di depannya dengan jarinya yang cepat. "Namun, harus aku akui bahwa dia melakukan bertahun-tahun penipuan padamu dengan cukup baik. Dia berhasil menipumu. Lihat, kau bahkan tak menyadarinya selama ini."


"Ya, itu karena aku tidak ada di sini. Aku tidak ada di sini untuk mendapatinya saat dia mencoba menipuku. Aku tinggal di Singapura, kalau kau tidak tau." jawab Jessica tajam membalas ucapan Nathan dan senyum sinis terlihat muncul dan menghiasi wajah Nathan. 


"Benar juga." Nathan mengangguk acuh.


"Aku belum tahu apa yang harus kupikirkan tentang semua ini sekarang. Dan tentang orang-orang yang mencoba untuk membunuhku tadi... itu benar-benar membuatku terkejut dan juga takut..."


"Kita akan segera mencari tahu siapa yang sudah dengan berani melakukan ini padamu..." Nathan berjanji pada Jessica. "... tapi Macbook mu ini bahkan tidak memberi aku banyak bantuan. Aku agak kesulitan karena sistemnya terus mengubah alamat IP, dan-


"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan saat ini," Jessica dengan cepat memotong ucapannya. Ya, dia mana mengerti maksud ucapan Nathan barusan. Itu kan sama sekali bukan bidang pendidikannya.


Ah, benar juga. Dia tidak mungkin tau apalagi mengerti apa maksud ucapanku. Batin Nathan.


"Ya, singkatnya. Siapa pun yang melakukan ini, dia bahkan tidak meninggalkan jejak ramahan roti untuk membawa ku kepadanya," Nathan mencoba untuk memberitahu Jessica, kali ini dengan kalimat yang terdengar lebih sederhana.


"Begitu rupanya." Jessica mengangguk mengerti.


Nathan menghela napasnya pelan, kemudian mematikan Macbook milik Jessica. "Ini agak menyebalkan." gerutu Nathan.


"Jadi apakah tidak ada yang bisa kau lakukan?" Jessica bertanya.


"Oh, sebenarnya ada banyak hal yang bisa aku lakukan," Nathan berujar padanya. "Ini adalah keahlianku. Dan aku tidak di rekrut bekerja di sini untuk menyerah dengan mudah."


Jessica tersenyum kecil sambil menatap Nathan. "Baguslah!" ujarnya pada lelaki muda itu.


Nathan balas tersenyum dan kembali melakukan pekerjaan di komputernya. Keadaan hening karena Nathan sibuk dengan pekerjaannya sementara Jessica hanya diam memperhatikan pekerjaan pria muda itu.

__ADS_1


***


__ADS_2