
"Luka bakarnya cukup parah Mr. Anderson. Dan saya agak khawatir untuk mengatakannya."
"Mengatakan apa, Dok?"
"Kondisi kakinya, saya pikir ini tidak akan baik."
"Begitu rupanya" Robert menghela napasnya panjang setelah mendengar sedikit penjelasan itu.
Setelah berhasil melalui masa-masa sulit bersama putrinya, Robert saat ini tengah berdiri di tengah koridor, tepat di depan pintu dari ruangan rawat anaknya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan jari-jari tangannya memijit dagunya.
Robert berdiri dalam diam. Lelaki paruh baya itu mencoba untuk memperhatikan dan mendengarkan dengan serius saat lelaki di depannya itu berusaha menerangkan kondisi anaknya dengan menggunakan bahasa inggris, sambil terus membaca sesuatu dari clipboard-nya.
Sembari mendengarkan ucapan sang Dokter, sesekali Robert mengintip ke dalam ruangan tempat anak gadisnya itu dirawat. Untuk beberapa saat hatinya terasa trenyuh saat melihat gadis itu yang sedang tidur dengan nyenyak sekarang.
__ADS_1
Semakin dokter itu menerangkan, semakin hatinya merasakan sakit.
"Dia diberi suntikan karena lukanya cukup terbuka, yang berarti itu akan menjadi sangat rentan terhadap infeksi. Kami sudah mengobatinya dan juga membalut lukanya." terang dokter itu lagi.
Robert mengangguk mengerti setelah mendengarkan ucapan sang dokter.
"Kali ini dia juga sudah bernapas dengan stabil setelah sebelumnya mengalami syok ringan. Syukurlah kami tidak perlu membawanya ke rumah sakit yang lebih besar. Kita juga tak perlu melakukan operasi cangkok kulit. Saya bisa mengatakan bahwa anda berhasil saat menghentikan pembakaran pada tubuhnya. Dan kesigapan anda itu bisa mencegah agar tidak menimbulkan lebih banyak kerusakan pada kulitnya. Saya berasumsi kalau anda pasti bertindak cepat dan tepat sebelumnya."
"Saya tahu anda sedang merasa kecewa pada diri anda sendiri. Tapi anda perlu tahu kalau apa yang anda lakukan itu bahkan berhasil mencegah hal yang lebih buruk terjadi. Dan apa yang sudah anda lakukan juga mencegah lebih banyak kerusakan," kata dokter itu mencoba menjelaskan kepada Robert.
"Tapi saya rasa akan ada bekas luka. Dan insiden ini bisa menyebabkan kakinya tidak akan terlihat normal seperti sebelumnya lagi. Kami akan merawatnya lebih di sini dahulu selama dua atau tiga hari lagi. Dan setelah itu anda bisa membawanya pulang. Dia perlu banyak istirahat dan anda harus memastikan dia selalu mengganti perban." ujar sang dokter.
"Tentu saja," Robert menganggukkan kepalanya. "Tapi... dia akan baik-baik saja kan?"
__ADS_1
"Hal buruk yang bisa terjadi adalah saraf di kakinya mungkin saja rusak. Tapi saya harap tidak," kata dokter itu. "Selain itu, saya rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lebih dari hal itu."
"Kalau begitu terima kasih, dokter." kata Robert.
"Jangan sungkan, tuan." ujar sang dokter. "Kalau begitu saya pergi dulu. Saya akan kembali lagi nanti sore."
Setelah kepergian sang dokter, Robert melangkah memasuki kamar rawat dari anak gadisnya. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Jessica.
Robert memandang wajah putrinya dan dia sadar betul apa yang harus dia lakukan saat ini. Ia harus menelepon ibu Jessica. Mau tak mau. Mantan istrinya itu harus mengetahui kondisi anak gadisnya itu.
Robert menghela nafasnya perlahan. Dia bahkan sudah bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi saat ia menghubungi mantan istrinya nanti.
***
__ADS_1