Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
62


__ADS_3

"Ayolah ayah, aku sudah bilang kalau aku bisa berjalan sendiri," Jessica berujar pada sang ayah. "Kakiku memang terluka, tapi aku masih bisa berjalan."


"Ayah lebih suka menggendongmu, Jessica" Robert meyakinkan putrinya saat dia berdiri di dekat pintu belakang mobil. 


Sementara itu Nathan sudah lebih dahulu bergegas pergi dengan kunci rumah di tangannya. Pria muda itu masuk dan melakukan hal terbaik yang dia bisa untuk memastikan ruangan di tempat tinggalnya itu dalam keadaan bersih.


Robert terus-menerus melihat sekeliling rumah Nathan saat ia melihat Jessica mengulurkan tangannya. Dan saat itulah Robert dengan lembut menariknya ke dalam pelukannya.


"Aku berharap bahwa aku bisa melakukan hal semacam ini padamu dahulu, saat kau masih kecil, Jess." bisik Robert pada anak gadisnya itu.


Jessica menatap wajah sang ayah di sela gendongan itu. Ia bisa melihat dengan jelas ayahnya yang saat ini tersenyum sedih saat menggendongnya masuk ke dalam gedung.


"Ibu pernah berkata bahwa lebih baik jika aku tidak mengenal siapa ayahku." Jessica memberi tahu Robert. 


"Benarkah?"


Jessica mengangguk, "Aku tidak pernah percaya padanya, atau tentang hal buruk yang dia katakan tentangmu. Aku bahkan menentangnya sampai dia menyerah."

__ADS_1


"Bagus sekali, ayah yakin kalau kau mendapatkan sikap cerewetmu darinya," Robert menyeringai, dan dibalas Jessica dengan tersenyum hambar.


Robert memperhatikan bagaimana wajah gadis itu terlihat sedih ketika mereka berbicara tentang ibunya. Robert tersenyum kecil. Ia mencoba untuk menatap Jessica dengan tatapan yang meyakinkan.


"Ibumu pasti akan berbicara denganmu lagi," kata Robert. "Kau tahu, bahwa pergi tanpa memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi padamu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Dia jelas tidak bisa menjadi bagian dari masalah ini, Jess."


"Ya, aku juga berpikiran hal yang sama." jawab Jessica membenarkan ucapan ayahnya. "Dia mencoba menghubungiku sepuluh kali selama perjalanan kemari. Ah, aku yakin ibu pasti berpikir kalau aku marah padanya."


"Tapi bukankah kau memang marah?" Robert bertanya-tanya.


"Bisa dimengerti," Robert berujar saat dia mulai mendaki tangga. 


Tiba di depan pintu apartment Nathan, Robert tidak langsung masuk. Dia melihat ke pintu apartemen itu tepat ketika Nathan membuka kunci pintu dan mendorongnya terbuka. Pemuda itu berdiri di dalam ruangan, melihat sekeliling selama beberapa saat sebelum kemudian dia memberi isyarat agar Jessica dan Robert masuk.


Sesampainya mereka di dalam rumah Nathan, Jessica langsung melihat sekeliling ruangan. Ia tidak terkejut saat menyadari bahwa ruangan itu bersih tanpa cela.


"Anggap saja rumah sendiri," Nathan berseru pada mereka saat dia memasuki kamarnya sendiri.

__ADS_1


Jessica mendudukkan dirinya di sofa kulit yang ada di tengah ruangan itu. Sementara pandangannya melihat ke arah televisi besar yang ada di dinding sebelum kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah dapur. Setelah itu Jessica kembali mengedarkan pandangan matanya ke seluruh area rumah itu. Bagi Jessica rumah yang di tempati Nathan ini tak tampak seperti rumah pada umumnya. Terlalu banyak layar komputer di sana. Itulah yang membuat Jessica tak bisa melihat sentuhan 'rumah' di tempat itu. 


Nathan berjalan keluar dari kamar tidurnya dengan laptop di bawah lengannya. Dia kemudian meletakkan benda itu di atas meja di dapur, membuka tutupnya dan menyalakannya, sementara Robert membungkuk untuk berbicara dengan Jessica.


"Ayah harus pergi untuk beberapa saat dan ayah akan segera kembali," ujar Robert padanya. "Kau harus tetap di sini, bersama Nathan dan jangan pergi kemanapun. Apakah kau mengerti?"


"Ya," kata Jessica, "Aku mengerti, ayah. Aku tidak akan kemanapun, ayah tidak perlu khawatir."


Robert tersenyum kecil. Dia mencium pucuk kepala gadis itu lalu mengacak-acak rambutnya sebelum kemudian ia melihat ke arah Nathan.


"Apakah kamu punya pistol?" Robert bertanya-tanya dan Nathan menelan ludah, menggelengkan kepalanya sebelum kemudian dia melihat Robert menarik satu senjata dari ikat pinggang di dalam pakaiannya dan meletakkannya tepat di samping laptop Nathan. 


"Ambil ini! Kau bisa menembak jika kau mendengar atau melihat sesuatu." ujar Robert pada Nathan.


"Ya...kecuali wanita tua yang tinggal di flat sebelah. Dia cenderung lupa dimana kucingnya. Aku hanya tidak ingin sampai membunuhnya dengan serangan jantung karena suara tembakan," komentar Nathan, suaranya terdengar tidak stabil seiring merasa gugup melihat senjata itu.


Sambil menyeringai, Robert meninggalkan kedua anak muda itu sendirian di dalam rumah itu. Begitu terdengar suara pintu di tutup, Nathan langsung login ke laptopnya mengetik sesuatu di sana.

__ADS_1


__ADS_2