
"Robert!"
Robert menoleh cepat begitu mendengar suara wanita yang ia tunggu. "Katherine Bailey."
"Bagaimana kau bisa membiarkan ini terjadi pada Jessica?" Katherine Bailey membentak Robert begitu ia datang dan melihat Robert yang tengah berdiri di ujung lorong rumah sakit. Terlihat seorang pria tinggi berambut hitam turut berjalan di sampingnya.
"Aku tidak berharap hal ini terjadi, Kate," kata Robert pada mantan istrinya itu.
Sebelumnya, di sambungan telepon Robert telah berbohong pada mantan istrinya itu tentang penyebab kecelakaan Jessica. Ya, antara Robert dan Jessica, mereka berdua telah berdiskusi panjang dalam merencanakan kebohongan macam apa yang akan mereka buat untuk di beritahu pada Katherine Bailey.
Sementara itu, begitu mendengar kabar buruk dari Robert, Kate langsung mengomel panjang lebar dan memutuskan untuk segera mencari penerbangan yang menuju ke Thailand.
Dan sejujurnya Robert masih merasa tidak enak untuk berbohong pada mantan istrinya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Jessica tidak berniat untuk mengatakan apa-apa lagi tentang masalah ini.
Jessica-lah yang sejak awal mengatakan pada Robert bahwa akan lebih baik bagi mereka berdua jika Robert berbohong, mengingat Katherine Bailey pasti tidak akan pernah membiarkan mereka untuk saling bertemu lagi jika segala kebenarannya diberitahukan.
"Kau membawanya ke Thailand diam-diam, tanpa izinku," desis Kate, membawa tali tasnya lebih jauh ke bahunya. "Dan kemudian seseorang yang tidak di kenal membakar rumahmu... sehingga membuat putriku harus dirawat di rumah sakit dengan luka bakar di kakinya."
"Dia aman sekarang," jawab Robert. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Dia wanita berusia dua puluh tahun, Kate. Dia bisa membuat keputusan sendiri tanpa izinmu. Aku juga ayahnya, jadi-"
__ADS_1
"Kate masih ibunya," potong pria tinggi di sebelah Kate. Dia terlihat menurunkan dasi ke setelan jasnya dan meletakkan tangannya di bahu Kate.
Wanita itu menghela kemudian meluruskan gaun merah yang dikenakannya sambil mengusap wajahnya kasar dengan tangannya.
"Biarkan saja, John," jawab Kate. "Robert memang selalu keras kepala seperti ini. Dari dahulu dia memang seperti ini."
"Apakah kau tahu betapa buruknya perasaanku melihat Jessica?" Robert bertanya pada wanita itu. "Aku baru tahu bahwa saat itu ada orang asing yang ingin menyakiti anak kita. Aku tahu aku salah. Aku tahu bahwa aku seharusnya ada di sana untuknya. Aku minta maaf... tapi aku juga tidak pernah ingin hal ini terjadi..."
"Yah, baiklah," kata Kate dengan anggukan singkat. Ia tahu bahwa ini memang bukan salah Robert. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan atas cedera yang di alami putrinya. Kate menghela pelan. "Begitu kondisi Jessica lebih baik, dia akan tinggal di Singapura bersamaku. Dia tidak akan tinggal bersamamu, Robert."
"Katherine tapi-"
"Kau siapa?" tanya Robert dingin. "Jessica adalah putriku. Dia cukup dewasa untuk berbicara tentang dirinya sendiri. Dia berhak menentukan apa yang dia inginkan."
"Saya John" jawab pria itu. "Dan aku yang tahu-"
"Berhenti! Jangan bicara," potong Robert. "Jangan bicara apapun tentang putriku. Kau tidak punya hak apapun untuk ikut campur. Kau hanya seseorang yang baru-baru ini di temui ibunya. Batasmu hanya sampai pada ibunya dan-"
"Jaga lidahmu," Kate membentak Robert sebelum mantan suaminya itu bisa mengatakan apa-apa lagi. "Kau adalah orang yang kau sebut tak punya hak itu. Dia putriku dan aku yang merawatnya sejak dia kecil. Aku tahu seperti apa dirimu, Robert. Sekarang, aku di sini untuk putriku, bukan untuk berdebat."
__ADS_1
Kate mengangkat tangannya di antara kedua pria itu. Ia lalu menganggukkan kepalanya saat dia melakukannya. "Jadi apakah menurutmu kita bisa bersikap dewasa tentang ini?"
Robert menghela napasnya perlahan, meredakan apapun yang membuat hatinya memanas.
"Dia masih tidur," kata Robert kepada ibu dari anaknya itu. "Dia terus tertidur sejak tadi. Tapi dia mungkin akan bangun saat kau masuk."
"Oke," kata Kate, memegang tangan John dan menarik pria tinggi itu masuk ke dalam. "Kami akan masuk ke dalam dan melihat keadaanya."
"Ya, lakukanlah itu," kata Robert pelan. Ia terus memperhatikan saat mantan istrinya itu berjalan memasuki ruangan, tangan Kate menutupi mulutnya saat dia melihat keadaan putrinya.
Robert kembali menghela napasnya pelan. Ia mencoba sebisanya untuk tetap tenang saat Katherine mendekat ke tempat tidur anak gadisnya itu.
Robert mengusap wajahnya kasar kemudian berbalik, mulai berjalan pergi menyusuri lorong. Dan saat itulah dia melihat pemandangan yang mengejutkan.
Kedua alisnya berkerut bingung saat dia melihat pria muda yang ada di ujung lorong. Pria muda itu terus berjalan ke arahnya, langkahnya panjang dan terarah lurus pada Robert.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
***
__ADS_1