Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
42


__ADS_3

"Kau lah yang bisa membuatku mengalahkan ayahmu sendiri." Dimitri kemudian menggedikkan bahunya santai. "Ya, seperti orang lain, Robert juga punya kelemahan,"


Dimitri kemudian mencondongkan tubuhnya ke Jessica lagi, tangannya bergerak untuk membelai pipi gadis itu.


Jessica dengan cepat memundurkan kepalanya, mencoba untuk menjauh dari sentuhan Dimitri itu.


Nathan yang menyaksikan betapa beraninya Dimitri menyentuh Jessica saat ini, bereaksi. Ia hampir bergerak namun di tahan oleh anak buah Dimitri. Alhasil saat ini Nathan hanya bisa menelan ludahnya kasar. Ia yakin kalau Robert pasti akan menghabisinya karena sudah membiarkan hal ini terjadi pada Jessica.


"Kau terlihat seperti dia," kata Dimitri, sementara jari-jari tangannya masih membelai pipi gadis itu. Ia kemudian memegang dagu Jessica dengan kasar, "… yah, dalam sisi tertentu."


Jessica menggerakkan kepalanya, mencoba menarik dagunya dari tangan Dimitri membuat lelaki itu langsung mendecih sinis.

__ADS_1


"Ayolah Jessica…" ujarnya pada gadis itu. 


Dimitri kemudian bergerak lebih mendekat pada Jessica. Ia menatap wajah Jessica dari posisinya itu, sementara tangannya memegang bahu dari gadis itu.


"Dengarkan aku! Ayahmu itu, Robert Anderson. Dia sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam hidupnya dengan berbohong padamu. Ayahmu adalah orang yang telah melakukan ini padamu, Jessica. Dia-lah yang telah membuat hidupmu berada dalam bahaya seperti sekarang ini." bisik Dimitri di telinga Jessica. Dimitri kemudian melanjutkan kalimatnya, "Dia... maksudku ayahmu itu, dia sudah mengkhianati kepercayaanmu selama ini. Dia juga sudah hampir membuatmu terbunuh karenanya."


"Dia melakukan itu demi kebaikanku. Dia hanya tidak ingin aku mengetahui rahasianya itu karena akan berbahaya untukku!" Jessica berujar untuk menolak apapun bentuk provokasi yang Dimitri katakan padanya.


"Lalu apa menurutmu dia benar-benar peduli padamu? Lihatlah sekarang. Dia malah kabur dengan bosnya. Dia kabur dengannya dan malah meninggalkanmu di sini. Di dalam penjagaan seorang pria yang bahkan tidak bisa berkelahi sama sekali. Dia meninggalkanmu bersama seseorang yang hanya bisa duduk di depan komputer sepanjang hari. Ck, bukankah setidaknya dia harus meninggalkanmu bersama agen terlatih atau setidaknya yang pandai bela diri. Pikirkanlah Jessica! Apakah Robert benar-benar berpikir bahwa pria muda ini bisa melindungimu? Bukankah ini sangat lucu?"


Jessica menelan ludahnya saat bibir Dimitri menyentuh telinganya. Jessica lalu menolehkan pandangannya ke arah Nathan setelah Dimitri menyelesaikan kalimatnya. Ia terus menjaga pandangannya agar tetap terfokus pada Nathan, melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk tidak mendengarkan apalagi membenarkan kata-kata provokasi yang keluar dari mulut Dimitri.

__ADS_1


Sementara itu, dari tempatnya berdiri saat ini, Nathan balas menatap Jessica. Nathan tahu kalau saat ini Dimitri pasti sedang mencoba untuk mempengaruhi penilaian Jessica terhadap ayahnya sendiri. Nathan menyipitkan kedua mata di balik kacamata yang dia kenakan, ia menggelengkan kepalanya perlahan. Ia diam-diam mendesak dan memberi tanda pada gadis itu untuk tidak mendengarkan apapun yang di ucapkan Dimitri padanya saat itu.


Dimitri menarik kembali dirinya, ia duduk tegak seperti sebelumnya. Matanya menatap Jessica lekat dan mengusapkan tangannya ke sisi lengan dari gadis itu sebelum menatap matanya.


"Ayahmu sudah berbohong padamu selama bertahun-tahun. Itu sudah menyakitimu. Dan dia bahkan membuat dirimu hampir terluka" ujar Dimitri. "Jadi, bantulah aku agar bisa menghadirkan ayahmu di sini."


Sambil tersenyum sinis, Jessica kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang secara langsung bisa memberitahu Dimitri bahwa dia sudah dengan tegas menolak untuk bekerja sama dalam bentuk apapun dengan pria itu.


"Pergi saja kau ke neraka." ujar Jessica tajam.


***

__ADS_1


__ADS_2