Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
40


__ADS_3

Jessica menggelengkan kepalanya dengan ekspresi takut-takut. Namun detik selanjutnya ia memilih untuk mengatur ekspresinya dan memasang ekspresi menantang untuk Dimitri.


"Bagaimanakah?" tanya Dimitri. "Apa kau suka bicara baik-baik?"


Jessica mendecih dengan sebal. "aku tidak akan menuruti apapun kemauanmu."


Mendengar jawaban dari Jessica, Dimitri tertawa hambar.


"Begitu keras kepala rupanya," Dimitri menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, biarkan aku memaksamu."


Dimitri memberi tanda pada anak buahnya yang ada di belakangnya untuk melakukan sesuatu. Para bawahan Dimitri terlihat menganggukkan kepala dan segera bergerak maju, mendatangi Nathan dan Jessica.


Nathan membulat saat melihat dua anak buah Dimitri datang mendekat ke arah mereka.


"A-apa yang coba kalian lakukan?" ujar Nathan takut-takut.


Ia dengan ekspresi gugup dan takut merentangkan kedua tangannya, mencoba sebisanya untuk melindungi Jessica. Namun anak buah Dimitri yang lain turut mendekat dan dengan cepat menodongkan senjata pada Nathan dan membuat nyali pria muda itu seketika menciut.


"Diamlah kalau kau masih sayang nyawamu!" ujar anak buah Dimitri sambil terus menodongkan senjatanya pada Nathan.


Nathan lalu di tarik agak menjauh dari Jessica dan dia hanya bisa diam tanpa berusaha melawan. Ia masih punya pikiran untuk melawan orang-orang dengan pistol di tangan mereka. Sementara kedua matanya terus memperhatikan saat anak buah Dimitri yang tadi menarik paksa Jessica dan dengan kasar, mereka memaksa gadis itu untuk duduk ke kursi.


Setelah itu, masing-masing dari anak buah Dimitri yang ada di ruangan itu mengarahkan senjata yang mereka pegang ke arah Jessica dan juga Nathan agar tak ada satu pun dari mereka berdua yang berani melawan.

__ADS_1


Dimitri yang sejak tadi hanya memperhatikan pekerjaan anak buahnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya, berjalan mendekat dan semakin mendekat pada gadis itu."


Dan, sesampainya Dimitri di hadapan Jessica, ia lalu membungkukkan setengah badannya, mencoba untuk menyamakan posisi wajahnya dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Dimitri tersenyum penuh kemenangan lalu meletakkan tangannya di pahanya sendiri sebagai penopang.


"Jadi, bisakah aku tau, bagaimana rasanya?" ujar Dimitri kemudian bertanya pada Jessica.


"Bagaimana rasanya? Apa maksudmu?" Jessica bertanya balik. Ia terlihat menaikkan sebelah alisnya tak begitu mengerti dengan pertanyaan ambigu yang di ucapkan oleh pria di hadapannya yang menurutnya sangat kejam itu.


Dimitri hanya tersenyum. Dan bukannya memperjelas pertanyaan ambigunya itu, ia malah terlihat menganggukkan kepalanya pada salah satu anak buahnya, seakan memberi isyarat tentang sesuatu.


Anak buahnya itu kemudian menganggukkan kepalanya patuh. Salah satu dari mereka bergerak dan mengambil seutas tali dari saku celananya, lalu bergegas mendekati Jessica, berniat untuk mengikat tangan gadis itu.


Jessica yang sejak tadi memperhatikan gerakan dari anak buah Dimitri itu tetap duduk di tempatnya. Ia menatap sinis pada pria asing yang tak ia kenali itu. Jessica memutuskan untuk tidak melawan tapi juga tidak ingin menurut begitu saja pada apa pun yang diinginkan Dimitri darinya.


Anak buah Dimitri lalu membungkuk untuk meraih kedua pergelangan tangan Jessica ke belakang tubuhnya. Jessica mencoba sedikit memberontak karena tarikan kasar dari lelaki itu begitu menyakiti tangannya.


Jessica kemudian dengan cepat melihat pada Nathan yang ada di dekatnya. Salah seorang anak buah Dimitri terlihat tengah menjambak rambut Nathan dengan kasar hingga pria muda itu memekik kesakitan. Dan perbuatan itu sontak saja membuat Jessica yang melihat hal itu langsung bereaksi.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" pekik Jessica kesal.


"Dia akan baik-baik saja kalau kau tetap menurut padaku." kata Dimitri dengan santai.


Jessica menggeram kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, sementara kedua matanya menatap Dimitri nyalang.

__ADS_1


"Jadi bisakah kita berdamai saja dan kau jangan mencoba untuk melawan diriku," ujar Dimitri tenang pada Jessica. "Lagipula tidak ada gunanya sama sekali bagimu kalau kau melawan. Dan kau juga tidak akan banyak membantu pemuda itu. Lihatlah, kau akan membuat pemuda itu susah nanti."


Jessica melihat kembali ke Nathan, pemuda itu masih berdiri di posisinya tadi. Dia sama sekali tidak berani bergerak dari posisinya, tahu betul bahwa jika ia berani bergerak satu langkah saja maka ia akan berakhir dengan tertembak. 


Mata Jessica kemudian melebar saat dia melihat anak buah Dimitri yang lain menodongkan senjatanya lebih dekat ke kepala Nathan.


"Jauhkan benda itu darinya, sialan!" Jessica berteriak dengan nyaring.


Kemarahan Jessica tidak membuat Dimitri dan anak buahnya gentar. Mereka hanya tersenyum sinis dan masih terus menodongkan senjata pada pemuda itu. Mereka kini telah mendapatkan hal apa yang dapat memprovokasi gadis itu.


"Kau lihat! Jika kau tidak menurut, temanku di sana pasti akan menyakiti pemuda itu." ancam Dimitri sambil kembali menunjuk ke arah Nathan dengan dagunya.


Nathan sendiri bisa merasakan saat ujung pistol yang dingin itu menyentuh kepala belakangnya. Hal itu jelas saja membuatnya tak bisa melakukan apapun saat ini. Tapi tidak. Dia memang tidak akan melakukan apapun yang akan membuat dirinya sendiri terluka. Saat ini dia akan tetap berdiam diri di tempatnya dan memikirkan apa yang harus dia lakukan.


"Kau berlakulah baik, maka Nathan pasti akan selalu dalam keadaan baik-baik saja." ujar Dimitri pada Jessica.


Jessica masih berusaha untuk melawan, meskipun perlawanannya tak sekuat yang sebelumnya. Ia kini bisa merasakan saat anak buah Dimitri menarik pergelangan tangannya dengan kasar dan mulai mengikatnya.


Sekali lagi, Dimitri membungkukkan badannya tepat di depan Jessica. Ia tersenyum simpul kemudian dengan perlahan mengangkat tangannya dan meletakkannya di kedua paha Jessica.


Jessica menggeram marah mendapatkan perlakuan itu dari Dimitri. Ia kesal bukan main karena Dimitri yang sudah dengan seenaknya menyentuhnya. Tapi ia berusaha sebaik mungkin untuk tetap diam dan terua mencoba menahan emosinya. Ia juga tak ingin melakukan apapun saat ini, karena apapun yang ia lakukan itu akan berimbas pada Nathan.


Jujur saja, sebenarnya Jessica juga merasa takut bukan main namun ia tidak ingin menunjukkannya. Ia tak ingin Dimitri melihat betapa ketakutannya dirinya saat ini. Hal itu hanya akan membuat pria jahat sepertinya merasa senang jika melihat tawanannya takut padanya. Alhasil Jessica hanya memilih untuk menatap Dimitri dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Oke, sekarang mari kita bicara," bisik Dimitri di dekat telinga Jessica,


***  


__ADS_2