Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
Part 7


__ADS_3

Kebingungan menguasai wajah Jessica dan dia langsung menggelengkan kepalanya. Ia menghentikkan makannya dan mengelap mulutnya dengan saputangan kemudian ia meletakkan benda itu di dekat piringnya. Dia tampak sangat bingung untuk beberapa saat setelah itu barulah kemudian dia kembali bicara.


"Kupikir aku akan tinggal bersamamu selama seminggu ini," ujarnya. "Aku bahkan sudah memesan tiket pesawat untuk pergi ke Bali bersama temanku minggu depan. Dan ibu juga sudah pergi liburan ke Surabaya bersama John. Dan ayah malah ingin mengantarku pulang ke Singapura?"


"Masalah itu… bagaimana kalau-"


"Ck, ayah tidak mungkin berpikiran untuk mengirimku ke Surabaya juga untuk liburan bersama Ibu dan John kan? Yang benar saja, aku kan sudah merencanakan agenda liburanku." gerutu Jessica.


Sambil menggelengkan kepalanya, Robert menghela napasnya pelan. Ia tak percaya bahwa ternyata Jessica telah menetapkan rencana liburannya sendiri. Bagaimana dia bisa memberitahu Jessica bahwa seminggu yang sudah anak gadisnya rencanakan itu harus terpaksa diubah?


Robert menatap anak gadisnya dengan tatapan penyesalan untuk sesaat.


"Ayah akan pergi ke Jepang besok pagi," ujar Robert terus terang, memberitahu putrinya.


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut ayahnya, mulut Jessica tanpa sadar menganga.


"Apa?"


"Maafkan ayah, Jess! Ayah tadinya-"


"Tapi...tapi kamu...tidak bisa membatalkannya rencanaku begitu saja," gerutu Jessica sambil meletakkan sendok di tangannya ke atas meja. "Aku kan sudah bilang kalau aku memutuskan untuk tinggal di sini selama satu minggu."


"Ayah punya rumah baru sekarang. Kau bisa tinggal di sana. Sangat aman untukmu, Jessica." sambung Robert tanpa mengindahkan kalimat Jessica sebelumnya.


"Maksudnya aku tinggal di sana? Sendirian? Ck, sejak kapan itu masuk dalam rencana kita?" Jessica berujar dengan nada menyindir.


"Kau tinggal-lah dulu di rumah ayah selama ayah pergi ke Jepang. Setelah itu barulah kita jalankan rencana liburanmu."


"Tapi itu artinya rencana liburanku harus di potong selama beberapa hari selama kepergian ayah!"


Jessica lalu menghela napasnya perlahan. Ia mencoba melakukan yang terbaik sebisanya untuk tidak terdengar terlalu marah atau terlihat terlalu kecewa dengan apa yang baru saja dia dengar dari ayahnya.


"Setelah ayah pulang, sampai masa liburanmu di sini selesai, ayah akan mengusahakan liburanmu nanti akan terasa luar biasa." ujar Robert mencoba menyenangkan hati anaknya.


"Aku hanya seminggu di sini dan ayah bahkan tak bisa meluangkan waktu untukku? Ck, ck, ck, betapa kejam." ujar Jessica sinis.

__ADS_1


"Ayah lupa bahwa kau akan tinggal selama seminggu di sini, Jessie!" terang Robert.


Jessica kembali menghela nafasnya perlahan setelah mendengar kenyataan yang akan terjadi padanya. Ini bukan hal mengejutkan baginya. Ayahnya memang selalu seperti ini, tapi entah kenapa ia tetap merasa terkejut dan juga kecewa. Ah, memangnya apalagi yang ia harapkan dari sang ayah?


Ia sadar, menjadi anak dari seorang Robert Anderson seperti ini pasti akan sering membawa kekecewaan untuknya. Namun, ini jelas salahnya, karena meskipun tahu kalau akhirnya akan begini kenapa ia malah tetap berharap lebih pada ayahnya ini sejak awal?


"Ayah benar-benar lupa, Jessie!" ujar Robert menyesal.


"Ya, memang banyak hal yang luput dari pikiranmu, selalu banyak hal yang memang ayah lupakan." jawab Jessica sinis, "...ah, selain pekerjaanmu, tentu saja."


"Jessica," kata Robert. Suaranya datar dan terdengar penuh nada peringatan. Robert menggelengkan kepalanya dan melihat lurus ke mata anak gadisnya itu.


"Maaf, oke!" kata Jessica mengangkat kedua tangannya. "Aku tahu pekerjaanmu itu juga pasti akan membuatmu stres. Maafkan aku!"


Robert kemudian menghela pelan, ia tau kalqu ia juga bersalah dalam hal ini. "Ayah minta maaf harus meninggalkanmu sendirian." ujarnya tulus.


Jessica menatap sang ayah kemudian tersenyum kecil. "Tidak. Walaupun aku merasa kecewa, tapi aku tidak apa-apa. Ayah sudah biasa melakukan ini, jadi aku sudah agak terbiasa." ujar Jessica.


Gadis itu kemudian memajukan tubuhnya agar lebih dekat ke meja makan kemudian melanjutkan kalimatnya. "Tapi,  apakah menurut ayah ibu akan baik-baik saja jika aku tinggal di sini sendirian? Apa dia tak akan menolak? Maksudku, apakah dia tidak akan marah"


"Kenapa tidak?" Robert bertanya dengan nada bingung. "Bukankah dia bahkan mengizinkanmu tinggal di sendirian di dekat kampusmu? Lagi pula, bukankah kau juga akan sendirian jika pergi ke Bali nanti."


"Ibumu sayang padamu. Wajar jika dia melarangmu melakukan beberapa hal."


Jessica mendecih. "Ya, tapi di beberapa kesempatan dia sangat sering melakukan hal yang tak perlu. Seperti melarangku ikut pergi bersama teman-temanku."


"Ya, itu sebabnya kau jangan melakukan segalanya dengan sembarangan. Harus dengan penjelasan dan alasan yang masuk akal baru kau boleh melakukan apapun," kata Robert padanya.


"Dengar, ayah akan meninggalkanmu nomor darurat yang bisa kau hubungi jika terjadi sesuatu. Selain itu, ayah juga akan memastikan untuk selalu menelfonmu jika ada kesempatan saat ayah pergi ke Jepang nanti."


"Apa maksudnya dengan 'terjadi sesuatu', aku kan bukan tipe anak pembuat masalah." Jessica memanyunkan bibirnya kesal.


"Ayah hanya ingin memastikan tidak ada yang akan terjadi padamu nanti. Kau bisa menjaga kepercayaan ayah untuk tidak membuat masalah bukan?"


"Tidak, aku tidak akan membuat masalah. Jadi ayah tenang saja." gumam Jessica dengan nada malas dan kembali menatap pada sang ayah. Ia menyendok makanannya lagi. "Hanya saja... bisakah ayah jangan beri tahu ibu tentang ini."

__ADS_1


"Tentang apa?"


"Tentang kepergian ayah. Tentang aku yang akan berada sendirian di sini. Bisakah?" pinta Jessica dengan nada memohon.


"Kau ingin ayah berbohong pada ibumu?" Robert memastikan, kedengarannya ia tidak terlalu nyaman dengan ide dari Jessica itu.


"Tidak, bukan berbohong. Tapi ayah hanya tidak perlu mengatakan apapun pada ibu jika ia tak bertanya." pinta Jessica.


"Itu sama saja. Kau meminta ayah untuk tidak menelepon ibumu, begitu bukan?"


Jessica menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan sang ayah.


"Ya," jawab Jessica. "Jangan katakan apa pun padanya. Lagi pula, dia yang akan meneleponku lebih dahulu. Tapi aku akan berhasil membohonginya dengan mudah. ​​Sebenarnya tidak terlalu sulit bagiku untuk membohongi ibu. Masalahnya ada pada ayah, jika ayah memberitahunya, maka habislah sudah!"


"Jadi, Jessica! Apakah kau pernah berbohong pada ibumu sebelumnya?" Robert bertanya, menatap anak gadisnya dengan heran.


Jessica menyendok makanannya dan memasukkannya kedalam mulut. Seringaian terlihat di wajah Jessica ketika dia mendongak, melihat ke arah ayahnya.


"Tidak," katanya kemudian dengan wajah serius yang di buat-buat.


"Yah, itu jelas sekali sebuah kebohongan."


"Aku tidak berbohong, ayah."


"Itu bahkan terlihat dengan jelas di wajahmu itu, Jessie." Robert memberitahu Jessica kemudian dia menggelengkan kepalanya, menyandarkan punggungnya pada sandaran di kursi.


"Kau adalah pembohong yang ahli." sindir Robert.


"Ya baiklah. Aku memang pernah berbohong pada ibu. Tapi hanya tentang hal-hal sepele. Tidak ada kebohongan yang besar. Jadi tenang saja, ayah." ujar Jessica pada sang ayah. "Lagipula semua orang kan pasti pernah berbohong."


Raut wajah Robert seketika berubah. Ia merasa ucapan anak gadisnya ini memang benar. Semua orang pernah berbohong, bahkan termasuk dirinya sendiri.


"Ayah tenang, Jessie" Robert meyakinkannya anak gadisnya itu. "Memangnya kapan ayah pernah menjadi orang tua yang melarangmu ini dan itu?"


Jessica hampir tersedak makanannya saat Robert mengucapkan kata-kata itu dan dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada sang ayah.

__ADS_1


Ucapan ayahnya itu benar. Ayahnya itu memang tak pernah sekalipun melarangnya melakukan apapun bahkan ayanya selalu mendukungnya. Selain itu, ayahnya juga selalu melindunginya dari omelan sang ibu.


***


__ADS_2