Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
131


__ADS_3

"Di sini?"


"Di sini!" Robert berujar sambil menganggukkan kepalanya.


"Apakah ayah berpikiran kalau aku harus..." ucapan Jessica sontak terhenti selama beberapa saat ketika dia berusaha untuk menebak maksud dari perkataan ayahnya barusan.


Robert tersenyum, seakan ia mengerti sisa kalimat yang akan di katakan putrinya itu.


"…pindah ke Indonesia?" Jessica pada akhirnya melanjutkan.


Robert lalu dengan cepat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari anak gadisnya itu.


"Ya, Jessica. Bagaimana pendapatmu dengan itu?" Robert tersenyum.


Jessica hanya terlihat terdiam untuk beberapa saat sambil menatap mata ayahnya dengan tatapan tak percaya sebelum kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak!"


"Tidak?"


"Tidak bisa, ayah." ujar Jessica menolak dengan halus.


"Kenapa tidak, Jessie?" Robert menaikkan sebelah alisnya, terlihat heran dan bingung di saat yang bersamaan.


"Ayolah ayah..." Jessica menghela. "aku kan tidak bisa asal pindah universitas begitu saja, ayah. Segalanya tidak bekerja dengan sesederhana itu dan juga aku tidak mungkin berganti kampus dengan begitu mudahnya. Aku akan butuh penyesuaian dengan dosen dan juga isi pelajarannya nanti."

__ADS_1


Robert kemudian memberi tahu Jessica tentang rencana yang dia pikirkan, juga rencana yang sudah dia siapkan untuk Jessica. Segalanya, mulai dari kepindahannya yang akan dia urus, kebutuhannya dan lain sebagainya, tetapi Robert harus kecewa karena hasilnya nihil. Gadis itu menolak bahkan bersikeras bahwa dia tidak ingin pindah ke Indonesia. Dia punya kehidupannya sendiri di Singapura.


"Ayah hanya mengkhawatirkan dirimu," kata Robert padanya dengan nada yang tulus. "Ayah khawatir tentang apa yang akan terjadi jika nanti Dimitri kembali ... jika dia mencoba untuk membawamu lagi."


"Kenapa dia melakukan itu?" Jessica berujar dengan nada yang mulai dinaikan pada ayahnya.


Sejujurnya kekesalannya bukan tanpa alasan. Ia tau kenapa ayahnya sangat ingin dirinya pindah. Dia tau kenapa ayahnya ingin tetap dekat dengannya. Ayahnya pasti merasa khawatir padanya.


Tapi Jessica merasa bahwa itu bukanlah hal yang benar untuk dilakukan, tetapi dia tetap mengerti. Dan ayahnya juga harus mengerti posisi Jessica. Pindah ke Indonesia berarti ia harus meninggalkan tempat tinggalnya di Singapura. Ia harus meninggalkan teman-temannya untuk mencari teman baru. Ada juga masalah pindah kuliah yang akan merepotkannya nanti.


"Siapa tahu?" Robert menjawab ketika Jessica bergerak ke arah lemari, membereskan semua perabotan yang baru saja dia cuci.


Robert meyenderkan pingganya ke meja makan dan menatap gadis itu. Robert bisa tau kalau gadis itu tengah marah padanya.


"Kita berdua tidak akan tahu apa yang akan dilakukan Dimitri nantinya, Jessie," ujar Robert padanya, mencoba untuk menenangkannya. "Ayah tau kalau Dimitri sedang bersembunyi saat ini. Dia telah menahan diri. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa dia tidak akan mencoba apa pun? Ayah hanya tidak ingin dia membawamu lagi."


Robert perlahan meneguk minumannya lagi dan meletakkan botolnya kembali. Dia bergerak untuk lebih dekat pada anak gadisnya itu, meletakkan kedua tangannya di bahu Jessica.


"Baiklah! Kau seorang wanita yang berusia dua puluh tahun," Robert menghela napasnya "Kau...kau bisa melakukan sesukamu. Sejujurnya ayah melakukan karena ayah hanya ingin kau tetap bersama dengan ayah, Jessica.


Sambil menganggukkan kepalanya, Jessica menoleh ke samping dan menatap pada ayahnya dengan tatapan lembut. Jessica punya perasaan sejak awal bahwa ayahnya pasti akan membicarakan hal ini padanya. Jessica tahu bahwa rencana seperti itu adalah hal yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Ia pindah ke Indonesia. Hidup bersama dengan ayahnya. Ya, tidak heran ayahnya tidak ingin Jessica pergi meninggalkannya. Ayahnya pasti ingin agar bisa terus mengawasinya dan menjaganya.


"Ada begitu banyak yang tidak bisa di lakukan jika aku pindah, ayah." bisik Jessica. "Aku punya teman di Singapura. Maksudku... sebelumnya aku dan temanku berbagi uang sewa. Aku tidak tahu apakah dia akan bisa menemukan teman sewa rumah baru atau membayar sewa sendirian. Belum lagi dia pasti alan mengkhawatirkan semua yang terjadi padaku. Lagi pula, bisakah aku pindah ke Universitas lain tahun ketigaku di universitas sebelumnya? Beberapa tempat memiliki ketentuan sendiri tentang hal-hal seperti itu, ayah."


"Kau berkencan dengan Nathan," Robert mencoba mengingatkannya dan Jessica memutar tubuhnya, berbalik ke arah lain dengan sedikit terlihat salah tingkah saat dia mendorong rambutnya ke belakang telinganya.

__ADS_1


Jessica menghela, "Sejujurnya...aku tidak ingin terus hidup dalam ketakutan, ayah. Aku tidak ingin panik setiap kali melihat seseorang berambut pirang."


Robert mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipi Jessica, dia melakukan yang terbaik untuk menenangkan anak gadisnya itu.


"Dan ayah juga tidak menginginkan itu untukmu," Robert dengan cepat bergerak mendekat pada anak gadisnya itu, mengelus punggungnya. "Ayah hanya ingin kau tetap di sini dan mencoba menjalani kehidupan normal."


"Tinggal di sini bukanlah kehidupan normalku, ayah." gumamnya padanya.


"Bisa jadi," jawab Robert. "Ayah ingin kau tinggal di sini, Jessica. Kau adalah putri ayah. Dan ayah sangat ingin agar kau tinggal bersama dengan ayah sampai seterusnya... itu akan menyenangkan, Jessica."


Jessica tersenyum lembut begitu dia mendengarnya dan mencium pipi Robert. Robert harus mengakui bahwa dia terkejut. Dia selalu merasa heran bagaimana suasana hati Jessica bisa berubah dalam sekejap mata seperti ini.


"Aku juga suka dan bahagia bersama denganmu, ayah," jawabnya Jessica "Kau tahu itu, apalagi sekarang, hanya kau satu-satunya yang aku miliki. Aku tidak bisa tidak berpikir bahwa akan kehilangan ayah lagi."


Robert mengangkat bahu ke arahnya dan menghela nafas putus asa. Detik selanjutnya Jessica mulai melangkah mundur darinya dan Jessica mengangguk. Ia menarik napas dengan kasar dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan lembut. Dia mengambil waktu sejenak untuk berpikir lalu melihat kembali ke ayahnya sebelum kemudian dia tersenyum.


"Baik," jawab Jessica. "Aku akan tinggal di sini."


Robert tidak tahu apakah harus tersenyum atau apa. Dia bersyukur, hanya itu yang dia tahu. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi saat Jessica kembali merapikan dapur.


"Tapi aku harus memastikan teman sekamarku menemukan teman baru di rumah sewa kami ," ujar Jessica. "Ayah perlu berbicara dengan Nathan tentang kepindahanku. Aku harap kepindahannya tidak akan merepotkan."


"Baiklah," seru Robert. "apa itu saja?"


"Itu saja," Jessica mengangguk.

__ADS_1


Mereka terdiam dan Jessica menggigit bibirnya, dalam hati ia jadi bertanya-tanya bagaimana dia akan menyampaikan berita itu kepada teman sekamarnya itu nanti.


***


__ADS_2