Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
27


__ADS_3

Nathan bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Nathan menggosok matanya yang masih terasa mengantuk. Ia kemudian melirik ke arah komputernya dan melihat bahwa layarnya sudah mati.


Nathan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke matanya. Ia menekan keyboard komputernya, layarnya pun kembali menyala.


Terangnya cahaya dari layar komputernya miliknya membuat kedua mata Nathan terasa silau karena sudah berjam-jam lamanya ia memejamkan matanya. Setelahnya Nathan menatap ke sudut bawah komputernya untuk memastikan jam berapakah saat ini.


Dia melihat ke samping dan menyadari bahwa beban yang ada di pundaknya saat ini telah hilang. Jessica tak ada di sampingnya hanya terlihat selimut yang semalam ia kenakan yang ia letakkan di sandaran kursinya.


Nathan terdiam untuk beberapa saat sebelum kemudian ia mengedarkan pandangannya sekeliling untuk mencari tanda-tanda dari Jessica. Gadis itu tak ada dimanapun.


Kemana dia? Batin Nathan


Nathan berdiri dari posisinya dan hendak pergi mencari keberadaan dari gadis itu, tetapi ternyata dia tidak perlu melakukannya.


Jessica datang setelah beberapa saat kemudian. Dan Nathan bisa merasakan denyut nadinya kembali tenang saat melihat gadis itu datang kembali. Gadis itu terlihat memiliki kantong mata di bawah matanya dan dia juga terlihat telah menghapus riasan yang ada di wajahnya.


"Aku baru saja ingin pergi mencarimu." ujar Nathan tersenyum canggung.


"Oh, aku baru saja pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku." Jessica memberitahu Nathan. "Seorang penjaga yang ada di luar menunjukkan jalan kepadaku tadi."

__ADS_1


"Oh, benar. Aku pikir kau memang perlu tahu di mana letak toiletnya." Nathan mengangguk sebagai tanggapan pada perkataan Jessica barusan.


"Jadi bagaimana sekarang?" Jessica kembali bertanya-tanya sambil mengenakan kembali selimut ke tubuhnya. "Apakah aku hanya akan duduk di sini dan menunggu saja?"


"Hm... mungkin sampai Mr. Robert datang kembali ke sini. Ya! Aku rasa hanya itulah yang perlu kau lakukan saat ini. " Nathan mencoba memberitahu gadis itu.


Nathan kemudian menunjuk perangkat yang ada di depannya.. "Aku terus memeriksa Macbook mu tadi malam dan aku akhirnya bisa menemukan dari mana pesan itu berasal. Rupanya itu berasal dari suatu tempat di China.


"China?" Jessica mengangkat sebelah alisnya, ia bingung sekaligus kaget. "Itu tempat yang jauh sekali."


"Ya. Itu memang berasal dari China." jelas Nathan dan Jessica hanya menjawab dengan anggukan.


"Jadi apakah ayahku aman?" Jessica bertanya.


Nathan mengangguk. Dan helaan lega keluar dari mulut Jessica saat melihat Nathan yang  mengangguk padanya.


Jessica bergerak mendekat sambil mengeratkan selimut yang sejak tadi ada di tubuhnya, sebelah tangannya menarik rambut pirangnya maju kedepan kemudian ia duduk kembali di salah satu kursi.


Nathan kemudian melangkah ke arah mesin kopi dan mulai menggunakan mesin itu. Ia bergegas membuang kotak pizza kosong sisa mereka makan semalam ke dalam tempat sampah.

__ADS_1


"Dari mana kau mendapatkan cangkir ini?" tanya Jessica mengambil cangkir milik Nathan, saat pemuda itu meletakkannya ke atas meja.


Nathan melirik cangkir yang Jessica maksud barusan sambil duduk kembali di kursinya.


Jessica terus melihat ke cangkir milik Nathan itu dan memutar-mutarnya di tangannya, menatap gelas itu dengan seksama. Ia tampak tertarik dengan benda itu.


"Ya, itu adalah gelas hadiah." Nathan menjawab, mencoba memberitahu gadis itu dengan nada paling sederhana.


"Hadiah? Dari siapa?"


"Bukan siapa-siapa. Hanya dari diriku untukku sendiri ketika aku baru saja mendapatkan pekerjaan ini. Ya, kupikir tampaknya cukup tepat jika aku memberikan penghargaan untuk diriku sendiri."


"Gelas ini sangat keren," Jessica mengakui itu. Ia lalu meletakkan kembali gelas milik pemuda itu ke atas meja dan hanya bisa duduk menunggu sang ayah muncul.


"Terima kasih," kata Nathan sambil meraih gelas itu dan meminum kopinya. "Aku harus pergi sebentar. Aku akan kembali dalam satu menit."


Jessica mengangguk, menatap Nathan yang kini tengah melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Jessica menghela napasnya lelah. Sebuah pertanyaaan kini muncul di benaknya, tentang apakah yang akan ibunya katakan jika dia tau tentang hal mengejutkan ini. Namun Jessica ragu kalau ibunya mengetahui tentang ini. Dan sepertinya Jessica juga tak berniat untuk memberitahukan semua ini pada ibunya.


Jessica kemudian memejamkan kedua matanya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lehernya tampak tertekuk ke belakang saat dia menghela napasnya dengan kasar. Dia tidak melakukan apa-apa lagi setelah itu, hanya duduk diam.

__ADS_1


***


__ADS_2