Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
76


__ADS_3

Robert bisa melihat saat putrinya menjatuhkan telepon hotel itu ke atas lantai dan menatap ayahnya. Alis Robert berkerut bingung. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Kenapa putrinya terlihat terkejut sekaligus tegang di saat yang bersamaan.


Robert dengan perlahan bergerak untuk berdiri di samping Jessica, menempatkan tangannya di punggung gadis itu.


"Nathan." suara Jessica terdengar bergetar.


"Apa teleponnya dari Nathan?" tanya Robert mencoba untuk menyimpulkan.


Jessica terlihat menggeleng membuat Robert semakin merasa bingung. Robert lalu membungkukkan badannya untuk mengambil kembali telepon hotel yang ada di atas lantai itu. Dia lalu menempelkan telepon itu ke telinganya tetapi dia sudah tidak dapat mendengar apa-apa. Telepon itu sudah di tutup.


"Dia membawa Nathan," bisik Jessica dengan nada gemetar. Ia lalu menatap pada sang ayah dengan raut tegang. "Ayah, dia membawa Nathan ."


Robert mengambil waktu sejenak untuk meletakkan telepon itu kembali ke atas meja sebelum dia melihat kembali ke arah putrinya. 


"Apa maksudmu, Jess?" tanya Robert mengernyitkan dahinya bingung.


"Dimitri… dia menculik Nathan, ayah." ujar Jessica dengan nada frustasi.


"Apa?"


"Ayah! Yang baru saja menelepon adalah dia. Dimitri! Dia tau dimana posisi kita saat ini. Dan baru saja dia mengatakan padaku kalau dia sudah membawa Nathan bersamanya. Nathan dalam bahaya, ayah."


Robert kini bisa melihat kulit wajah Jessica yang berubah menjadi pucat pasi dengan bola matanya yang melebar. Robert mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Ia menyadari bahwa dia tidak punya pilihan lain selain kembali ke markas BIN.


"Apa yang akan kita lakukan?" Jessica bertanya serius pada ayahnya. "Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Kita harus membantunya. Kita harus menolong Nathan, ayah."


"Bukan kita, Jessie. Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Ini adalah pekerjaan ayah." jawab Robert padanya.

__ADS_1


Robert lalu bergerak dengan cepat kesana kemari di ruangan itu untuk mengambil barang-barang yang diperlukan dan menyelipkannya ke setelan jas yang ia kenakan.


Jessica menyaksikan ayahnya bergerak dan dia menurunkan tangannya ke pinggul dan langsung menggelengkan kepalanya, menolak untuk membiarkan sang ayah pergi sendirian.


"Apa maksud ayah? Ayah ingin pergi sendiri?" Jessica memastikan.


"Ya, kau akan menunggu di sini!" Robert masih sibuk dengan barang-barangnya.


"Aku tidak bisa tinggal di sini dan membiarkanmu pergi sendiri begitu saja," protes Jessica. "ayah tahu bahwa dia ingin ayah mati. Ayah lah yang ingin dia bunuh selama ini."


"Dia memang mengincar ayah. Tapi apakah menurutmu dia akan ragu untuk membunuhmu juga, Jess?" Robert berujar. Ia lalu berjalan ke kamar mandi dan melanjutkan kalimatnya. "Ayah pernah melihatnya membunuh orang-orang yang tidak bersalah, Jessica. Dia akan melakukan apa saja untuk memenangkan permainan ini."


"Permainan apa?" bentak Jessica nyaring. 


Jessica lalu bergerak, pindah untuk berdiri di dekat pintu kamar mandi, menatap ayahnya yang sibuk berkemas. Tubuh gadis itu terlihat bergetar dan dia mengepalkan kedua tangannya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Jessica merasa penasaran dan bertanya-tanya apa yang bisa terjadi pada Nathan pada saat ini.


Robert menghentikkan gerakannya. Ia menarik napas dalam-dalam saat dia berdiri di kamar mandi. Saat ini ia menyandarkan kedua tangannya ke bibir wastafel, kepalanya terlihat menunduk. Saat ini, rasanya ia tidak ingin melakukan apa pun selain melarikan diri dan melupakan segala masalahnya. 


Jessica menatap ayahnya prihatin. Ia tahu bahwa ayahnya pasti lelah dengan segalanya saat ini. Jessica berjalan mendekat pada sang ayah.


"Ayah, maafkan aku karena aku membentakmu. Tapi aku benar-benar merasa khawatir padamu." ujar Jessica dengan nada pelan.


"Ayah tahu Jessie." Robert menganggukkan kepalanya mengerti. "Ayah hanya tidak ingin kau ikut campur dalam masalah ini. Ini jelas terlalu berbahaya untukmu."


"Tapi ayah-"


"Meskipun ini berbahaya bagi ayah, tapi ayah sudah pernah mengalami hal seperti ini. Ayah lebih berpengalaman. Tapi kau? Kau tidak. Itu sebabnya ayah tidak ingin kau mencampuri apapun." jelas Robert.

__ADS_1


Jessica menghela dan mengangguk. "Baiklah ayah."


Robert balas mengangguk. Ia kembali bergerak untuk mengatur barang-barangnya. Jessica hanya diam memperhatikan sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi kenapa harus Nathan, ayah? Nathan bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padanya. Ia bahkan tak berhubungan apapun dalam semua ini," bisik Jessica dengan raut bingung. "Kenapa dia ingin menyakitinya?"


Robert menggeleng, "Justru Nathan adalah hal utama dalam masalah ini!"


"Apa?"


"Nathan adalah alasan kenapa kita masih hidup saat di kereta, Jess." Robert mengakui pada putrinya, sambil meluruskan dasinya. 


"Dimitri pikir kita akan bertindak tidak rasional jika dia membahayakan Nathan," jawab Robert kemudian melirik pada Jessica. "Yah, dia pikir salah satu dari kita pasti akan melakukannya."


Dari lirikan di sudut matanya Robert bisa melihat Jessica yang tersipu malu saat saat mendengar apa yang di katakan Robert pada anak gadisnya itu. Jessica kembali melipat tangannya di sekitar dada dan memalingkan wajah dari tatapan ayahnya. Lihat, anak gadisnya itu bahkan tak menyangkal apapun dari perkataan Robert barusan.


Dan bagi Jessica sendiri tak ada gunanya dia harus menyangkalnya. Dia memang tertarik pada Nathan. Dia tidak tahu kenapa dan dia juga tidak tahu sudah berapa lama itu muncul, atau sampai kapan perasaan itu muncul, tetapi dia tahu bahwa dia memang merasakan sesuatu untuk pemuda itu.


"Jadi apa yang akan ayah lakukan sekarang?" Jessica bertanya-tanya, suaranya hampir seperti bisikan.


"Kita akan kembali ke gedung organisasi," kata Robert. "ayah akan berbicara dengan Regina dan mungkin akan meninggalkan mu di sana. Kau akan aman di sana."


"Kalau aku tidak salah, terakhir kali ayah mengatakan hal yang sama padaku," Jessica mengingatkan ayahnya.


"Ayah bicara serius kali ini. Regina akan memastikan kau lindungi di tempat yang aman." ujar Robert.


Jessica menyadari bahwa dia tidak punya pilihan selain setuju dengan apa yang dikatakan ayahnya. Dia ikut mengganti pakaiannya dengan sedikit tergesa-gesa, sebelum kemudian mengikuti ayahnya keluar dari kamar hotel itu.

__ADS_1


***


__ADS_2