Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
85


__ADS_3

"Semuanya akan baik-baik saja, Jessie" Nathan mencoba untuk menghiburnya. Ia lalu menggerakkan tubuhnya yang terasa sakit dan mencoba mengangkat tangannya dan meletakkan tangannya itu di atas tangan Jessica. Jari-jarinya perlahan-lahan bertumpu di atas tangan gadis itu, menggenggamnya. "Ayahmu pasti akan pulang karena Dimitri telah menghilang."


"Tapi dia menghilang, dia tidak tertangkap. Itulah yang membuatku tak bisa tenang." bisik Jessica. "Bisakah orang lain mencoba untuk menemukannya? Bisakah agen lain yang mengurus Dimitri? Kenapa harus ayahku?"


"Aku tidak tahu," jawab Nathan suaranya rendah tepat saat tangan Jessica mengeratkan tangannya pada genggaman tangan Nathan.


Saat ini Jessica amat membutuhkan kenyamanan dari seseorang. Dia mendambakan seseorang untuk berada di sisinya, untuknya. Jessica tidak tahu kenapa. Tapi selama ini Jessica selalu merasa seperti itu. Dia telah menghabiskan bertahun-tahun tinggal bersama ibunya yang selalu bersikap dingin. Dia tidak pernah benar-benar mengetahui dimana ayahnya sebenarnya.


Dan saat mengetahui siapa ayahnya, semua percuma, karena ayahnya yang selalu saja sibuk dengan urusannya, yang pada akhirnya di ketahui jika ayahnya itu adalah agen rahasi pemerintah.


Sebelumnya, Jessica tak pernah ingin sendirian. Ia punya banyak pacar, dikelilingi oleh banyak sekali teman-teman. Ia telah melakukan apa pun yang mungkin saja tidak akan berakhir dengan membuatnya merasa sendirian. Mereka selalu bersamanya. Tapi ia belum pernah merasa seperti saat ia sedang bersama Nathan. Jessica belum pernah berpikir bahwa seorang pria dengan rambut acak-acakan dan kacamata murah akan berhasil membuatnya begitu merasa hidup. Ia tak menyangka akan menjadi sedekat ini dengannya.


Dan dia tidak peduli. Jessica sama sekali tidak peduli jika ada fakta kalau sebenarnya Nathan sama sekali bukan tipenya yang biasanya. Nathan bahkan tak masuk dalam tipe lelaki yang selalu ia kencani. Dan Jessica justru merasakan sesuatu untuk pemuda itu. Sesuatu yang membuatnya senang.

__ADS_1


Sejauh ini, tak ada yang memberinya kenyamanan seperti yang Nathan berikan padanya. Ia hanya merasa begitu lengkap saat ada Nathan di sisinya, entah kenapa.


Nathan menggerakkan ibu jarinya di atas jari Jessica, mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk menenangkan gadis itu. Sedikit yang Nathan tahu bahwa kehadiran Jessica menyebabkan napasnya menjadi lebih cepat dan pikirannya memikirkan hal-hal yang tidak pantas pada saat itu.


'Ini tidak benar,' batin Nathan menggeleng.


Jessica melihat ke arahnya, alisnya tampak melengkung saat Nathan mendorong kacamatanya lebih jauh ke hidungnya saat Jessica melihatnya.


"Ada apa?" tanya Jessica bingung. "Kau tampak gugup?"


"Apa artian menunggu nya adalah sesuatu hal yang buruk?" Jessica bertanya-tanya.


Itu adalah hal baru bagi Nathan. Ia hanya merasa tidak begitu aman berada di sekitar wanita. Jessica tahu bahwa Nathan pasti tidak tahu bagaimana harus bersikap di sekitar wanita sepertinya. Biasanya Jessica akan menganggap hal itu tidak menarik atau agak membosankan, tetapi itu terlihat paling menarik pada Nathan.

__ADS_1


Wajahnya lucu saat gugup berada di dekat wanita.


"Bisa jadi," Nathan balas bergumam.


Mendengar itu Jessica justru malah mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat ke arah pria itu dan menyisir rambut Nathan dengan tangannya. 


Nathan terlihat sedikit gemetar di bawah sentuhan gadis itu. Melihat itu Jessica memilih untuk menggerakkan tangannya yang lain ke pipi Nathan. Jessica menutup matanya perlahan, ia tahu betul bahwa Nathan tidak akan menjadi orang yang akan memulai ciuman.


"Jadi genggamanku, mengganggumu, ya?" goda Jessica.


Pipi Nathan langsung memerah saat Jessica menjatuhkan tangannya dan memindahkan tangannya yang lain dari balaian rambutnya. 


Nathan semakin merasa gugup. Ia tampak seperti anak kecil yang tengah gugup sekarang. Dia yakin setelah ini Robert punya ide tentang Jessica dan dia. Menghabisinya mungkin. Nathan hanya berharap Robert tidak akan mengetahuinya.

__ADS_1


"Ayah," kata Jessica saat Robert terlihat berada di ambang pintu, sebelah alisnya tampak naik.


__ADS_2