Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
Part 6


__ADS_3

Jadi, dari mana saja kau selama ini, ayah?" Jessica bertanya kepada ayahnya saat mereka tengah duduk dengan santai di sebuah restoran untuk makan siang.


Robert yang duduk di seberangnya hanya diam, tidak berniat menjawab. Ia mengambil gelas berisi air putih yang baru saja di tuang oleh pelayan sesaat sebelum mereka memesan makanan.


Jessica menatap ayahnya dengan alis yang berkerut. Ia dengan sabar masih menunggu jawaban ayahnya atas pertanyaannya barusan.


"Ayah pikir kau tahu kemana ayah pergi," jawab Robert padanya dengan nada santai.


"Ayolah ayah. Bagaimana aku bisa tau. Aku bahkan tidak mendapat satupun telepon darimu selama berminggu-minggu lamanya."


"Bukankah ayah mengirimkan surat padamu?"


"Ya, benar. Ayah memang mengirim surat untukku, tapi ayah bahkan tak pernah menelepon. Mengirim satu surat, hanya itu yang ayah lakukan. Selain itu, tidak pernah ada informasi apapun tentang ayah. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Robert menghela nafas saat melihat ekspresi bertanya-tanya dari Jessica. Gadis itu terlihat sangat penasaran dengannya. Dan Robert hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan kembali mengambil gelas air yang ada di hadapannya dan menegaknya hingga habis. Dia tetap diam ketika tak lama kemudian seorang pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka.


Jessica berterima kasih pada sang pelayan sambil menyusun piring yang ada di hadapannya. Dan saat itulah Robert secara diam-diam menatap wajah dari anak gadisnya itu.


Apa yang harus aku katakan tentang ini? Robert terus menatap wajah Jessica.


Robert bertanya-tanya dalam hati apa yang harus dia katakan pada anak gadisnya di hadapannya ini. Sebenarnya bukan masalah besar jika Jessica sampai tahu tentangnya. Tentang apa pekerjaannya.


Tapi, haruskah ia memberitahu Jessica tentang hal ini? Bukankah justru akan berbahaya jika ia memberitahu hal ini pada Jessica. Ia yakin, Jessica pasti akan tertarik untuk bertanya lebih lanjut tentang pekerjaannya itu. Anak gadisnya itu akan merasa penasaran dan menuntut Robert untuk menceritakan lebih rinci tentang ini. Tentunya Robert tak ingin itu terjadi.


Lagipula, tugasnya adalah sesuatu yang sangat rahasia. Jadi, semua itulah yang membuat Robert berpikir dua kali untuk menceritakan semuanya pada anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Ayah!"


Robert tersadar dari lamunannya saat mendrngar seruan mendadak dari gadis itu.


"Ya," jawab Robert di sela keterkejutannya.


"Aku bertanya apa yang ayah lakukan sejauh ini? Apa yang terjadi?" Jessica bertanya sekali lagi pada Robert.


"Tak ada, Jessie. Ayah hanya harus mengerjakan urusan yang sangat rahasia yang di berikan oleh kantor kementrian." jawab Robert padanya.


Jessica berdecak, "Memangnya seberapa rahasia itu? Ayah bisa memberitahuku." kata Jessica sambil menyendok makanannya ke dalam mulut.


Ia lalu meletakkan tangannya di dagunya saat Jessica terlihat mulai menikmati makanan yang ada di piringnya.


Jessica mengunyah makanannya dan matanya menyipit, terlihat hati-hati saat hendak kembali bertanya pada Robert. "Ayah tahu jelas kalau aku tidak mungkin membocorkan rahasia pekerjaan ayah itu, kan?"


"Dan kau juga tahu jelas kalau ayah tidak boleh bahkan di larang membagi informasi rahasia atau apapun itu tentang apa yang di lakukan oleh Kementrian kan? Itu adalah hal yang ilegal, karena sekali lagi, itu adalah informasi yang sangat rahasia, Jessica."


Jessica memutar bola matanya malas dan menghabiskan suapan terakhirnya. Alisnya kemudian mengerut saat ia menatap kembali sang ayah.


"Aku merasa ada yang aneh," ujar Jessica pelan menatap ayahnya dengan penuh curiga.


Robert menghentikan suapannya. "Apa yang aneh?"


"Maksudku, ayah ada untuk beberapa saat, kemudian ayah bisa menghilang di menit selanjutnya. Ya, aku tahu ayah sering mengatakan kalau pekerjaan itu akan membuatmu pergi kemanapun, tapi benarkah begitu? Harus selama berminggu-minggu seperti ini?"

__ADS_1


"Sulit dipercaya memang, tapi begitulah adanya." jawab Robert yang kemudian memilih untuk mengganti topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, apa kau ingin ayah antarkan kembali ke hotel?"


"Siapa yang ingin kembali ke hotel?" Jessica menaikkan sebelah alisnya.


"Aku akan tinggal di rumah ayah. Dan apakah aku akan di izinkan untuk tinggal bersama ayah setelah malam ini?"


Robert tampak ragu untuk menjawab. Hingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya."Ya, kau boleh tinggal di rumah ayah malam ini."


"Dan besok kita akan kemana?" tanya Jessica antusias.


"Tidak ada."


"Tidak ada?"


"Kita tidak akan kemana-mana?" tanya Jessica


Robert mengangguk. "Ya."


"Baiklah... bagaimana dengan hari-hari selanjutnya. Ayah ingin mengajakku kemana lagi?"


"Ayah akan mengantarmu pulang, tentu saja."


"Pulang?"


Robert menganggukkan kepalanya. "Ya! Dan ayah sendiri yang akan mengantarkanmu ke Singapura nanti."

__ADS_1


***


__ADS_2