Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
105


__ADS_3

Jessica terdiam untuk beberapa saat sebelum kemudian dia melihat wajah Nathan yang kini mulai terlihat memerah.


Melihat raut wajah pemuda itu, Jessica mengerti dengan jelas apa yang sedang Nathan pikirkan.


Jessica langsung mengibaskan tangannya, "Bukan... bukan itu yang aku maksud... tidak... aku hanya... maksudku... ya aku tidak bermaksud mengatakan kalau..."


"Ya ampun, astaga." ujar Nathan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia terkekeh kecil. "Maafkan aku. Aku pikir kau mengajakku melakukan sesuatu yang lain. Ya, seharusnya aku tidak berpikir hal konyol seperti itu. Aku kan tidak mungkin melakukannya denganmu saat ini..."


"Hah? Tidak mungkin?" Jessica menaikkan sebelah alisnya.


Melihat raut wajah Jessica entah kenapa Nathan jadi merasa salah bicara. Nathan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, jangan sampai Jessica nanti merasa kalau Nathan mencoba menolaknya.


"Bu-bukannya aku tidak mau melakukannya denganmu. Kau cantik tapi... maksudku... aku-"

__ADS_1


"Aku mengerti," kata Jessica, senyuman mungil terbentuk di bibirnya saat dia mendengar ocehan Nathan itu. "Lagipula aku sedang tidak mood melakukan apapun."


Jessica dengan cepat kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur untuk beristirahat di kasur. Ia harus merilekskan tubuhnya dan juga otaknya.


Nathan sendiri tengah terdiam di tempatnya. Ia lalu menghela napasnya pelan sebelum akhirnya ia bergerak dengan hati-hati, mulai melepas pakaiannya sebelum berjalan ke arah kamar mandi dan memilih untuk meninggalkan gadis itu di tempat tidur.


Hati Nathan entah kenapa merasa kecewa atas perkataan Jessica padanya barusan. Jessica bilang dia sedang tidak mood? 


Apakah itu artinya dia akqm melakukan itu saat dia sedang mood? Jadi apakah selama ini dia pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya dengan laki-laki lain, apa begitu maksudnya?


"Dia tidak mood melakukannya denganku? Apa aku sebegitu tak menariknya?"


Dia merasa bahwa Jessica pasti bersama orang lain sebelum bersamanya. Bukankah Jessica bahkan telah mengakui bahwa dia memang memiliki hubungan dengan banyak lelaki di masa lalu?

__ADS_1


Tapi apa jangan-jangan Jessica akan melakukan itu jika sedang mood dengan laki-laki selain dirinya? Mungkin Nathan bersikap naif atau mungkin dia memang bodoh. Nathan juga tidak tahu.


Nathan tetap diam sebelum kemudian membilas wajahnya dengan air sebelum kemudian menyikat giginya.


"Nathan," bisik Jessica begitu Nathan masuk kembali ke dalam kamar. "Bisakah aku ikut denganmu besok?"


Nathan menggantung pakaiannya di lemari dan langsung menganggukkan kepalanya sambil melepaskan kacamata dari pangkal hidungnya. Ia lalu meletakkan kacamata itu di meja yang ada di samping tempat tidur kemudian segera duduk di sebelah Jessica di tempat tidur.


"Tentu saja bisa" Nathan menjawabnya. "Aku tahu kalau kau tidak ingin sendirian di rumah. Tidak apa-apa, Jessica. Ikutlah jika kau ingin."


"Terima kasih," bisiknya dan Nathan mengangguk dengan senyum. Ia lalu bergerak untuk mematikan lampu. 


Nathan berbaring telentang, melihat ke langit-langit sementara Jessica sedang beristirahat di sisinya. Dia memejamkan mata dan diam, napasnya terdengar masih agak cepat dan Nathan tahu bahwa gadis itu tidak akan tidur dalam waktu dekat.

__ADS_1


Perlahan, Nathan menggerakkan tangannya untuk meraih salah satu tangan gadis itu. Jessica langsung menyambut dan mencengkeram tangannya. Gadis itu menghela nafasnya perlahan, melakukan yang terbaik sebisanya untuk tidur malam itu.


***


__ADS_2