
"Pergi? Tapi kenapa?" Jessica bertanya-tanya ketika Nathan menutup pintu dan menguncinya lagi.
Robert melihat ke sekeliling ruangan, ketakutan menguasai dirinya saat dia berdiri di depan putrinya dan mengusap rambut anaknya yang kering. Dia membungkuk sedikit dan menatap mata gadis itu, tahu betul bahwa dia telah membahayakan anaknya itu.
"Seseorang sudah mendobrak tempat tinggalmu di Singapura," kata Robert padanya. "Mereka menghancurkan semua barangmu dan membuat kekacauan yang gila."
"Apakah menurutmu itu Dimitri? Apakah itu dia?" Jessica bertanya sebelum Robert menyerahkan kantong plastik penuh pakaian yang baru saja dibelinya dalam perjalanan kemari.
"Aku cukup yakin itu," Robert berujar padanya. "Pergi dan ganti baju. Kita akan pergi ke Yogyakarta."
"Kenapa kesana?" Jessica bertanya-tanya tepat saat dia merasakan tatapan Nathan terkunci padanya.
"Ada penginapan kecil di dekat pantai di sana." Robert memberitahunya. "Aku sudah lama tinggal di sana. Jauh sekali, jadi—"
"Ada banyak tempat terpencil di tepi laut," protes Jessica. "Yogya bukan satu-satunya tempat yang memiliki tempat tinggal di tepi laut."
"Tidak, tapi itu jauh dari Jakarta. Itu tujuanku, Jess. Aku akan membawamu sejauh mungkin dari Jakarta untuk saat ini. Regina, atasan baru masih mencari Dimitri. Dia bilang belum ada tanda-tanda apapun dari dia."
"Konyol," gumam Jessica sebelum mengambil tas belanja dari ayahnya itu dan melihat-lihat di dalamnya. "Dan bagaimana ayah bisa tahu bahwa ini adalah ukuranku?"
"Ukuran wanita tidak sulit untuk dipahami, Jessie," Robert meyakinkannya sebelum Jessica bergerak dengan pelan dan agak pincang. Robert tetap diam ketika dia melihat anak gadisnya menutup pintu kamar mandi.
Kemudian dia melihat ke arah lubang peluru yang ada di dinding. Alisnya melengkung karena merasa lucu. "Kau menarik pelatuknya, Nathan?"
"Tidak," jawab Nathan. "Putrimu memutuskan untuk menembak tembokku."
"Dan bagaimana dia mengaturnya?"
"Yah, aku tidak mengerti. Dia hanya menggunakan pistol," kata Nathan, suaranya kering sebelum kemudian dia melihat laptopnya. Nathan diam untuk beberapa saat untuk memikirkan apa yang telah dia dan Jessica lakukan sebelumnya dan pipinya mulai memerah. "Dia bisa melepaskan tembakan yang bagus jika dia mencobanya denganmu."
"Aku tidak ingin dia berada di dekat senjata," jawab Robert, nada suaranya terdengar rendah sebelum kemudian dia mengusap pipinya. Dia menarik dasinya agar lebih longgar sebelum kemudian dia berbalik untuk melihat Nathan dan saat itulah ia bisa memperhatikan sedikit rona merah di pipi pemuda itu.
__ADS_1
"Yah, dia mungkin tidak punya pilihan, jika kau melarangnya." jawab Nathan. Ia lalu melanjutkan kalimatnya. "Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Bersembunyi di tempat tujuanmu itu sampai semua ini berakhir? Apakah kau tidak berpikir kalau dia akan bisa menemukanmu di sana?"
"Aku tahu dia mungkin akan menemukanku dan Jessica," kata Robert. "Tapi bukankah tinggal di kota seperti ini juga tidak akan membantu. Dia tahu lebih banyak tentang aku dan Jessica daripada yang aku pikirkan. Tapi aku hanya ingin tahu mengapa dia melakukannya. Dia sudah membunuh Marry tapi masih mengejar Jessica. Aku tidak yakin kalau membunuh Marry itu cukup untuknya?"
"Tidak akan ada yang cukup untuk pria seperti Dimitri," kata Nathan, menyesap teh melatinya kemudian mendorong pistol ke ujung meja makan. "Dia tahu bahwa dia sudah berhasil membuat organisasi kita agak sedikit merasa gelisah. Ya, apa cara yang lebih baik untuk mengalihkan perhatian organisasi. Tentu saja dengan membuat agen terbaik mereka sibuk menyembunyikan anak gadisnya."
"Aku bukan agen terbaik," jawab Robert kepada Nathan.
"Salah satu," gumam Nathan. "Apa bedanya? Dia bertemu denganmu. Dan dia tahu dia bisa menyiksamu. Apalagi setelah mengetahui keberadaan anak gadismu yang berharga."
"Dia menyiksaku dengan baik melalui putriku," gumam Robert sinis. Ia lalu melanjutkan kalimatnya. "Ada pesan dari atasan baru kita...Regina. Dia bilang kalau kau akan dibutuhkan. Untuk itu kembalilah ke organisasi."
"Ah benar," kata Nathan mendorong tutup laptopnya ke bawah. "Yah, aku akan mengantarmu pergi. Baru setelah itu aku akan melanjutkan perjalanan ke organisasi."
Robert memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil pistol dari atas meja makan dan menyelipkannya ke ikat pinggangnya kemudian menunggu putrinya muncul kembali.
Jessica keluar beberapa saat kemudian. Dia melangkah mendekat pada Robert sambil sesekali merapikan pakaiannya. Celana ketat yang saat ini ia kenakan menempel dengan sempurna di tubuhnya dan cukup gelap untuk membantu menyembunyikan perban putih yang ada di sekitar kakinya. Dia mengenakan atasan kaos putih sederhana yang dimasukkan ke dalam celana dan di tambah lagi dengan blazer yang menutupi kaos itu.
Apa ini? Selera berpakaian ayahnya begitu cocok untuknya. Tapi tentu saja, dia kan ayahnya.
"Kurasa berat badanku bertambah," keluh Jessica sambil berjalan terpincang-pincang mendekati ayahnya.
"Kau terlihat baik-baik saja," ujar sang ayah tersenyum padanya. "Ayo, perjalanan kita akan panjang."
"Aku mengerti," Jessica mengangguk kembali ke ayahnya.
Nathan memasukkan tangannya ke dalam mantelnya untuk menemukan kunci rumahnya lagi. Dia melangkah untuk meninggalkan laptopnya di atas meja kerja dan mengikuti Robert yang saat ini telah membawa Jessica keluar dari pintu. Nathan segera mengunci pintu rumahnya sebelum kemudian mereka pergi.
Robert kini sudah bergegas lebih dahulu ke depan mereka, bergerak dengan agak tergesa-gesa berada jauh dari mereka.
"Apakah kau akan baik-baik saja?" Nathan memberanikan diri untuk bertanya saat Jessica berjalan di sisinya dan Robert diam-diam mengamati percakapan itu dari depan.
__ADS_1
"Di Yogyakarta?" Jessica balas berbisik, perlahan menuruni tangga dengan satu tangan di besi untuk membantunya melangkah. "Aku akan baik-baik saja. Dialah yang aku khawatirkan."
Alis Nathan berkerut bingung saat dia melihat ke bawah tangga menuju ke arah Robert dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku mantelnya. Dia menunduk ke bawah, ke lantai, sebelum kemudian ia memperbaiki kacamatanya yang tergelincir di ujung hidungnya saat dia menundukkan kepalanya.
"Mr. Robert?" Nathan memastikan. "Kenapa kau mengkhawatirkan dia?"
"Dia pasti terlalu lama berada di bawah tekanan karena aku," bisik Jessica. Satu tangan gadis itu terangkat untuk mendorong rambutnya ke belakang telinga. "aku yakin dia akan segera menjadi gila."
"Sepertinya semua orang penuh dengan kekhawatiran yang tinggi," Nathan berujar dengan nada santai. "Ini persis seperti apa yang diinginkan Dimitri."
"Jessica, bisakah kau mengatasinya?" Robert bertanya saat dia menolehkan kepalanya untuk melihat putrinya. Ia merasa anak gadisnya terlalu lama bicara pada Nathan.
Jessica mengangguk pada ayahnya dan akhirnya ia sampai ke anak tangga terbawah tempat Robert berada. Robert mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Jessica, menggenggamnya erat-erat sebelum kemudian turun ke jalan.
"Aku akan jalan-jalan sebentar di sekitar sini sebelum naik taksi," Nathan memberi tahu mereka berdua.
"Kau akan mengawasi?" Robert bertanya-tanya, akhirnya memanggil taksi.
"Tentu saja," kata Nathan, tatapannya beralih ke Jessica saat dia menjawabnya.
Jessica tidak ingin mengatakan apa-apa di hadapan ayahnya. Dia tahu bahwa ayahnya tidak akan menyetujui apapun yang ia pikirankan pada saat itu. Ya, seperti mengucapkan kalimat perpisahan yang romantis pada pria muda itu contohnya. Dan Nathan juga seperti mengerti. Ia tahu bahwa Robert pasti akan menembak lebih dari tembok rumahnya jika dia mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
"Ayo, Jess," Robert mendesaknya, tak tahan melihat tatapan menyedihkan dari dua anak muda itu dan memilih untuk buru-buru membuka pintu belakang taksi.
Jessica mengangguk. Ia mengambil satu detik untuk melirik ke arah Nathan, tersenyum dengan lembut pada pemuda itu. "Sampai jumpa, Nathan," ujar Jessica kemudian.
"Selamat tinggal, Jessica," jawab Nathan dan gadis itu segera masuk ke dalam taksi.
Robert menyeringai, memasukkan tangannya ke dalam saku jas nya sebelum kemudian ia melemparkan tas yanga da di tangannya ke dalam taksi.
"Pastikan rona merah di pipimu itu hilang, Nathan" Robert menasihatinya. "Itu tidak seperti dirimu pada umumnya. Kau terlihat seperti sedang jatuh cinta."
__ADS_1
***