
Nathan segera berlari dengan agak tergesa- gesa. Ia bergegas kembali ke koridor rumah sakit sampai dia datang ke bilik tempat Jessica di rawat tadi dan sampai sebuah ruangan tempat Jessica berada.
Jessica tersenyum lembut pada Nathan saat dia berusaha untuk duduk tegak lagi. Nathan lalu mencoba untuk ikut memaksakan senyum tipis di wajahnya, mencoba untuk membalas senyum gadis itu.
Saat ini Nathan berdiri di tengah ruangan, menatap Jessica dari situ. Ia merasa terlalu gugup untuk bergerak maju dan lebih mendekat.
Nathan bisa melihat selimut kini menutupi kaki Jessica, menyembunyikan kakinya yang terluka dari pandangan. Ia kini mengenakan pakaian biru dari rumah sakit di tubuhnya yang kurus dan Nathan menyadari wajah Jessica tampak kurus dan juga pucat.
Sebuah nampan diletakkan di atas meja tepat di atas tempat tidurnya. Terlihat sandwich dan juga sebotol minuman yang belum dimakan di atasnya, entah kenapa.
"Aku..."
Kalimat Jessica terhenti. Ia terdiam, tidak terlalu yakin apa yang harus dia katakan kepada Nathan karena ulahnya terakhir kali pada pemuda itu.
Dia punya perasaan bersalah dan merasa bahwa dia harus meminta maaf pada Nathan karena sudah memanfaatkan cinta yang dimiliki oleh lelaki itu dan lari meninggalkan Nathan begitu saja.
Jessica tidak tahu kenapa tapi saat ini ia hanya ingin marah pada dirinya sendiri. Jessica lalu menundukkan kepalanya.
"Aku seharusnya tidak lari apalagi berbohong padamu waktu itu." cicit Jessica.
"Tidak," Nathan dengan cepat menggelengkan kepalanya dan bergerak untuk duduk di sisi tempat tidurnya.
Nathan kemudian meletakkan jaketnya di kursi yang ada di sebelah tempat tidurnya. "Jessica, jangan salahkan dirimu untuk ini. Semua ini bukan salahmu."
"Bagaimana bisa ini bukan salahku?" Jessica mendengus miris kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Nathan. "Ayahku mengatakan kepadaku bahwa rasa bersalah akan mengelilingiku jika aku terus menyalahkan diriku sendiri. Aku hanya merasa sulit untuk tidak melakukannya. Rasa bersalah terus menghinggapi hatiku."
__ADS_1
"Ayahmu benar," Nathan berujar padanya dengan ekspresi serius, "walaupun menyakitkan bagiku untuk mengatakannya. Apa yang terjadi jelas sudah direncanakan, kau tau itu. Dan itu direncanakan oleh John. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Jangan biarkan dia menghancurkan dirimu. Ibumu tidak akan menginginkannya... dan ayahmu, ayahmu jelas tidak menginginkan kau menyalahkan dirimu sendiri... dan aku juga... aku tidak menginginkannya, Jessica."
Gadis itu menggerakkan salah satu tangannya yang gemetar untuk menggenggam jari-jari Nathan. Nathan mengangkat sebelah tangannya dan memeluk Jessica dengan lembut.
"Kau tidak marah padaku kan, Nathan?" Jessica tiba-tiba bertanya padanya.
Nathan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku bisa marah padamu? Jangan khawatir aku marah atau tidak, Jessica."
Jessica tersenyum, kemudian Nathan melepas pelukannya dan Jessica bergerak untuk menyesuaikan tempat duduknya di tempat tidur.
"Apakah kau sudah makan sesuatu?" Nathan bertanya. Sejujurnya ia tahu betul kalau gadis itu bahkan belum makan, makanannya tetap utuh, berada di atas meja makan kecil di atas tempat tidur.
"Aku tidak lapar," Jessica menjawab.
Nathan dengan cepat menggelengkan kepalanya dan melepaskan pegangan tangannya. Dia mengambil minuman botol itu dan membuka tutupnya. Nathan harus mengakui bahwa makanan itu tidak terlihat menggugah selera. Nathan berpikir kalau Jessica harus mengabaikan itu dan tetap memakan makanannya. Nathan kemudian mendorong makanan itu lebih dekat pada Jessica.
"Ya, ayah," dia memutar bola matanya malas dan berusaha untuk mengangkat lengannya ke atas. Rasa sakit di tulang rusuknya membuat Jessica merasa agak gelisah setelah dia tidak bergerak begitu lama.
Nathan sendiri tengah fokus membuka plastik sandwich untuk Jessica. Dan Nathan segera mengeluarkan makanan itu lalu mendekatkannya pada mulut Jessica, hendak menyuapi gadis itu.
"Kau benar-benar akan memberiku makan seperti ini? Kau memperlakukanku seperti bayi?" Jessica bertanya dengan nada malas.
"Buka saja mulutmu dan makan, Jessica," Nathan menuntut padanya.
Jessica diam dan memilih untuk melakukan apa yang Nathan katakan padanya. Dia meminum minuman itu dan memakan sandwich yang di suapkan oleh Nathan.
__ADS_1
"Aky tahu bahwa aku harus mengatakan sesuatu," jawab Jessica dengan tergesa-gesa pada Nathan. "Aku tahu bahwa setidaknya aku harus mencoba untuk berbincang-bincang. Maksud ku ... sebelumnya aku menghabiskan berjam-jam untuk menangis pada ayahku ..."
"Dia ayahmu," jawab Nathan. "Kau bisa menangis bahkan sampai berhari-hari padanya."
Jessica diam sebelum menatap Nathan sementara Nathan kembali menyuapkan sandwich kepadanya.
"Kurasa aku tidak bisa menangis lagi," jawab Jessica. "Aku pasti akan dehidrasi jika aku melakukan itu..."
"Kau harus segera istirahat," Nathan memberitahu padanya. "Kau harus makan dan kemudian tidur."
"Kau tidak akan pergi, kan?" Jessica bertanya untuk memastikn dan Nathan menggelengkan kepalanya.
"Aku akan tetap berada di sini."
Jessica tersenyum senang dan kembali merasa tenang. Ia menyelesaikan makannya sebelum Nathan menyuruhnya untuk berbaring.
Nathan hampir bergerak dari tempat tidur ketika dia merasakan tangan Jessica menggenggam tangannya, menghentikannya untuk pergi ke mana pun.
"Aku ingin meletakkan bungkus bekas ini di tempat sampah," ujar Nathan.
"Tetaplah di sini!" pinta Jessica dan Nathan menghela dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah itu Nathan memilih diam dan tetap duduk di tempatnya, pikirannya bertanya-tanya kembali melalui peristiwa hari itu.
'Kau pasti sangat menderita,' batin Nathan menatap wajah Jessica.
__ADS_1
***