Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
119


__ADS_3

Nathan langsung menekan tombol di speakernya, ia berharap Robert ingat untuk memasang earphone yang sempat dia lepaskan beberapa saat lalu.


"Robert? Apakah kau masih di sana?" Nathan bertanya-tanya pada Robert.


"Ada apa?" Robert akhirnya menjawab. "Dia sudah tidak ada di sini, Nathan. Dia tidak ada di alamat ini."


"Ya, itu karena dia sudah membawanya menuju ke arah luar kota. Aku tidak melihat ada tanda-tanda Jessica di dalam mobil, tapi pria itu sudah pasti John. Dia mungkin membawa Jessica di bagasi mobilnya. Dan Robert... kami terus mengikuti jejak mobilnya dari cctv sejak tadi. Dia memang pergi ke luar kota. Aku tidak tahu kemana pastinya, tapi dia pergi ke luar kota.."


"Luar kota?"


"Ya, dia berbelok ke jalan poros yang akan menuju ke luar kota! Jalanan itu hampir bisa di katakan jalanan hutan, tidak akan ada kamera cctv di sana."


"Aku akan mengikutinya" kata Robert, derit ban mobil kemudian terdengar melalui speaker dan menggema di seluruh ruangan kantor. 


"Aku akan mengirimkan gambar mobil dan juga nomor plat-nya untukmu. Kau periksa ponselmu." ujar Nathan.

__ADS_1


"Ya!" jawab Robert. "Dan juga, apakah kau masih mengerjakan kuncinya, Nathan?"


Nathan menoleh ke belakangnya ke arah meja dengan desain yang tengah dia kerjakan sejak tadi di atasnya. Dia jelas tidak bisa melacak Jessica dan juga mengerjakan pekerjaan kunci pada saat yang bersamaan. Nathan lalu mengambil waktu sejenak untuk diam sebelum kemudian dia berdehem dengan canggung.


"Ya, aku mencoba untuk mengawasi John," Nathan mencoba memberitahu Robert. "Sebenarnya aku tidak bisa melakukan dua hal sekaligus."


"Nathan, mungkin saja kita masih membutuhkan kuncinya," jawab Robert. "Kita belum menangkapnya untuk saat ini. Jadi pasti kunci itu masih masuk dalam rencana kita, Nathan."


Dan kemudian sambungan telepon itu mati. Robert mematikannya sepihak. Nathan mengutuk pelan sebelum Alice melihat ke arahnya. Gadis itu terlihat diam, sepertinya mengambil beberapa saat untuk memikirkan sesuatu sebelum dia berbicara dengan ekspresi wajah yang terlihat tenang.


Tidak. Nathan ingin menjadi orang yang akan melacak Jessica. Dia hampir tidak bisa mengatakan itu kepada Alice. Kehidupan pribadinya memang tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya namun kedua hal itu kini tampaknya terjalin sejak Jessica ada.


"Ya, aku bisa mengerjakan kunci-nya jika itu yang anda khawatirkan." Alice menjawab Nathan merapikan pakaiannya. "Seperti yang anda tau kalau saya memiliki gelar di bidang-"


"Aku tidak meragukan kemampuanmu, Alice" Nathan mencoba memberitahunya. "Ya ... aku pikir aku akan lebih suka tinggal di sini saja... maksudku... kalau-kalau Robert membutuhkanku lagi ..."

__ADS_1


"Anda tidak perlu membuat alasan seperti itu pak," Alice berkata padanya. Ia berjalan ke meja yang ada di belakang untuk melihat-lihat desain pekerjaan Nathan. "Sejujurnya saya tahu kalau anda tengah mengkhawatirkan putrinya. Seluruh orang di organisasi sudah tahu bahwa kalian berdua memang memiliki sesuatu."


Alis Nathan sontak berkerut saat mendengar itu dan dia melihat ekspresi wajah John di monitornya. Dia menundukkan kepala sambil menggertakkan giginya sebelum kemudian dia berbicara.


"Jessica dan aku... kami berteman," kata Nathan, mencoba berbohong. "Dia telah melalui banyak hal baru-baru ini. Banyak hal... yang tidak bisa aku pahami."


"Ya, sejujurnya kami semua tahu bahwa kau membawa nona Jessica dalam perjalanan seharian. Dan salah satu dari teman-teman bahkan mengatakan dia melihat kalian berdua berciuman di luar sebelumnya," jawab Alice. "Kenapa anda harus menyembunyikannya. Kau diizinkan untuk menjalin hubungan, kau tahu. Itu membuatmu tampak normal."


Nathan hanya mencemooh perkataan Alice itu dan mulai mengetik lagi di komputer.


"Siapapun yang melihat kami. Tolong kau ingatkan aku untuk menempatkannya pada tugas sampah, nanti" gumam Nathan sambil terus fokus pada komputernya.


Alice menyeringai dan menoleh ke belakang untuk melihat Nathan tetap berdiri di dekat meja kerjanya. Bibirnya terangkat dan dia menggelengkan kepalanya pelan. Alice memikirkan uang yang akan hilang dari taruhan bersama teman-teman kerjanya. Ya, teman-temannya yang lain memang sempat mengajaknya bertaruh tentang... apakah putri dari Robert memang menjalin hubungan dengan Nathan atau tidak.


'Mereka berteman? Jadi apakah aku akan kalah taruhan dan kehilangan uangku?' batin Alice.

__ADS_1


***


__ADS_2