
Nathan berkeliling di sekitar ruang tamu rumah Robert, melihat-lihat perabotan sederhana. Hanya ada sebuah sofa kulit dan televisi, itu saja. Sepertinya Robert baru saja pindah.
Nathan duduk di kursi kulit sebelum kemudian ia melihat pintu kamar Jessica terbuka lagi. Gadis itu telah berganti pakaian menjadi gaun hitam panjang. Dia tidak melakukan apa pun pada rambutnya, membiarkannya tergerai dan dia membawa tas hitam kecil di tangannya.
"Cepat sekali" komentar Nathan.
"Aku hanya mengganti bajuku," jawab Jessica sambil mengikuti Nathan berjalan keluar rumah. Ia lalu memeriksa bayangannya di kaca jendela. "Bisakah kau melihat memarnya atau aku perlu merias wajah lagi?"
Nathan menggelengkan kepalanya. Tandanya sudah sangat memudar dan tidak terlihat apa-apa di balik riasannya.
Dia menawarkan lengannya dan Jessica dengan cepat merangkulnya dan mengikuti Nathan berjalan di jalan.
Jessica melihat ke sekelilingnya, seolah terus-menerus mencari tanda bahaya di sekitarnya. Nathan menggelengkan kepalanya, mencoba untuk meyakinkan gadis itu kalau tidak apa-apa. Tapi Jessica lebih memilih untuk mengeratkan rangkulannya di lengan Nathan.
Jessic membawa Nathan ke sebuah rumah makan di sudut jalan yang sempat ia lihat beberapa waktu sebelumnya.
"Kau pasti berpikir untuk segera kembali ke Singapura," Nathan berkomentar ketika Jessica mengambil stik roti dan mengunyah ujungnya.
"Kurasa," jawabnya. "Aku pikir aku punya waktu satu bulan lagi. Itu tidak terlalu lama. Tapi entah kenapa terdengar seperti lama. Aku sangat merindukannya ... sebuah kondisi normal. Ya, beberapa sahabatku juga meneleponku.
Nathan hanya diam terus memperhatikannya saat gadis itu melihat semua orang di dalan rumah makan itu.
__ADS_1
"Kau tahu bahwa aku tidak pernah terlibat dalam suatu hubungan," Nathan mulai berbicara, mencoba mendekati topik yang sensitif diantara mereka. "Hubungan terakhir yang aku jalani adalah dengan seorang gadis di universitas. Dia punya otak yang secerdas diriku, tetapi dia pindah ke Amerika Serikat. Sejak itu aku hanya peduli dengan pekerjaan. Selama itu aku tidak pernah mempertimbangkan perlunya suatu hubungan."
Jessica mengambil waktu beberapa saat sebelum kemudian ia tersenyum kecil. Dan itu adalah senyum pertama yang Nathan baru lihat kembali setelah beberapa waktu.
"Saya pikir kau mungkin sedang mencoba untuk menanyakan sesuatu kepadaku," ujar Jessica. "Kau tidak benar-benar blak-blakan tentang masalah ini."
"Aku tidak blak-blakan tentang hal-hal seperti ini," Nathan membalasnya. "Ngomong- ngomong, yang ingin aku katakan adalah aku ingin melihatmu lagi bahkan ketika kau tidak ada di sini."
"Jika aku tidak di sini maka kau tidak bisa melihatku," Jessica mencoba menggoda Nathan. Jessica bisa melihat pipi pemuda itu yang mulai memerah sebelum kemudian Nathan memutar matanya.
"Jangan mengerjaiku, Jessica. Aku serius..." ujar Nathan dengan senyum sambil menggelengkan kepalanya lalu menatap makanannya.
Senyum tulus muncul di wajah Jessica. Dia menggerakkan tangannya untuk memegang jari Nathan dan dia mencium pipi pemuda itu.
"Jadi kau masih ingin bertemu denganku, kan?" Nathan memastikan. Suaranya terdengar ragu-ragu.
Jessica tidak mengatakan apa-apa, ia memutuskan untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Nathan. Dia menciumnya dengan kecupan kecil sebelum menarik kembali.
"Ya," jawab Jessica dengan bisikan lembut. "Aku ingin selalu bertemu denganmu, Nathan."
"Apakah kita perlu memberi nama hubungan kita ini?" Nathan bertanya-tanya pada Jessica. "Orang lain sering melakukan itu."
__ADS_1
Jessica mendengus kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Kita tahu apa hubungan kita. Kami tidak perlu mempertegasnya lagi, Nathan. Lagi pula, aku ragu kau mau disebut sebagai pacarku."
Nathan mengangkat bahu dengan canggung. "Ya aku tidak keberatan jika kau ingin mengubah status sosial mediamu jadi 'berpacaran', contohnya. Ya, seperti yang orang-orang sering lakukan."
Jessica membiarkan senyum muncul di wajahnya ketika dia meminum sedikit air dari gelasnya.
"Kau harus berhenti menguntit sosial mediaku," ujar Jessica. "Aku tau itu adalah hal wajar bagi programer organisasi untuk mengetahui segalanya tentangku , tetapi itu masih agak sedikit membuat ku merinding."
"Aku tidak bisa berjanji," Nathan menyeringai dan Jessica memutar bola matanya saat mendengar jawabannya.
Dia menggigit stik roti lagi sebelum kemudian makanan lain yang mereka pesan disajikan. Mereka makan dengan percakapan yang tenang sepanjang sisa hari itu.
Tangannya tetap berada di lengan Nathan saat mereka membayar tagihan. Jessica dengan iseng melihat ke luar jendela rumah makan.
Dan detik itu juga, Jessica bisa melihat warna rambut pirang putih yang tampak familiar baginya tengah berjalan membelakanginya. Dia mencoba menyipitkan kedua matanya, mempersempit pandangannya untuk berkonsentrasi.
Dia tidak mengatakan apa-apa karena Nathan masih fokus membayar. Jessica menggelengkan kepalanya, mencoba mengabaikannya dan melihat kembali pada Nathan. Ia melingkarkan kedua lengannya dan menempelkan pipinya di bahu pemuda itu.
'Warna rambut itu... sepertinya itu dia' batin Jessica.
Jessica lalu kembali menggelengkan kepalanya. Ia harus berhenti khawtir setiap kali sesuatu mengingatkannya pada masa lalu.
__ADS_1
Rambut pirang seperti itu bukan hanya milik Dimitri. Seseorang dengan rambut pirang putih tidak berarti bahwa itu adalah dia. Itu tidak mungkin dia.
***