Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
78


__ADS_3

Tak lama kemudian mereka kembali berada di ruang kerja Nathan. Jessica tetap diam saat dia duduk di kursi kosong di ruangan kerja Nathan. 


Dari kejauhan Jessica bisa melihat dengan jelas saat ayahnya sedang berbicara dengan seorang wanita bertubuh tinggi yang ia ketahui bernama Evelyn. Ah bukan, tapi menurut Jessica ayahnya itu lebih terlihat seperti sedang mencoba menggodanya.


Evelyn, wanita itu sangat cantik dan Jessica tidak bodoh untuk mengetahui perasaan ayahnya dengan cara ayahnya memandang wajah wanita cantik itu. 


Jessica menghela dan menggeleng pelan.


Dia hanya berharap suatu saat nanti ayahnya itu akan berusaha menemukan seseorang untuk melanjutkan hidupnya lagi. Mungkin itu akan membawa keseimbangan dalam hidupnya. Namun detik selanjutnya Jessica mentertawai dirinya sendiri. Ia mengira bahwa ayahnya itu tidak mungkin menginginkan keseimbangan apapun karena menjadi bagian dari organisasi pemerintah seperti ini tidak membutuhkan keseimbangan hidup apapun.


Ayah pasti hanya akan fokus pada pekerjaannya saja di bandingkan dengan istrinya nanti. Jessica terkekeh, menggelengkan kepalanya. 'Ayah mungkin hanya akan menyewa pelac*r jika dia menginginkan se*s!' batin Jessica.


"Kau diam selama sepuluh menit terakhir, Jessie" Robert berujar pada putrinya yang sejak tadi duduk diam di kursi Nathan. 


Robert bisa melihat selimut yang Jessica gunakan saat ini. Itu adalah selimut yang Jessica gunakan saat terakhir kali berada di sini. Jessica meletakkannya di atas bahunya sementara tangannya terlihat memegang cangkir milik Nathan di tangannya, Jessica tampak mengagumi benda itu.


"Aku tidak tahu harus berbuat atau berkata apa sekarang," jawab Jessica kepadanya. "aku juga tidak bisa menawarkan kata-kata bijak karena sudah jelas ayah tidak akan mendengarkan apapun."


Evelyn yang berada di dekat mereka sejak tadi hanya diam saat memasang kabel kecil di dalam pakaian Robert. Mata Eve sesekali melirik pada Jessica dan dia bertanya-tanya dalam hati tentang betapa sulitnya jika dia berada di posisi gadis itu.

__ADS_1


"Semuanya akan berjalan sesuai rencana," Robert berjanji pada anaknya itu. "Dimitri tidak akan memenangkan perang ini. Dan Nathan… dia akan segera kembali, begitu juga ayah."


"Bagaimana ayah bisa tahu itu? Dulu aku bisa percaya itu. Dulu aku berpikir kalau itu benar. Tapi sekarang?" Jessica mendecih. "Terakhir kali, Dimitri mencoba meledakkan kereta api. Dia juga menembaki gedung organisasi. Dia menculik Nathan. Lalu bagaimana kita bisa yakin? tentang apapun sekarang?"


Robert tahu jelas putrinya itu pasti sangat khawatir. Dan sialnya, bahkan Robert juga mulai merasa sedikit khawatir tentang semua yang terjadi. 


Apa yang Jessica khawatirkan sebenarnya juga ia khawatirkan di lubuk hatinya yang terdalam. Ah, Robert sangat ingin semua ini selesai. Dia tidak ingin melawan Dimitri lagi. Dia ingin melanjutkan hidupnya, ah bukan, tapi dia harus melanjutkan hidup.


Robert menarik jasnya ke tubuhnya dan berlutut di depan kursi tempat Jessica duduk saat ini. Gadis itu masih memperhatikan cangkir yang dipegangnya dan tersenyum sejenak. Robert tahu siapa pemilik gelas itu. Sejauh ini hanya Nathan yang memiliki cangkir seperti itu. Robert lalu menggerakkan tangannya untuk menyisir rambut Jessica dengan lembut, mendorongnya ke belakang telinganya anak gadisnya itu.


"Kau pasti akan cukup aman berada di sini," kata Robert pada Jessica. "Evelyn akan memastikannya."


"Ayah akan segera kembali, Jessie." ujar Robert lagi.


"Janji padaku," Jessica menuntut janji dari ayahnya, Robert terdiam. "Ayah, kau harus berjanji padaku. Kau berjanji-lah kalau kau akan kembali."


"Aku berjanji padamu," kata Robert, mencium puncak kepala Jessica. 


"Ini konyol," keluh Jessica dengan suara kecil kepada ayahnya. "Semua ini konyol. Kita harus terus berpisah begini."

__ADS_1


Robert menganggukkan kepalanya setuju, menatap dengan senyuman kaku pada gadis kecilnya itu.


Dia memeluk putrinya selama beberapa detik sebelum kemudian melepaskannya kembali. Tangannya menggenggam tangan Jessica. Pandangannya beralih ke samping dan dia melakukan yang terbaik untuk tetap merasa tenang dan semakin tenang.


"Lakukan semua yang diperintahkan untukmu," Robert mendesak putrinya. "Pastikan itu."


"Iya."


"Dan jangan melakukan sesuatu yang berbahaya atau sembrono," Robert terus berbicara, mencoba untuk memperingatinya. "Ayah akan kembali nanti."


"Tetaplah aman ayah," Jessica membisikkan satu-satunya nasihat yang bisa dia berikan kepada ayahnya. 


Robert mengelus punggung tangan Jessica kemudian bangkit. Robert tahu bahwa dia harus pergi sebelum perasaannya di hatinya pecah dan menjadi 'cengeng'.


Dia berbalik dan mengangguk pada Eve yang ada di dekat Jessica. Gadis itu terlihat mengangguk kembali pada Robert. Ia menatap pada Jessica sekali lagi, memastikan bahwa anak gadisnya itu baik-baik saja dengan semua yang akan terjadi. 


Robert lalu meninggalkan ruangan itu. Benar-benar pergi dengan sepenuhnya berniat mengembalikan Nathan ke rumahnya dan memasukkan Dimitri ke penjara.


***

__ADS_1


__ADS_2