Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
134


__ADS_3

Nathan harus mengakui bahwa saat ini dia benar-benar gugup saat duduk di kursi penumpang di mobil Jessica. Ia melirik Jessica yang tengah menyetir di sebelahnya.


'Apa dia berkonsentrasi saat menyetir?' batin Nathan.


Nathan tau kalau informasi yang dia berikan tadi pasti membuat Jessica terkejut. Dan Nathan tau kalau hal itu pasti membuat pikiran gadis itu jadi gelisah dan juga bingung di saat yang bersamaan. Dapat di lihat dari cara gadis itu menyetir di jalanan kota ini. Ia menyetir dengan cara yang tidak menentu dan membuat Nathan kalangkabut sendiri.


Nathan dapat melihat kebingungan yang Jessica rasakan bahkan sejak awal perjalanan mereka setelah dari bioskop, tepatnya saat Jessica bersandar di sandaran kursi mobilnya. Gadis itu mengusap wajahnya dengan raut frustasi tadi.


"Jessica," bisik Nathan sambil mengeratkan pegangannya pada tali sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. Wajah Nathan masih tampak tegang saat Jessica menoleh padanya.


"Ada apa, Nathan?"


"Kecepatanmu di atas enam puluh kilo meter per jam." ujar Nathan.


Jessica langsung melihat ke speedometer dan mengangguk kemudian dengan ringan menarik injakan kakinya dari pedal gas. Gadis itu tak mengatakan apa-apa lagi padanya setelah itu. Ia hanya diam, menatap pada jalanan yang ada di depannya.


Diam-diam Jessica melirik Nathan. Ia harus mengakui bahwa dia masih begitu terkejut atas segalanya. Dan dia tidak benar-benar tahu apa yang harus dia pikirkan tentang apa yang telah dikatakan Nathan padanya beberapa waktu yang lalu.


Jessica takut Dimitri akan mencoba sesuatu yang akan membahayakan lagi. Dia tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi jika Dimitri benar-benar melakukan hal yang akan membuat semua orang masuk dalam hal bahaya. Pikiran itu membuatnya terlalu takut.


"Kau harus belok kiri dan kita berkendara lewat sana." ujar Nathan.


"Di ponsel tidak menunjukkan akses ke organisasi. Tidak ada akses apapun disana, Nathan" kata Jessica, "Kau yakin kita bisa turun di sana nanti."


"Dikatakan tidak ada akses karena suatu alasan, Jessica. Kita bisa lewat sana. Aku sering lewat di tempat itu. Kenapa kau tidak percaya padaku?" Nathan menjawabnya. "Di ponsel jelas tidak akan ada tanda yang mengatakan 'lewat sini adalah kantor rahasia organisasi', kan?"


Nathan melakukan yang terbaik sebisanya untuk tidak terdengar kesal dengan seluruh situasi yang dia alami saat ini.

__ADS_1


"Oke, oke!" Jessica balas membentaknya. "Kau tidak perlu menaikkan nada bicaramu, Nathan! Bukan salahku kalau kita berada dalam kekacauan ini!"


"Aku tidak pernah mengatakannya," Nathan membalas dan menggelengkan kepalanya menatap keluar jendela. Nathan akui dia berlebihan karena sepanjang jalan cara menyetir Jessica benar-benar membuatnya tegang.


Nathan menghela, ia hanya perlu menenangkan diri dan meminta maaf. Itu akan membuat segalanya lebih baik. "Aku tidak bermaksud membentak, Jessica...Aku sama stresnya denganmu."


Jessica menghentikkan mobil, berhenti di depan palang yang melintang dan Nathan menurunkan jendela mobilnya. Nathan mengambil alih situasi saat dua penjaga keamanan berdiri di kedua sisi mobil. Jessica tidak mengatakan apa-apa dengan tangannya di kemudi.


"Nathan Jones," Nathan menunjukkan ID miliknya. "Ragina memanggilku untuk datang."


Penjaga itu mengangguk dan palang itu terangkat. Apakah benar-benar mudah untuk masuk ke tempat rahasia? Alis Jessica berkerut saat memikirkannya. Dia lalu melajukan mobilnya, mengemudi di jalan, kemudian melalui terowongan bawah tanah yang hampir tidak menyisakan cukup ruang untuk dilewati mobilnya. Jessica mengemudi dengan hati-hati di tempat itu. Nathan yang ada di sampingnya menelan ludah dan menyatukan jari-jarinya.


"Kau tidak marah, kan?" Nathan bertanya-tanya, suaranya terdengar pelan terkesan malu-malu saat dia berbicara.


Jessica menarik napasnya dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arahnya. "Tidak," katanya. 


Nathan mengangguk. "Oke, kau harus parkir di ujung. Ini adalah tempat khusus untukku... tapi... yah... aku tidak bisa mengemudi. Namun mereka masih mengosongkan tempat parkir untukku."


"Oke," ulang Jessica dan melakukan apa yang diperintahkan. Dia berhenti di tempat yang di maksud Nathan dan mematikan mesin mobilnya. Mereka kemudian keluar dari mobil.


Jessica mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat parkir bawah tanah itu dan melihat mobil baru ayahnya ada di sudut.


Nathan meraih dan memegang lengan Jessica dengan erat. Ia melakukannya dengan tergesa-gesa, menggandeng lengan gadis itu dan melangkah bersamanya. Dia membawanya ke lift yang ada di sudut dan menekan nomor lantai yang ia tuju lalu menunggu lift itu tiba di lantai tujuan.


Jessica berbalik untuk melihat Nathan, ia melepaskan tangannya dari tangan Nathan sementara kedua matanya menjelajahi rambut hitam dan mata cokelat pemuda itu.


"Jika itu memang dia... yah... aku tahu apa yang bisa terjadi..." Jessica mulai mengoceh, mengetahui bahwa dia mungkin tidak punya banyak waktu lagi dengan Nathan. pemuda itu akan sibuk setelah ini.

__ADS_1


"Dia gila... yah... dia punya alasan untuk melakukan sesuatu. Tapi kadang-kadang aku tidak berpikir itu alasan yang masuk akal untukku mengatakan ini... yang ingin kukatakan adalah... sejujurnya aku tidak ingin terjadi apa-apa, tapi jika ya... yah... terjadi... kau tahu, kan?"


Alis Nathan berkerut bingung. Entah kenapa dia tidak pernah merasa terlalu pintar untuk menebak apa yang coba dikatakan Jessica. Selama ini gadis itu selalu mengatakan hal yang mengejutkan. Nathan curiga kalau yang di katakan gadis itu ada hubungannya dengan wanita. Yah, mungkin.


"Apa yang harus aku ketahui?" Nathan bertanya-tanya dan Jessica menolehkan pandangannya ke arahnya.


Gadis itu tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul di wajahnya. 


"Aku ingin mengatakan... bahwa aku peduli padamu," bisik Jessica. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Entahlah, mungkin maksudku... aku sedang berusaha jatuh cinta padamu."


Itu dia. Jessica akhirnya mengatakannya. Cinta. Ya, Jessica memang tidak mengaku cinta pada Nathan tetapi dia mengatakan kalau dia sedang berusaha mencintai Nathan.


Jessica tahu bahwa dia bisa memberitahunya sebelumnya, ketika keadaan tidak begitu menegangkan seperti ini, tapi setidaknya Nathan tahu isi hatinya. Ya, ini adalah Nathan. Sekali lagi, Nathan bukanlah lelaki yang peka terhadap hal-hal seperti ini. Nathan tidak terbiasa dengan wanita di sampingnya. Nathan tidak akan tahu isi hatinya jika Jessica tidak mengatakan apa-apa padanya.


Nathan tampak terkejut untuk beberapa saat. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah dia harus mengatakan sesuatu yang mirip dengan apa yang Jessica katakan barusan? Tapi sayangnya, Nathan tidak benar-benar tahu kalimat apa yang bisa dia katakan pada gadis itu.


"Lalu... yah... aku... maksudku... yah...merasakan hal yang sama," Nathan mencoba untuk memberitahu Jessica tentang isi hatinya.


Melihat kebingungan di kalimat pemuda itu, Jessica memberinya senyum kecil dan dengan cepat mencium pipi Nathan.


Nathan memegang tangannya dan bergerak satu langkah lebih dekat kepada Jessica. Dia berdiri di tempatnya, menatap Jessica dengan dalam. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi pada gadis itu saat bibirnya dengan perlahan menciumnya, menekan bibir gadis itu dengan gerakan lembut. Nathan tidak pernah memaksa tentang apa pun.


Jessica harus mengakui bahwa dia terlalu sibuk melawan bibir Nathan sehingga dia tidak menyadari pintu lift yang terbuka.


"Sibuk, kalian?"


Itu suara ayahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2