
Siang hari itu, seluruh kantor organisasi sudah di kosongkan untuk jam makan siang dan Nathan tinggal sendiri di ruangan putih yang luas. Dia menolehkan pandangannya ke belakang dan mendapati Jessica telah bersandar di kursi, tertidur dengan nyenyak.
Nathan menghela. Sejujurnya ia telah melihat tatapan para stafnya sepanjang hari ini, tetapi memilih untuk mengabaikannya saja. Para bawahannya itu tau siapa Jessica. Mereka tau jika gadis itu adalah anak dari Robert Anderson, itu sebabnya mereka mereka terus menatap Jessica sepanjang hari. Nathan curiga kalau orang-orang pasti berpikir Jessica pasti sedang dalam masalah lagi karena ayahnya.
Dan sejak tadi Jessica hanya duduk diam, menunggu Nathan bekerja. Gadis itu akhirnya tertidur di atas sofa, mungkin bosan menunggu.
Nathan sendiri saat ini tengah berdiri di hadapan komputernya dan mencoba sebisanya untuk mengubah kode yang terhubung ke perangkat nuklir. Tapi sepertinya seseorang telah melindungi orang-orang itu dan menghentikan Nathan yang mencoba melakukan apa pun pada mereka.
Nathan melirik ke arah kartu memori yang menyebabkan begitu banyak kerumitan. Nathan diam-diam merasa kesal. Dan Nathan jadi bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika dia membawa benda itu keluar dan melemparkannya ke laut. Nathan mendecih saat menyadari pikiran konyolnya sendiri. Bagaimana otaknya bisa berpikir hal seperti itu. Tidak mungkin dia melakukan itu. Tentu saja itu akan menyebabkan lebih banyak kerumitan jika dia benar-benar melakukannya.
"Nathan."
Pemuda itu tersentak dari pikirannya sendiri dan berbalik ketika dia mendengar seruan itu.
Itu Robert.
Nathan mengerutkan dahinya antara kaget dan bingung. Kapan pria itu tiba? Nathan bahkan belum melihat Robert masuk ke kantor hari ini dan juga tak ada yang memberitahunya jika Robert sudah datang. Ah, tapi detik selanjutnya Nathan langsung menggelengkan kepalanya. Robert juga tidak perlu sampai harus memberitahukan kehadirannya pada Nathan, kan?
James menoleh ke arah sofa dan membungkuk pada Jessica, memandangi saat gadis itu tidur dengan pulas dan tangannya terangkat, mendorong rambutnya ke belakang telinganya.
"Mr. Robert," Nathan menyapa balik dengan nada tenang. "Ya, dia tidur untuk sementara waktu. Aku pikir dia mungkin bosan atau mungkin kelelahan. Ya, itu tidak mengejutkan. Dia bahkan tidak tidur tadi malam."
Robert melangkah mendekat pada Nathan.
"Apakah kau menemukan sesuatu?"
"Hampir tidak ada apa-apa," keluh Nathan dengan nada setengah kesal. "Sepertinya seseorang benar-benar tidak ingin ditemukan. Aku akui, ini lumayan rapi."
"Begitu rupanya," kata Robert dan ia melangkah kembali pada anak gadisnya.
Robert mengangkat tangannya, lalu menggerakkan ke bahu Jessica, mengguncangnya dengan lembut, mencoba untuk membangunkannya.
Jessica yang merasakan guncangan kecil itu sontak terbangun. Kedua matanya tampak terbuka lebar dan dia tampak terkejut di posisinya untuk beberapa saat. Tubuhnya terlihat bergetar dan dia melihat ke arah ayahnya.
__ADS_1
"Kau terlihat mengerikan, sayang..." Robert mengejek putrinya itu dan Jessica memutar bola matanya, bibirnya tertarik ke atas, ia tersenyum sambil memukul bahu ayahnya pelan.
"Diam, ayah. Jangan mengejekku begitu." protes Jessica. "Kapan ayah sampai disini?"
Robert meluruskan dasi biru yang dikenakannya. Dia berdiri tegak dan Jessica juga ikut berdiri. Robert memeluknya dengan erat selama beberapa saat lalu melepaskannya sambil menjawab pertanyaan itu.
"Ayah baru tiba sekitar satu jam yang lalu. Ya, lalu lintas terlalu padat dan itu memperlambat ayah untuk sampai kesini lebih cepat."
"Begitu rupanya." Jessica menganggukkan kepalanya. "Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita akan pulang ke rumah ayah?"
"Sayangnya tidak," jawab Robert padanya. "Saat ini ayah akan menemui atasan ayah dulu. Ya, tidak diragukan lagi kalau dia pasti akan memberi ayah sesuatu untuk dilakukan tentang kasus ini. Ayah belum tahu apa."
Jessica menghela, "Aku akan kembali menunggu di sini sepertinya."
Robert lalu menoleh pada Nathan, "Apakah ada petunjuk sejauh ini?"
"Tidak, tidak ada," Nathan menjawab. "Aku sudah melakukan yang terbaik. Dan biasanya itu juga akan berakhir dengan cukup baik."
"Cukup baik?" Robert menatap dengan senyum sinis.
"Aku hanya bertanya, bukan meragukanmu," jawab Robert. "Tapi, entah kenapa aku mulai merasa penasaran tentang ukuran harga dirimu."
"Aku rasa itu tidak sebesar milikmu," jawab Nathan sambil bergumam. "Tapi cukup untuk melawan ego mu!"
"Hati-hati, Nathan" Robert mencoba untuk memperingatkan pemuda itu. "Aku masih memiliki senjata pribadi yang kau berikan kepada ku."
Nathan memutar bola matanya saat dia mendengar Robert mengucapkan itu dan kemudian melihat kearah Jessica.
Jessica hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang dihadapannya ini. Ia jadi bertanya-tanya apakah akan selalu seperti ini. Ayahnya dan Nathan, mereka pasti akan selalu berdebat. Ya, dia tidak ragu kalau pada akhirnya mereka akan bosan sendiri nanti. Ya, jika mereka tidak melakukannya, mungkin dia yang akan melakukannya.
"Dan apakah kau membawa peralatan dari misi kembali kesini?"
"Kau tidak ingin tahu jawabannya," Robert berujar pada Nathan membuat pemuda itu menghela lelah.
__ADS_1
"Entah kenapa kau ini sangat suka merusak barang?" omel Nathan. "Ah, aku curiga diam-diam kau pasti sudah menjual barang-barang itu, benar kan? Jujur saja!"
Robert hanya memutar bola matanya malas, barulah kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke Jessica. "Ayah akan pergi dan berbicara dengan atasan ayah dulu Kau tetaplah di sini dan jauhkan Nathan dari masalah."
"Munafik," gumam Nathan , kembali mengetik di keyboardnya. "Padahal dia adalah satu-satunya orang yang akan merasa senang jika aku berada dalam masalah," omelnya.
"Pergi dan temui atasan ayah" Jessica akhirnya berseru sambil terkekeh geli. "Sebelum kalian berdua akhirnya saling berteriak satu sama lain. Ya entah kenapa aku tidak ragu itu akan terjadi."
"Tidak," jawab Nathan. "Itu tidak akan terjadi karena aku masih memiliki pengendalian diri yang jauh lebih baik daripada ayahmu."
"Oke, oke," Jessica memutar bola matanya dan ayahnya tersenyum mengusak-usak rambut pirangnya sebelum akhirnya dia pergi. Ia melirik Nathan dengan seringaian arogan di wajahnya saat dia pergi.
Jessica menghela napasnya dan memilih diam untuk beberapa saat sebelum kemudian dia merogoh tasnya untuk meraih ponsel-nya. Jessica bisa melihat kalau saat ini dia memiliki satu pesan. Dan dengan cepat Jesaica membuka kunci ponselnya. Ia membaca teks, sebelum kemudian dia melihat bagian belakang kepala Nathan.
Sekali lagi Jessica mengarahkan pandangannya ke layar ponsel itu dan membacanya kembali.
'Jangan beri tahu siapa pun tentang apa yang kau lihat saat ini. Jika kau berani melakukannya... yah.. kau tau kalau konsekuensinya tidak akan menyenangkan.'
Jessica menatap layar ponselnya untuk beberapa detik sebelum kemudian sebuah pesan kembali di kirim oleh orang itu ke ponselnya.
Itu sebuah foto...
Namun Jessica belum membukanya.
Jessica menelan ludahnya kasar. Haruskah dia membuka foto itu? Dia jadi merasa gelisah. Ia duduk tegak di sofa sebelum kemudian ia mengepalkan telapak tangannya. Terlihat buku-buku jarinya memutih saat akhirnya Jessica memutuskan untuk membuka file foto itu.
Dan sedetik kemudian...
Kepalan tangan Jessica semakin kuat. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Ia melakukan yang terbaik sebisanya untuk menyembunyikan ekspresi ketakutannya.
Dia melihat isi foto itu dan mengusap wajahnya kasar setelah beberapa detik.
Jessica menjatuhkan ponselnya ke pangkuannya. Ia bisa melihat dengan jelas ibunya tengah diikat ke kursi. Darah terlihat mengalir di wajahnya.
__ADS_1
***