Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
47


__ADS_3

*tempat Jessica dan Dimitri


Jessica menatap ke seluruh area pesawat pribadi yang ia tumpangi. Dengan pesawat mewah itu, mereka kini sedang dalam perjalanan menuju ke Thailand. Begitulah yang di katakan Dimitri padanya beberapa saat yang lalu.


Jessica memperbaiki letak duduknya di kursi yang ia duduki. Mencoba menyamankan posisinya. Sementara itu, di dekatnya terlihat Dimitri yang tengah berbicara serius dengan anak buahnya.


Merasa sakit, Jessica lalu mencoba menggoyangkan tali yang mengikat tangannya. Ia menghela napasnya karena ikatan ini terlalu kencang. Jessica menyerah dan memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Apa itu membuatmu tidak nyaman?" ujar Dimitri pada Jessica. Dimitri tersenyum simpul, sementara kedua matanya menatap Jessica lekat.


"Jadi bagaimana rasanya?" ujar Dimitri dengan ekaspresi santai, membuat Jessica menoleh padanya.


"Aku yakin kalau sebelumnya kau pasti belum pernah naik pesawat pribadi seperti ini, kan?" lanjutnya sambil mendudukkan dirinya tepat di depan Jessica, bersandar dengan santai di kursi empuk pesawat mewah itu.


Jessica mendecih sinis sambil terus mencoba menggoyang-goyangkan tangannya. Pergelangan tangannya masih terikat sejak beberapa jam lalu.


Dimitri bergerak mengambil botol wine yang ada di dekatnya, lalu menuang perlahan isi minuman itu ke dalam gelasnya.

__ADS_1


"Kau mau minum?" tanya Dimitri mengangkat botol anggur itu ke hadapan Jessica.


Jessica memilih tak menjawab. Ia hanya diam sementara kedua matanya menatap Dimitri dengan tajam.


Merasa ucapannya tak di tanggapi oleh gadis dihadapannya itu. Lelaki itu kemudian menggedikkan bahunya santai. Ia menggosok kaca jendela di sebelahnya dan menatap keluar pesawat untuk menikmati pemandangan dari ketinggian.


Jessica menggerutu dalam hati melihat betapa tenangnya lelaki di depannya ini. Dimitri menoleh pada Jessica. Ia tersenyum dan bergerak maju, mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Jessica untuk menarik mantel yang di kenakan gadis itu, mencoba untuk lebih mengeratkannya agar tidak terlepas.


"Yah, kalau ayahmu pasti pernah menaiki pesawat mewah seperti ini. Karena percayalah, organisasi kami bahkan mengizinkan para agen rahasia untuk bepergian dengan kendaraan yang sangat mewah."


Gadis itu kemudian menoleh ke luar jendela, lebih memilih untuk memikirkan apa yang sedang di lakukan Nathan saat ini. Ya, Jessica hanya bisa berharap bahwa pria muda itu bisa melacak posisinya dan juga memberitahu ayahnya tentang apa yang terjadi padanya saat ini.


Merasa tak di hiraukan sama sekali oleh gadis ini, Dimitri menghela nafasnya dan bergerak maju, mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica. Tangan Dimitri kemudian terangkat untuk menyentuh kedua paha gadis itu.


"Kau tahu? Tadi… operator komputer itu. Ah bukan, maksudku adalah si pria muda programmer yang tersayang itu tampaknya tidak terlalu senang saat melihat apa yang terjadi di sana." ujar Dimitri tersenyum pada Jessica.


Jessica memejamkan kedua mata, ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak memikirkan hal itu.

__ADS_1


Dimitri masih tersenyum bahkan kini ia menatap Jessica penasaran. "Kau tau? Itu membuatku jadi penasaran dan bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua? Dan apakah ayahmu tahu?"


"Tidak," kata Jessica dengan cepat, sambil membuka kedua matanya. "Tidak ada yang terjadi di antara kami berdua."


Dimitri mendecih kemudian memijit dagunya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Begitukah?"


"Orang-orangku mengatakan bahwa Nathan-lah yang menemukanmu di kafe malam itu," lanjut Dimitri, tangannya kemudian bergerak ke atas untuk menyisir rambut Jessica ke belakang telinganya. "Ya, pesan itu memang terlihat terlalu mencurigakan."


"Ya, dia-lah yang menemukanku malam itu. Dia yang sudah membantuku untuk kabur dari serangan." Jessica berujar dengan raut sinis. "Dan Nathan juga telah berbaik hati untuk tinggal bersamaku untuk melalui semua kekacauan ini. Ah, kekacauan yang bisakah aku mengatakannya… adalah perbuatanmu sepenuhnya!"


"Silahkan! Kau boleh mengatakannya dengan sangat jelas. Memang akulah yang sudah membuat seluruh kekacauan ini." ujar Dimitri sambil menggedikan bahunya dengan acuh. "Ya, lagipula aku rasa itu tidak akan ada gunanya sama sekali untukmu jika mengatai aku dengan kalimat apapun."


Tetap diam, Jessica saat ini mencoba untuk memikirkan kembali ayahnya dan apa yang mungkin terjadi begitu mereka sampai di Thailand nanti. Ah, Jessica tidak benar-benar ingin tahu itu. Dan satu hal lagi, ketakutan yang dalam dirinya kini terus meningkat seiring berlalunya waktu.


Ini sudah beberapa jam setelah ia di bawa pergi dari gedung bawah tanah itu. Dan saat ini Jessica hanya terus berharap Nathan sudah berhasil menemukan dimana ayahnya dan juga memberitahu ayahnya atas apa yang terjadi.


***

__ADS_1


__ADS_2