
Nathan bisa mendengar dengan jelas teriakan keras dari sambungan telepon. Dia berasumsi Robert telah memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan membiarkan Nathan tetap ada di sambungan telepon tanpa mematikan telepon itu.
Nathan cukup senang Robert melakukan hal itu. Ya, setidaknya Nathan bisa mendengar suara dari Jessica. Sejujurnya, Nathan tidak dapat fokus pada pekerjaannya ketika dia mendengar Jessica yang terus menanyai ayahnya tentang apa yang terjadi. Gadis itu pasti merasa khawatir dan itu juga membuat Nathan merasa ikut khawatir.
Dan terakhir dia juga mendengar teriakan dari Jessica kemudian terdengar percikan air setelah itu sambungan telepon itu berakhir. Nathan berasumsi kalau Jessica dan Robert pasti sudah menyelamatkan diri lebih dulu dan ponsel Jessica pasti mati karena terkena air.
Akhirnya, setelah melakukan apa yang harus dia lakukan untuk menjaga keselamatan Robert dan Jessica, Nathan langsung meletakkan ponselnya. Dia juga sudah menyuruh polisi menuju tempat itu begitu mengetahui ada bom yang di letakkan di kereta itu.
Nathan tahu jelas bahwa ia tak bisa memberhentikkan kereta itu. Dia telah mencoba melakukan yang terbaik sebisanya. Tapi upaya yang terbaik memang tidak akan selalu berakhir dengan cukup baik. Dan itu tidak akan pernah cukup baik ketika datang dari seorang Dimitri.
Nathan diam-diam merasa seolah kalau dirinya selalu satu langkah di belakang. Satu-satunya masalah yang dia hadapi adalah dia tidak tahu bagaimana caranya untuk selangkah lebih maju dari Dimitri. Dan itu sama saja dengan pertempuran yang tidak akan pernah berakhir.
Nathan menghela napasnya sampai dia mendengar pintu ruangan itu di buka oleh seseorang.
"Nathan."
Nathan segera berbalik untuk melihat Boris yang saat ini tengah berdiri di belakang ruangan. Dia meletakkan tangannya ke pinggang dan mengangkat alisnya. Ia tidak berniat meninggalkan mejanya untuk siapa pun, terutama untuk orang bod*h seperti Boris. Nathan tidak punya waktu untuknya. Dia harus fokus pada pekerjaannya. Lagipula Nathan juga tidak terlalu memperdulikannya.
'Ada apa dengannya?' Nathan bertanya-tanya, memperhatikan bagaimana keringat perlahan terbentuk di dahi Boris.
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Regina menginginkan kehadiranmu," kata Boris gugup.
Nathan mengerang, mengetahui bahwa dia jelas dalam masalah karena tidak berhasil menyelamatkan oranh-orang di kereta. Dia hanya berharap omelan dari atasan barunya itu tidak berlangsung lama.
Nathan mengeratkan kardigan yang dikenakannya dan mengelus pakaian dalamnya yang agak kusut. Setelah itu barulah Nathan bergerak perlahan menuju bagian belakang organisasi. Ia mengerutkan dahinya saat melihat bagaimana kemeja Boris basah karena keringat saat dia melewati lelaki itu.
__ADS_1
"Apakah kau baik-baik saja, Boris?" Nathan bertanya-tanya karena sopan santun. "Kau terlihat agak gugup sekarang. Apakah Regina memarahimu tentang sesuatu?"
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja, bos," ujarnya pada Nathan, barulah kemudian Boris mengikuti atasannya itu menuju koridor yang gelap.
Saat itulah Nathan bisa melihat sosok lelaki berbadan besar berdiri di hadapannya, menutupi jalannya. Nathan menaikkan alisnya. Siapa orang-orang ini? Ia lalu berbalik untuk melihat ke arah Boris, matanya menyipit melalui kacamata bacanya. Ada yang aneh di sini...
"Ada apa ini?" Nathan berujar bingung.
"Maafkan aku, Bos. Dia...dia mengancamku! Dia bilang dia akan membunuh istriku...menyakitinya..." kata Boris, keringat kini terlihat mengucur dari keningnya, ia menunduk ketakutan.
Nathan menggelengkan kepalanya, menatap Boris tak percaya saat menyadari bahwa dia telah di korbankan oleh salah satu anak buahnya sendiri.
Nathan dengan cepat berjalan melewati Boris dan berlari kembali ke ruangannya. Ia membutuhkan keamanan yang ada laptopnya untuk memanggil bantuan, guna mencegah sesuatu hal terjadi padanya.
Namun baru berapa langkah ia pergi, tiba-tiba seseorang menarik pakaiannya, menahan gerakannya. Setelah itu ia merasakan seseorang memukul bagian belakangnya dan tepat mengenai punggungnya. Dan saat itulah penglihatan Nathan akhirnya menggelap.
***
"Mereka semua mati." Jessica berbisik sambil duduk di kamar hotel.
Dia meringkuk di lantai memeluk lututnya sendiri di sudut kamar tidur. Punggungnya bersandar ke dinding. Jessica bahkan tidak mau repot-repot mengganti pakaiannya yang saat ini sudah basah kuyup.
Robert duduk di tempat tidur di seberangnya, handuk tergantung di lehernya saat dia mengenakan jubah mandi berwarna putih setelah mandi. Robert mencondongkan tubuh ke depan, mendekat pada Jessica. Ia memejamkan kedua matanya saat dia memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi pada mereka.
"Semuanya ... mati ..." gumam Jessica frustasi.
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan," kata Robert padanya. " Dimitri sudah merencanakan semuanya, Jessica."
__ADS_1
"Ada yang bisa kita lakukan ayah. Sejak awal kita bisa saja berada di kendaraan yang berbeda," kata Jessica. "Kita bisa saja berada di tempat lain. Kalau kita tidak naik kereta yang sama dengan mereka, mereka semua pasti akan pulang... mereka bisa mengunjungi keluarga... tapi kemudian... yang terjadi justru mereka meninggal... dan mereka meninggal karena kita berada di kereta itu."
"Jangan salahkan dirimu untuk ini," desak Robert padanya. "Itu Dimitri! Dia-lah yang meletakkan bom itu di sana, ja-"
"Ya, tapi bom itu untuk kita kan?," potong Jessica, ia tidak mampu menghilangkan suara jeritan yang ada di benaknya. Bayangan ledakan dan juga api muncul di pandangannya dan bola matanya melebar saat dia mulai mengingat kembali kejadian itu.
"Bom itu dimaksudkan untuk kita," bisik Jessica. "jadi memang benar kalau mereka semua mati karena kita, ayah."
"Tidak," kata Robert, tahu bahwa dia harus menghentikan putrinya dari kegiatan 'menyalahkan dirinya sendiri' seperti ini. Itu tidak akan membantu dirinya untuk menenangkan diri. Dan itu tidak akan membantu siapa pun.
"Jessica, dengarkan ayah."
Robert bergerak turun dari tempat tidur, berlutut di depan Jessica baru kemudian dia meletakkan telapak tangannya di kedua pipi Jessica.
Mata Robert menatap Jessica tajam dan rahangnya mengeras. Robert tidak ingin putrinya menyalahkan dirinya sendiri atas segala kekacauan yang sudah terjadi. Dia tahu bahwa kejadian itu akan membuat Jessica jadi gila. Sial, semuanya tentu akan membuat dirinya gila.
"Kau tidak bisa disalahkan untuk ini. Dimitri yang sudah membunuh orang-orang itu. Dialah yang membunuh mereka." Robert berujar padanya. "Ini bukan salahmu, Jessica. Hal-hal seperti ini... jika bukan kereta api, maka itu akan menjadi sesuatu yang lain. Bisa jadi pesawat. Bis. Apapun! Karena Dimitri itu… dia orang gila. Dia tidak waras."
"Itu tetap tidak menghentikanku untuk merasa tidak enak," Jessica berujar pada ayahnya. "Aku hanya ingin ini berakhir. Aku ingin kembali ke kamar tidurku di Singapura dan melupakan semua yang telah terjadi. Hanya itu yang kuinginkan...dan..."
"Itu akan segera terjadi," Robert meyakinkannya. "ayah berjanji kepadamu."
Keadaan jadi hening untuk beberapa saat. Mereka berdua masih saling menatap satu sama lain.
"Aku mau mandi," bisik Jessica kemudian dan dia berdiri, menjauh dari ayahnya.
Robert menghela napas saat melihat gadis itu pergi. Dia tahu betul bahwa Jessica pasti terguncang dengan apa terjadi. Jessica pantas marah. Dan Robert tidak bisa menyalahkannya.
__ADS_1
***