Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
107


__ADS_3

Tubuh Jessica menegang saat mendengar ayahnya menyebut nama Nathan. Dia menelan ludahnya dengan kasar dan menggelengkan kepalanya. Saat ini ia tak tahu harus memikirkan apa. Setahu Jessica saat ini mereka berdua memang terlibat dalam urusan satu sama lain. Dan itu adalah sesuatu yang sangat mengganggu Jessica, sesuatu yang membuatnya takut. Ia benar-benar takut kehilangan pemuda itu. Dia hanya tidak pernah memiliki seseorang yang begitu dekat dengannya seperti Nathan sebelumnya.


"Yah, Nathan mengatakan kalau barang yang di kirim orang-orang itu adalah sebuah kode." Jessica membenarkan. "Tidak diragukan lagi kalau itu memang dikirimkan untuk Nathan."


"Ya," kata Robert.


"Ayah, ini pasti akan bisa membuat Perang Dunia Ketiga terjadi jika mereka memiliki benda itu. Mereka bisa membuat perang terjadi dimana-mana jika mereka mau."


"Ayah akan berusaha untuk mendapatkan kodenya kembali," Robert berjanji pada putrinya. "Ini bukan ulah Dimitri. Aku hanya bisa memberitahumu sebanyak itu."


Jessica menaikkan sebelah alisnya, "Bagaimana ayah bisa tahu?"


"Aku hanya menebaknya," jawab Robert. "Kalau ini Dimitri, dia pasti sudah meledakkan sesuatu sekarang. Ayah tidak meragukan itu. Yang ingin ayah ketahui sekarang adalah mengapa mereka harus membawa-bawa dirimu."


"Jelas untuk menemui dirimu" gumam Jessica. "Bukankah ini seperti kejadian Dimitri lagi, hanya saja berbeda orang. Mereka menggunakan diriku untuk mengancammu dan membuatmu terlibat dalam kasus ini. Aku tidak tahu mengapa mereka menginginkan ayah dalam kasus ini."


"Sebenarnya ayah adalah salah satu dari sedikit agen yang punya keluarga," Robert mengakui padanya. "Siapa pun dapat menggunakan cara seperti ini untuk melawan para agen jika mereka mengetahui hubungan keluarga. Kebanyakan agen pada biasanya akan menggunakan nama yang berbeda. Ya, sepertinya memang lebih aman seperti itu. Ayah selalu berpikir kalau Robert Anderson tidak cukup mencolok."


"Sepertinya tidak," Jessica berujar sinis mengingat kejadian saat orang-orang itu tetap mengetahui dia adalah anak ayahnya.

__ADS_1


Robert hanya terkekeh kecil, "hei, jangan kecewa. Kau di ketahui sebagai anak ayah karena penjahatnya adalah seorang mantan agen."


"Ya, itu benar." ujar Jessica dan menoleh ke arah pintu kamar tidur Nathan. "Ayah, aku tidak bermaksud kasar... tapi... yah... aku tidak ingin membangunkan Nathan saat ini. Ini baru jam setengah empat pagi di sini."


"Apakah kau tidur di sofanya?"


"Ya," Jessica memilih berbohong pada ayahnya. Dia tidak ingin ayahnya mengetahui hal yang sebenarnya dan menembak Nathan ketika dia kembali nanti. "Hati-hati di sana, ya?"


"Ayah akan selalu berhati-hati, Jessie" jawab Robert. "Sekarang kau cobalah untuk tidur dan sampai jumpa besok."


"Sampai jumpa, ayah."


"Selamat tinggal, Jessica."


Jessica membuka kembali matanya dan menolehkan pandangannya pada orang yang menyentuhnya. Ia bisa melihat Nathan berdiri di dekat sofa.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Nathan bergumam dalam keadaan tidak jelas, masih setengah sadar.


Rambutnya benar-benar terlihat acak-acakan di sekitar kepalanya dan dia sudah memasang kacamatanya ke hidung walaupun terlihat miring. Jessica menggerakkan tangannya ke atas untuk memegang tangan Nathan.

__ADS_1


"Ayahku baru saja menelepon." ujarnya.


"Hm? Ayahmu?" dia menatap bingung, masih setengah tertidur.


"Dia akan pulang. Dia bilang dia akan menemui kita di kantor nanti," Jessica memberitahunya dan Nathan menganggukkan kepalanya sekali, jari telunjuknya mendorong kacamatanya lebih jauh ke hidungnya, Jessica tersenyum, "Kenapa kau tidak kembali tidur? Kau terlihat begitu lelah, Nathan."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku tidak lelah," Jessica menggeleng, berbohong padanya. Dia mengusap tangan pemuda itu dengan sungguh-sungguh dan melihat kembali padanya. "Aku akan baik-baik saja di sini."


Nathan menghela nafasnya pelan dan melepaskan genggaman tangannya. Awalnya, Jessica berpikir bahwa Nathan telah meninggalkannya dan pergi kembali ke kamar tidur, tetapi ternyata pemuda itu bergerak mengitari sofa dan menjatuhkan dirinya di samping Jessica. Membaringkan tubuhnya di sofa sempit dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


"Nathan," protesnya. "Aku baik-baik saja di sini."


"Aku juga," Nathan berujar padanya, ia menutup matanya. "Jadi sekarang diamlah dan tidurlah... dan tolong katakan padaku bahwa ayahmu tidak menanyakan dimana kau tidur."


Jessica tertawa lepas pada Nathan dan membalas memeluk tubuh pemuda itu.


"Ya, dia menanyakannya, tapi tenang saja, kau aman. Aku memberitahunya bahwa aku tidur di sofa."

__ADS_1


"kau berbohong," Nathan bergumam sebelum kemudian dia tertidur.


***


__ADS_2