Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
49


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Berhenti!" teriak Jessica.


Jessica sungguh tak tahu jika ayahnya berada dirumah ini. Itu sebabnya ia tak ingin Dimitri dan anak buahnya menyerang rumah ini.


Tapi, seakan tak mendengar, anak buah Dimitri terus saja menembaki rumah itu. Jessica menggeram marah. Ia mencoba menggerakkan tangannya, berusaha sebisanya untuk memberontak. Namun ikatan tali di tangannya memeng terlalu kencang.


Tak ada pilihan lagi, Jessica memilih untuk melawan saja. Bahkan ia mencoba mendorong Dimitri dengan tubuhnya. Kini kemarahannya telah menguasai diri Jessica sepenuhnya. Ia bahkan memukul-mukul  Dimitri dengan kencang.


Kesal dengan serangan bertubi-tubi dari gadis itu, fokus Dimitri akhirnya beralih pada Jessica. Mantan agen rahasia itu bergerak untuk menjambak rambut Jessica dan menghempaskannya dari tempat duduknya hingga tubuh Jessica jatuh dengan kasar ke atas lantai helikopter itu.


Dimitri kembali menjambak rambut gadis itu hingga ia mengaduh kesakitan.


"Lepaskan!" Jessica mencoba berontak.


"Diam!" sentak Dimitri yang semakin menjambak rambut Jessica.


"Sakit! Lepaskan!"


"Jangan menggangguku kalau kau masih ingin hidup, gadis nakal!" ujar Dimitri tajam.


Tangan Dimitri masih terus menjambak rambut Jessica sementara matanya tetap fokus pada rumah tua yanh ada di depannya.

__ADS_1


Dimitri menyeringai di tempatnya, ia kini hanya tinggal menunggu serangan balasan dari Robert. Namun ia mengernyit heran karena tak mendapat serangan balasan apapun dari Robert.


Dimitri mendecih sinis. Jelas sekali Robert tak akan melakukan serangan apapun. Ia tak akan menembak balik selama anak gadisnya ini masih berada di dalam helikopter.


Sementara itu, di dalam helikopter, Jessica terlihat terus mencoba untuk berkelahi melawan Dimitri. Ia terus menerus berusaha melepaskan diri dari tangan lelaki keji itu. Dan beberapa saat kemudian helikopter akhirnya diturunkan.


"Kita akan mendatangi ayahmu." ujar Dimitri sinis.


Dimitri lalu berjalan keluar dari pintu heli yang terbuka sejak tadi. Dia membawa serta Jessica bersamanya, tangannya masih tetap pada Jessica, menjambak rambut gadis itu dengan kasarnya. Mereka berjalan dengan cepat mendekat ke rumah itu.


"Aku tahu kalau kau ada di dalam, Robert!" Dimitri berseru nyaring pada rumah itu, ia mencoba untuk mencari tanda-tanda kehidupan di sana.


"Hei, Robert! Aku punya sesuatu milikmu di sini! Ini dia anak kesayanganmu. Kenapa kau tidak datang kemari dan menjemputnya?"


Dimitri tidak mendengar suara atau melihat satupun gerakan dari dalam rumah. Merasa tak sabar menunggu, ia akhirnya memberikan perintah pada salah satu anak buahnya.


Jessica bertanya-tanya tentang apakah yang terjadi saat tiba-tiba saja mereka berusaha mengikat pergelangan kakinya dengan tali.


"Apa-apaan ini?" Jessica bertanya kebingungan. "Apa? Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!"


"Ayahmu tidak akan keluar. Jadi aku memutuskan untuk mengantarmu masuk ke dalam," geram Dimitri.

__ADS_1


Jessica menggelengkan kepalanya. "Lepaskan aku! Dasar kalian, sialan!" teriak Jessica.


"Aku tahu Nathan tidak akan senang dengan ini. Ck, ck, ck.  Dia memang terlihat sedikit menyukaimu. Aku bisa merasakannya bahkan hanya dari tatapan matanya. Itu sayang sekali karena kau bahkan tidak menyadarinya."


Saat itulah Jessica merasakan mantel milik Nathan jatuh dari bahunya saat Dimitri mengangkatnya lalu membopongnya ke atas bahunya.


Dimitri dan seluruh anak buahnya kemudian bergerak menuju ke samping rumah. Mereka berniat membuka pintu kayu yang ada di sana.


"Jadilah gadis yang baik," kata Dimitri pada Jessica. "Orang-orang bilang kematian itu memang datang terlalu cepat bagi beberapa manusia..."


"Apa?" Jessica berujar gugup. "Apa yang kau katakan? Turunkan aku!"


Jessica berhenti memberontak ketika dia merasakan Dimitri menurunkannya dan meletakkannya ke lantai di sebuah ruangan yang tampak sudah terlihat tua.


Jessica bisa melihat meja dan beberapa kursi di ruangan itu. Tapi itu tidak cukup untuk membuatnya mengetahui dimana dia berada saat ini.


Detik selanjutnya Jessica tersentak saat tiba-tiba ia mendengar suara pintu di dobrak dan kemudian terdengar suara tembakan bergema di dalam salah satu ruangan yang ada rumah itu.


"Apa itu?" Dimitri bertanya pada anak buahnya.


"Tidak tau bos." jawab salah satu anak buahnya.

__ADS_1


Saat itulah Dimitri menyeringai, "Itu Robert, itu pasti dia."


__ADS_2