
"Tanyakan padanya apakah peralatan yang aku berikan padanya waktu itu masih dalam keadaan utuh?" Nathan mendesak Jessica sambil menunjuk ponsel di telinga Jessica dengan dagunya.
Saat itu mereka tengah singgah dan beristirahat untuk menikmati minuman di sebuah kafe ketika Mr. Robert menelepon Jessica. Pelayan tengah mengantarkan minuman ketika Jessica mendengar dering di ponselnya.
"Ayah, Nathan ingin tahu apakah ayah sudah membuat hancur seluruh peralatan yang dia berikan pada ayah waktu itu..." ujar Jessica memberi tahu ayahnya saat Nathan dengan hati-hati menyesap minuman di hadapannya.
"Katakan pada Nathan, bahwa jika dia menginginkan peralatan miliknya tetap dalam keadaan utuh, maka dia harus datang kesini dan melakukan pekerjaan ini sendiri," jawab Robert, suaranya terdengar sinis.
Jessica tersenyum ketika dia mendengarnya dan itu membuat Nathan mengerutkan alisnya heran. Jessica lalu menggelengkan kepalanya pada Nathan sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Aku akan menganggap itu tidak." jawab Nathan dengan nada pasrah.
"Tentu saja tidak," jawab Robert santai dari seberang telepon dan Jessica tersenyum simpul.
"Ah, kau katakan pada ayahmu bahwa semua peralatan itu berharga sangat mahal. Sepertinya aku akan mulai menagih ganti rugi padanya jika dia terus melalukan hal itu, seperti merusak barang." Nathan berujar lagi, mencoba memperingatkan Robert melalui Jessica.
Wanita muda itu memutar matanya. Belum sempat ia mengatakan apapun, ayahnya kembali bicara dari seberang telepon.
"Dan kau beri tahu Nathan bahwa sepertinya ayah masih memiliki pistol yang mungkin bisa saja menembus tubuh manusia sepertinya bahkan tanpa ayah sentuh." jawab Robert, rupanya ia bisa mendengar ucapan Nathan dari kejauhan.
"Oke, oke sekarang, bagaimana kalau kita akhiri saja perseteruan ini." Jessica mencoba menenangkan ayahnya, ia menyeringai sambil menyesap lagi minuman yang ada di tangannya, itu adalah cokelat panas. "Bisakah aku bertanya kapan ayah akan pulang?"
__ADS_1
"Sebentar lagi," Robert berujar padanya. "ayah akan melakukan yang terbaik sebisa ayah untuk memastikan semuanya berjalan sesuai dengan rencana."
"Baiklah ayah..." balas Jessica
Namun detik selanjutnya, Jessica tanpa sengaja mendengar suara lembut wanita dari seberang telepon. Jessica yang terkejut sontak menegakkan posisi duduknya. Cangkir minuman yang ada di hadapannya bahkan tanpa sengaja tersenggol dan berderak di meja.
"Tunggu dulu, ayah... suara apa itu barusan?" Jessica bertanya-tanya penuh dengan nada penasaran. "Aku mendegar suara seseorang. Suara siapa itu?"
"Tidak ada," Robert membalas.
Robert jelas berbohong, tetapi kebohongan itu hanya bertahan beberapa detik karena Jessica bisa mendengar kembali suara yang sama.
"Tidak."
"Ck, pembohong."
Terdengar suara Robert mendesis di sambungan telepon. "Dengar, Jessie, sepertinya ayah harus pergi saat ini. Ayah akan berusaha sebaik mungkin untuk segera pulang dan bertemu denganmu, oke? Sementara itu, beri tahu Nathan untuk tidak memberimu terlalu banyak liburan bersama. Keadaan belum bisa di bilang aman sekarang."
"Jangan coba-coba mengubah topik pembicaraan kita, ayah!" Jessica memperingatkan ayahnya. "Aku yakin ada seorang gadis di sana bersama dengan-"
"Aman!" potong Robert, jelas sekali ia tidak ingin menerima ceramah dari putrinya itu. "Ayah harus menutup teleponnya, ayah mencintaimu, Jess."
__ADS_1
Jessica menghela nafas, tahu jelas kalau dia kalah dalam perdebatan kali ini. Senyum tipis muncul di wajahnya saat dia menundukkan pandangannya untuk melihat ke bawah. "Aku juga mencintaimu, ayah."
Robert menutup telepon dan Jessica meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat pada Nathan saat rona merah canggung muncul di wajahnya.
"Ya, sepertinya dia sedang bersama dengan seorang wanita saat dia meneleponku barusan," keluh Jessica kepada Nathan. "Sejujurnya, selama ini aku terus menyuruhnya untuk santai dalam hal wanita."
"Mr. Robert bukan tipe laki-laki yang menetap pada satu orang," Nathan dengan cepat memberitahunya.
Jessica menatap pemuda itu dengan tatapan bingung, ia bertanya-tanya tentang apa yang sedang Nathan bicarakan saat ini. Nathan tersenyum, raut wajah Jessica seakan memberitahu Nathan kalau dia dia tidak tau tentang desas-desus yang selama ini mengelilingi ayahnya. Tentu saja, mengapa dia harus tau? Jessica bahkan bukan anggota organisasi, itu sebabnya dia tidak akan tau tentang rumor ini.
Sejujurnya, sudah menjadi rahasia umum di organisasi bahwa Robert adalah soorang pecinta wanita. Tapi bagaimana cara Nathan mengatakan pada Jessica tentang ayahnya itu. Atau haruskah ia memberitahunya?
"Hei, Nathan! Aku bicara padamu!"
"Ya?" Nathan terkejut.
"Apa artinya ucapanmu tadi?" tanya Jessica pada Nathan.
Nathan menggeleng, "Tidak ada."
"Katakan padaku," Jessica lalu menatapnya dengan mata menyipit. "Apa yang kau tahu tentang ayahku tapi aku tidak tahu?"
__ADS_1