
Nathan mengambil napas dalam-dalam dan helaan napas mengalir melalui mulutnya. Dia memainkan jari-jari di tangannya sebelum kemudian dia menatap mata gadis itu lagi.
"Ayahmu memiliki reputasi menyukai se*s dengan banyak wanita Jessica, semua orang di organisasi tau itu." Nathan akhirnya mengakui kepada Jessica. "Aku ragu kalau ayahmu akan mengatakan itu padamu, tapi dia adalah Robert Anderson. Dia agen yang terampil dan dia juga sangat tampan. Aku menganggap itu adalah hal wajar."
Jessica menggelengkan kepalanya, bahkan tidak berani memikirkan ayahnya masuk dalam hubungan yang tidak berarti dengan banyak wanita seperti itu. Selama ini Jessica berharap ayahnya akan mengencani seorang wanita dewasa. Catat! Hanya seorang.
"Aku mengerti," dia akhirnya menganggukkan kepala pada Nathan. "Aku jadi berharap kalau kau tidak pernah menjawab saja tadi."
"Kau memang bertanya tadi."
"Aku tahu, aku-lah yang salah." jawab Jessica mendecih sebelum kemudian dia mendengar teleponnya berdering lagi.
Awalnya dia sempat berpikir bahwa itu adalah ayahnya saat dia mencari-cari ponselnya yang berdering di dalam tasnya. Dia mengeluarkannya dan memeriksa nama penelepon. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah jadi pucat saat dia melihat nama siapa yang terpampang di layar ponselnya itu.
"Apa itu ibumu?" tebak Nathan.
"Iya." Jessica menjawab sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Ini ibuku."
"Kalau begitu jawablah!," Nathan berusaha membujuk Jessica. "Cepat atau lambat dan mau tidak mau, kau memang harus bicara dengan ibumu, Jessica."
__ADS_1
Jessica menatap layar ponselnya untuk beberapa sebelum kemudian dia memutuskan pilihannya.
"Aku akan melakukannya nanti saja," gumam Jessica, menggeser tombol merah pada layar ponselnya dan meletakkannya ke atas meja. "Jika dia ingin bicara maka dia bisa mengirimi aku pesan suara saja."
Nathan mengangguk, toh ia juga tak bisa memaksa gadis itu untuk bicara dengan ibunya. Nathan akhirnya memilih untuk membahas tentang kegiatan yang akan mereka lakukan setelah dari kafe ini saat ibu Jessica kembali menelepon untuk yang kedua kalinya.
Nathan mengikuti mata Jessica yang menatap ke arah ponsel yang ada di atas meja. Nathan tahu kalau sebenarnya gadis itu pasti ingin sekali menjawabnya. Dan satu-satunya masalah yang Jessica miliki adalah sifat keras kepalanya. Nathan berani bersumpah ia takut kalau sifat keras kepalanya itu akan menjadi akhir yang buruk bagi gadis itu nanti.
Dan pada akhirnya, ponsel itu berhenti berdering, terlihat ibunya meninggalkan pesan suara dan Jessica membuka kunci ponselnya. Jessica mendengarkan dengan seksama dan juga serius isi perkataan ibunya di pesan suara itu. Nathan yang berada di depannya terlihat sudah menyelesaikan tegukan terakhir untuk minumannya dan meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja.
Nathan memperhatikan ekspresi wajah Jessica saat dia mendengarkan isi pesan itu. Awalnya gadis itu memulai dengan memutar matanya malas sebelum kemudian dia menyilangkan satu kaki di atas kaki yang lain dan tampaknya mulai mendengarkan isi pesan itu dengan lebih serius.
"Ada apa?" Nathan bertanya padanya. "Kau terlihat agak sedikit… terguncang."
Jessica mengangkat pandangannya, menatap pada Nathan.
"Ibu dan John... mereka sudah berpisah," jawab Jessica kaku.
"Benarkah?" Nathan mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Jessica mengangguk.
"Dan ibu juga mengatakan sesuatu tentang John." ujar Jessica, "John, dia mengobrak-abrik seluruh rumah ibu, bahkan kamarku juga. Dia memporak-porandakan rumah. Dan ibu terdengar sangat terguncang tentang semua itu."
"Kau harus meneleponnya kembali, Jess!" kata Nathan padanya. "Apakah ibumu mengatakan alasan mengapa dia putus dengan John?"
Jessica menggelengkan kepalanya. "Ibu berkata bahwa saat ibu kembali ke rumah, ibu menemukan John sedang mencari-cari seseuatu di dalam laci. Selain itu, John juga mengatakan sesuatu tentang bagaimana dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, kemudian dia pergi begitu saja."
Nathan mengerutkan kening pada informasi yang di katakan Jessica itu. Setelah beberapa saat, Nathan kemudian berdiri dan segera mengulurkan tangannya kepada Jessica.
"Ayo! Kita akan pergi ke suatu tempat yang sepi dan kau bisa menelepon ibumu."
Jessica merasa kalau ia tak harus melakukan itu. Hei, ia masih agak kesal pada ibunya sekarang. Jessica masih tampak ragu-ragu untuk sejenak sebelum kemudian Nathan berbicara hal yang masuk akal kepadanya.
"Ayolah Jess, bahkan setelah semua yang dia lakukan, dia masih ibumu. Dia yang melahirkan dan merawatmu. Ya, setidaknya kau bisa menemuinya untuk menenangkan rasa terguncang yang ia rasakan."
Setelah Nathan selesai mengatakan itu, terdengar suara helaan pasrah yang panjang dari mulut Jessica dan pada akhirnya ia meraih uluran tangan Nathan dan mencoba untuk mengikuti saran dari pemuda itu
***
__ADS_1