
Nathan sama sekali tidak bisa melihat betapa kebingungannya gadis yang berjalan di sampingnya saat ini. Gadis itu telah menanyainya berkali-kali bahkan sejak mereka turun dari taksi, tetapi Nathan tidak berniat mengatakan apa-apa padanya. Nathan telah menutup mulutnya dan matanya menatap lurus ke depan.
Jessica yang pasrah kini memilih untuk terus mengikuti Nathan melewati Gedung Galeri Nasional sampai akhirnya mereka tiba di stasiun kereta bawah tanah terdekat.
Mau kemana sebenarnya laki-laki ini membawaku. Dan kenapa juga sejak tadi dia hanya diam saja. Dia harusnya menjelaskan semuanya padaku, dasar! Jessica terus menerus menggerutu dalam hati.
Sebenarnya gadis itu sangat sadar bahwa Nathan tidak akan menjawab pertanyaannya. Dia akhirnya hanya memilih diam dan mengikuti Nathan di sepanjang perjalanan. Ia juga berusaha yang terbaik sebisanya untuk tidak terlihat curiga pada pria muda di sampingnya itu.
"Kau tidak berniat menculikku kan?" tanya Jessica menyipitkan matanya, menatap Nathan dengan tatapan menyelidik.
"Aku punya dua alasan yang bisa menentang tuduhanmu itu. Pertama, aku menyelamatkan nyawamu dari pembunuh bertubuh besar dan kekar. Kedua, kau tidak akan mau mengikutiku seandainya aku memang menculikmu."
Jessica mendecih sinis, "Untuk alasan kedua, itu karena kau yang memaksaku untuk mengikutimu."
Nathan diam, lalu mengangguk setuju, "Benar juga."
__ADS_1
Nathan lalu mempercepat langkahnya melewati area stasiun kereta bawah tanah itu. Hingga akhirnya mereka melewati tikungan terakhir.
Jessica terus mengikuti Nathan yang saat ini tengah menaiki deretan anak tangga yang entah menuju kemana.
"Di mana kita?" Jessica akhirnya bertanya ketika Nathan berjalan ke sebuah gedung besar yang ada di dekat stasiun itu. Mereka kini berada di depan gedung bawah tanah yang entah kenapa terlihat begitu mewah.
Nathan kemudian menunjukkan kartu keamanannya kepada sekelompok penjaga yang ada di depan gedung. Mereka menatap Jessica dengan tatapan curiga sebelum kemudian Nathan meyakinkan mereka bahwa Jessica datang bersamanya dan atasan mereka bermaksud menemuinya.
"BIN," Nathan memberitahu Jessica. "Apa kau tau berita tentang sebuah insiden pengeboman awal minggu ini di gedung Kementrian Dalam Negeri?"
Jessica mengangguk, "Aku menontonnya di berita dan juga sempat membaca artikelnya."
"Lalu kenapa kita ada di kantor BIN?" Jessica bertanya-tanya.
Saat ini Jessica bahkan berusaha sebisanya untuk tidak terdengar frustrasi dengan seluruh situasi yang baru saja terjadi padanya. Dan Nathan malah mengajaknya ke tempat ini.
__ADS_1
Apa hubungannya antara peristiwa pengeboman di kantor Kementrian, markas BIN dan Ayahnya? Lalu apa hubungannya semua itu dengan dirinya? Lalu kenapa pria bertubuh kekar tadi harus memburunya? Nathan bilang itu karena ayahnya. Tapi kenapa bisa semuanya berhubungan dengan ayahnya. Memangnya ada apa dengan ayahnya.
Hal terburuk dari semua ini adalah tak ada penjelasan lengkap juga jawaban yang jelas atas rasa penasaran Jessica. Bahkan penjelasan Nathan barusan tidak menjawab apapun yang menjadi pertanyaannya.
"Aku tau kalau kau memang tidak ingin menjawab apapun. Tapi bisakah kau memberi tahu aku apa yang sebenarnya terjadi?"
Nathan menatap mata Jessica yang saat ini terlihat memohon untuk segala penjelasan darinya. Tapi Nathan memang tak bisa menjelaskan apapun. Itu sama sekali bukan ranahnya untuk memberitahu Jessica. Ia terlibat insiden ini juga karena Robert yang diam-diam meminta pada Nathan untuk menjaga Jessica.
Nathan menatap Jessica yang saat ini juga tengah menatapnya. Sekilas tatapan Jessica berhasil membuat Nathan membeku di tempatnya. Dia benar-benar memiliki tampilan tegas dari ayahnya. Tentu saja, dia ka putri dari Robert Anderson.
"Kau tahu kalau aku tidak bisa memberitahumu. Itu bukan posisiku untuk menjelaskannya," kata Nathan datar.
Ah, rasanya ini sudah sekitar seratus kalinya Nathan mengucapkan kalimat ini pada Jessica.
Nathan lalu menggesekkan kartu keamanannya ke panel akses dan berjalan masuk ke dalam gedung. Mereka melewati aula yang akan menuju ke lift. Mereka terus melangkahkan kaki, masuk lebih dalam ke gedung itu. Dan sesampainya mereka berdua di depan lift, Nathan segera menekan tombol lift yang akan mengantarnya ke ruangan yang ia tuju.
__ADS_1
"Kemana sebenarnya kita akan pergi?" tanya Jessica bingung.
"Ke bawah tanah!" Nathan kali ini menjawab.