
Jessica tidak bisa tidur, sejak awal dia tau kalau dia memang tidak akan bisa tidur. Dan pada akhirnya dia memilih untuk berbaring saja dan mengistirahatkan dirinya di tempatnya membelakangi Nathan.
Nathan sendiri saat ini tengah tidur nyenyak di sebelahnya. Pegangan tangan pemuda itu telah terlepas dari tangannya. Dan Jessica sendiri memiliki bonekanya di bawah bantal yang saat ini tengah ia peluk di perutnya. Jessica memejamkan matanya dan bisa mendengar dengkuran pelan dari pemuda yang ada di belakangnya itu.
Sesekali Jessica menolehkan pandangannya ke belakang tubuhnya untuk melihat pada Nathan. Ia menatap pemuda itu dengan ekspresi sedih yang terpatri di wajahnya.
Sejujurnya, sejak kejadian pembajakkan Macbook-nya tadi, dia tau bahwa dia dan pemuda itu tengah berada dalam masalah lagi. Jessica bisa merasakan itu di hati dan pikirannya.
Satu hal yang Jessica inginkan saat ini. Ia hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada pemuda itu. Jessica peduli pada Nathan lebih dari yang ingin dia akui selama ini. Ketakutan akan kehilangan pemuda itu menjadi semakin nyata bagi Jessica. Apalagi dia pernah melihat pemuda itu terluka sebelumnya. Dia tidak tahu apakah dia bisa menanggung lagi jika Nathan kembali terluka.
Baru setelah jam menunjukkan waktu pukul setengah empat pagi dia melihat ke layar ponselnya yang tiba-tiba saja menyala. Benda itu berdering. Sebelumnya Jessica memang meletakkan benda itu di atas nakas yang ada di dekat tempat tidurnya. Ya, ia lebih memilih untuk meletakkan ponselnya di dekatnya takut-takut jika seandainya terjadi keadaan darurat nanti ia bisa dengan mudah menggapainya.
Jessica meraih ponselnya dan dia bisa melihat nama penelepon. Itu jelas ayahnya. Jessica dengan cepat mengambil benda itu dan dengan perlahan turun dari tempat tidur agar tidak mengganggu Nathan. Setelah berada agak jauh dari Nathan, Jessica menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda itu di telinganya.
__ADS_1
"Halo."
"Jessica, terima kasih Tuhan," Robert menghela napas. "Ayah sudah menerima pesan suaramu dan ayah menelepon karena khawatir. Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja?"
"Ayah, aku baik-baik saja," ujar Jessica kepadanya sambil menutup pintu kamar Nathan. Ia meraba dinding rumah Nathan dalam kegelapan. Setelah ia berada di dekat sofa, ia berjalan dengan tangannya yang memegang sandaran sofa sebelum kemudian dia duduk di sofa itu.
"Saat ini aku sedang berada di rumah Nathan. Dia berjanji padaku kalau akan membawaku ke kantor organisasi besok agar aku tidak sendirian di rumahnya." Lanjut Jessica.
"Baguslah kalau begitu, besok ayah akan mengejar penerbangan pertama agar bisa kembali kesana dengan cepat." Robert berujar padanya.
"Tugas itu... ya itu hanya tugas ringan" ujar Robert. "Itu tidak berarti apa-apa bagi ayah, Jessica. Atasan ayah bahkan bisa mengirim agen lain ke sini untuk menggantikan ayah."
"Baiklah," bisik Jessica begitu dia mendengar jawaban ayahnya. Jessica tidak bisa berpura-pura kalau dia tidak merasa gembira mendengar kabar bahwa ayahnya akan pulang kesini "Ayah, aku... merindukanmu."
__ADS_1
"Ck, kau merindukan ayah atau mengkhawatirkan ayah?" Robert bertanya-tanya padanya dengan nada menyindir.
Jessica dengan tidak nyaman bergeser di kursinya. Dia mengambil beberapa detik sebelum kemudian menghela nafas dan menggosok leher belakangnya.
"Ya, mungkin keduanya," jawab Jessica ragu, bermain dengan perban yang ada di kakinya. "Apakah ayah baik-baik saja di sana?"
"Ayah baik-baik saja," Robert berjanji padanya. "Ayah akan langsung datang ke kantor untuk menemui begitu pesawat ayah mendarat. Oke?"
"Oke," Jessica mengangguk setuju.
Keadaan hening untuk beberapa saat sebelum Jessica kembali bicara.
"Aku tidak tahu apa yang diinginkan orang ini dariku, Ayah. Aku tidak tahu mengapa dia menyeretku ke dalam hal ini. Hal ini benar-benar tidak masuk akal bagiku."
__ADS_1
"Kita tidak tahu apakah dia memang berniat untuk menyeretmu ke dalam hal ini atau apakah ini hanya caranya untuk bermain dengan Nathan."