
Nathan langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur begitu ia dan Jessica sampai di rumahnya. Saat ini ia tengah mengenakan kaos putih polos dan juga celana panjang yang longgar agar ia bisa lebih nyaman untuk bergerak kemanapun dia mau.
Begitu ia selesai mengganti pakaian, ia langsung beranjak keluar dari kamar dan mendapati Jessica yang saat ini tengah duduk di sofa kulit miliknya. Gadis itu menaikkan kakinya kakinya ke atas sofa. Kedua kakinya di tarik mendekat ke dadanya sementara kedua matanya fokus menatap ke arah televisi, menonton saluran berita. Gadis itu nampaknya juga sudah berganti pakaian dan saat ini ia tengah mengenakan gaun tidurnya. Wajahnya tampak agak berbeda dari sebelumnya, karena ia telah menghapus semua riasan di wajahnya.
Sambil berdiri di ambang pintu kamarnya, pemuda itu diam-diam memperhatikan bagaimana saat ini Jessica terlihat dengan agak gugup menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Sejujurnya semenjak masih di perjalanan pulang tadi, gadis itu sudah menampakkan ekspresi wajah yang agak murung. Nathan tau penyebabnya. Nathan tau jelas apa yang membuat gadis itu terlihat sedih. Ini pasti karena ia teringat ayahnya.
Nathan berpikir kalau selama ini Jessica selalu bertindak sangat tenang, tapi kali ini mengingat kalau ayahnya tengah pergi ke misi lain, Nathan yakin kalau Jessica pasti merasa khawatir pada ayahnya itu.
Menurut Nathan, selain merasa khawatir, selama ini gadis itu hampir tidak pernah terlihat gugup. Ah, atau Nathan hanya tidak pernah melihatnya gugup. Entahlah. Hanya pernah satu hari ketika dia sendirian dan dibiarkan melamun, itu membuat jessica langsung memikirkan keadaan sang ayah.
Dia tahu bahwa dia berusaha menjadi kuat demi ayahnya. Dia melakukan yang terbaik untuk tidak terlihat lemah di depan siapa pun.
Nathan perlahan bergerak dari ambang pintu kamar tidurnya, kakinya melangkah menginjak lantai keramik sebelum akhirnya dia tiba di depan sofa. Ia dengan perlahan duduk di sebelah Jessica dan menyandarkan punggungnya yang masih agak sakit untuk beristirahat di sandaran sofa. Ia lalu mengangkat lengannya yang tak sakit dan meletakkannya di belakang Jessica.
Jessica menganggap gerakan itu sebagai semacam undangan untuknya. Dia tersenyum kecil kemudian bersandar di sisi Nathan sementara matanya masih fokus menatap ke arah televisi, masing-masing dari mereka masih diam untuk beberapa saat sebelum kemudian Nathan mulai berbicara.
"Kau tidak perlu berpura-pura sepanjang waktu." ujar Nathan pada Jessica, matanya masih fokus menatap televisi.
Jessica tidak menjawab apa-apa atas perkataan itu. Ia bingung. Haruskah ia tetap berpura-pura? Ia memilih untuk tetap diam saat ini. Namun sedetik kemudian tatapannya berubah. Ia langsung mengambil remote televisi dan menaikkan volume saat dia mendengar penyebutan 'Bulgaria'. Ia khawatir kalau berita itu berhubungan dengan ayahnya, namun ternyata hanya ada beberapa kerusuhan dan tidak ada hubungan apa-apa tentang ayahnya.
Nathan hanya bisa menghela napasnya melihat betapa gugup dan khawatirnya Jessica saat ini.
__ADS_1
"Jessica," Nathan membisikkan namanya, mencoba untuk menyadarkan gadis itu dari kebingungan dan rasa khawatir berlebih yang dialaminya. "Dia akan aman. Ayahmu pasti akan aman!"
"Aku tahu," gumam Jessica pelan, sejujurnya saat ini ia bahkan tidak sepenuhnya yakin dengan ucapannya sendiri. Jessica lalu menundukkan kepalanya, "Ya, aku tahu itu adalah pekerjaannya. Dan dia sudah melakukannya selama bertahun-tahun yang aku bahkan tidak pernah tahu sebelumnya."
"Ya, dan ayahmu mungkin masih akan melakukannya selama beberapa tahun lagi," ujar Nathan ragu padanya.
"Kau benar," Jessica mengangguk.
"Mr. Robert cukup terampil untuk bertahan hidup di luar sana. Ah, bukan cukup tapi sangat terampil. Tapi aku rasa kau juga tidak perlu menyembunyikan rasa takut dan khawatir yang kau rasakan setiap kali dia pergi. Kau tahu aku ada di sini! Kau tau bahwa aku akan mengerti dan melakukan yang terbaik untuk mengalihkan rasa khawatirmu darinya."
Jessica tersenyum, "terima kasih, Nathan. Aku merasa beruntung karena memilikimu di sampingku."
"Ya, dengar Jessica! Kau berhak merasa khawatir. Sangat. Tapi ada aku di sini. Kau bisa menumpahkan segala perasaanmu padaku. Jangan memendamnya sendirian." ujar Nathan halus pada Jessica.
"Ya, lagipula Alice akan ada bersamanya, membantu ayahmu. Dia pasti akan memastikan bahwa Robert memiliki semua yang dia butuhkan."
"Alice?" Jessica bertanya bingung, ia menaikkan sebelah alisnya dan menatap Nathan.
"Ya, Alice," Nathan mengangguk, membenarkan pertanyaan itu. "Dia adalah orang yang dipromosikan menjadi wakilku sejak aku mengambil cuti sakitku yang kebetulan akan berakhir minggu depan."
Jessica menegakkan posisi duduknya, ia kini menatap Nathan dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Bicara tentang cuti sakit, aku jadi penasaran, apakah kau tidak bisa benar-benar menikmati waktu istirahatmu? Orang-orang di organisasi bahkan sering menghubungimu selama ini." Jessica bertanya-tanya padanya.
"Ya, sebenarnya aku adalah yang terbaik. Dan mereka tidak terlalu bisa menjalankan tugas-tugas itu tanpa aku, jadi mereka akan sering menghubungiku untuk meminta intruksi!" Nathan terkekeh.
Jessica mendecih, ia kembali menyandarkan dirinya pada Nathan, "Dan aku juga tidak tau apa yang akan terjadi pada kita saat kau kembali bekerja nanti? Ck, aku berasumsi kalau aku tidak akan bisa melihat dirimu sebanyak yang aku inginkan lagi."
"Mungkin tidak," Nathan setuju. "Pekerjaannya pasti akan sibuk, tapi aku akan mencoba dan memastikan sebisaku agar aku bisa selalu bertemu denganmu."
"Itu akan menyenangkan," jawab Jessica dengan nada lembut. Ia semakin menempelkan tubuhnya pada Nathan, menyandarkan kepalanya di bahu Nathan saat tiba-tiba saja pemuda itu bergerak untuk mengambil remote televisi dari genggaman tangannya.
"Mau apa?" tanya Jessica sambil menahan remote televisi itu lebih kuat, mencegah Nathan mengambil benda itu darinya.
Jessica tidak bergerak saat dia merasakan Nathan saat ini tengah meletakkan dagunya di atas rambutnya.
"Sudah cukup menonton beritanya." ujar Nathan, kali ini nada bicaranya terdengar lebih tegas. "Kau tidak bisa terus menonton berita dan menunggu berita buruk yang bisa terjadi pada ayahmu. Dan aku yakin kalau ayahmu juga tidak akan menginginkanmu melakukan itu." bisik Nathan padanya.
Nathan kembali bergerak untuk mengambil remote itu dari tangan Jessica yang masih memegang benda itu. Merasa genggaman Jessica yang masih kencang pada remote, Nathan menghela.
"Jessica, biarkan aku mengganti salurannya. Ayo, kau berikan remotenya padaku!" ujar Nathan kembali meraih benda itu.
Perlahan, Jessica tersenyum jail dan akhirnya ia membiarkan Nathan mengambil remote dan dia menutup matanya saat Nathan mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
"Kita nonton sinetron saja." ujar Nathan.
***