Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
31


__ADS_3

"Itu dia…" ujar seseorang dari salah satu pekerja di ruangan itu dengan nada pelan, walaupun masih bisa terdengar jelas di telinga semua orang termasuk Jessica sendiri.


Jessica saat ini terlihat kembali masuk ke dalam ruangan dimana ia dan Nathan bersama sejak semalam. Jessica bisa melihat beberapa dari orang-orang itu tengah menatapnya, ia merasa heran tapi memutuskan untuk tak terlalu ambil pusing.


Ia lalu berjalan menuruni anak tangga tepat saat Nathan berbalik dan menoleh padanya karena pemuda itu sudah tanpa sengaja mendengar suara-suara bisikan dari para bawahannya.


Mata Nathan tak berkedip saat melihat gadis itu sudah berada di dekatnya. Entah kenapa dengan dirinya. Detik selanjutnya, Nathan menggelengkan kepalanya, menyadarikan dirinya sendiri dari lamunan.


"Kau datang kemari lagi," ujar Nathan dengan bibir yang tersenyum simpul padanya.


"Ya, ayah menyuruhku untuk kembali lagi ke sini, bersamamu." bisik Jessica pada pria muda itu, berusaha agar tidak ada orang lain yang bisa mendengar ucapannya.


"Kemana dia sekarang?" tanya Nathan padanya dengan nada pelan. "Maksudku, ayahmu!"


"Ya, dia mengatakan padaku kalau dia akan pergi ke tempat lain untuk mengintrograsi Dimitri." balas Jessica terdengar tak begitu yakin.


"Begitu rupanya." balas Nathan menganggukkan kepalanya mengerti.


Jessica kemudian mendekatkan dirinya pada Nathan.


"Ayahku juga menitip pesan dan meminta agar kau membawa laptopnya setelah ini,"


"Baiklah." Nathan mengangguk sementara kedua matanya masih fokus pada laptop milik Dimitri.


Jessica yang diam membuat Nathan juga memilih untuk diam dan hanya fokus pada komputernya. Detik selanjutnya, Nathan menyadari jika kecanggungan tengah terjadi di antara mereka sekarang dan memutuskan membuka kembali percakapan.


"Jadi bagaimana perasaanmu sekarang? Kau sudah bertemu ayahmu kan, jadi kau pasti merasa sangat lega bukan?" tebak Nathan.


"Sedikit lebih baik, kurasa," jawab Jessica mengangkat bahunya santai. "Maksudku, semuanya hanya masih terasa agak aneh bagiku. Suasana ini… orang-orang ini… gedung ini… semuanya…"

__ADS_1


"Aku pikir perasaan aneh itu tidak akan berlangsung lama. Kau akan terbiasa dengan semua ini. Terutama setelah mengetahui siapa ayahmu sebenarnya. Aku pikir kau harus mengontrol emosimu."


"Ya, aku rasa juga begitu."


Nathan kemudian melanjutkan. "Aku juga yakin kalau kau tidak mungkin menghabisi ayahmu sendiri karena sudah berani membohongimu selama bertahun-tahun lamanya." ejek Nathan.


"Apa kau pikir aku punya kesempatan untuk melakukan itu pada ayahku dengan keadaan genting seperti ini?" Jessica tersenyum kecil kemudian menggelengkan kepalanya.


Nathan balas tersenyum lalu kembali fokus menatap laptop milik Dimitri di depannya. Ia terlihat menghela napasnya pelan kemudian mendecih. Laptop ini mulai membuatnya merasa agak sebal sekarang.


Sebagai seorang mantan agen. Dimitri tentu saja adalah seseorang yang pintar. Sangat pintar malah. Nathan tidak bisa membantah hal itu. Terbukti dia mampu menyembunyikan beberapa sistem rahasia di dalam laptopnya ini. 


Ia menghentikkan kegiatannya, sebelah tangannya tengah berdecak di pinggang sementara satu tangannya yang lain tengah memegang dagunya sendiri.


'Dia lumayan pintar untuk masalah ini. Dia berhasil menyembunyikan dokumen. Semuanya di proteksi dengan baik. Tapi dia tidak sepintar aku. Aku akan mencari cara agar bisa membukanya.' Batin Nathan lalu ia kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.


Di sela pekerjaannya Nathan lalu melirik ke arah para bawahannya, setelah itu ia menoleh pada Jessica.


Jessica menaikkan sebelah alisnya. "Sesuatu?"


"Ya, aku pikir, sepertinya, hampir seluruh orang yang ada di divisi ini sudah tahu siapa dirimu." ujar Nathan santai.


Jessica mengerutkan dahinya. "Apa?"


"Yah, saat ini aku hanya mencoba memberitahu sebelum kau mengetahuinya sendiri." Nathan menggedikkan bahunya.


"Hah? Bagaimana maksudnya?" Jessica berujar tak mengerti dengan ekspresi bertanya-tanya. Ia bahkan tidak melihat ke belakang, ia merasa malu pada orang-orang yang ada di belakangnya yang entah kenapa terus menatapnya sejak tadi.


"Ya, begini... jadi Gerry sudah menggunakan kemampuan amatirnya untuk meretas CCTV yang ada di koridor. Dan itu tepat saat kau dan ayahmu bertemu beberapa saat yang lalu. Dia lalu mengirim tautan ke semua orang, membuat orang-orang yang ada di ruangan ini melihat adegan 'penuh haru' kalian." ujar Nathan panjang lebar tanpa melihat ke arah Jessica.

__ADS_1


Jessica menatap Nathan bingung, "Gerry?"


"Ya Gerry! Mungkin Gerry pikir dia bisa lolos dengan kelakuan tak sopannya itu," kata Nathan, sambil menatap datar pada seorang pemuda yang duduk tidak jauh darinya. Itulah Gerry.


Sementara pria yang di duga bernama Gerry itu memilih untuk menenggelamkan kepalanya ke mejanya sambil berpura-pura mengetik di keyboardnya dengan tergesa-gesa.


Pekerja lain yang mendengar itu hanya bisa tersenyum melihat Gerry yang saat ini terlihat kalang kabut karena mendengar omelan dari Nathan.


"Dia?" Jessica berujar bingung sambil ikut menatap pada Gerry.


"Ya, begitulah." Nathan menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Dan aku bisa katakan kalau setelah ini dia pasti akan ditempatkan dan di tugas untuk membersihkan tempat sampah selama seminggu oleh Marie, karena ulahnya itu."


"Tugas sampah yang sebenarnya?" Jessica bertanya saat mengingat julukan ayahnya pada Nathan beberapa saat yang lalu.


"Tugas untuk seorang jenius komputer yang berbuat 'nakal' di divisi ini, lebih tepatnya." Nathan mencoba memberitahu Jessica. "Aku ingin menjelaskannya... tapi ..."


"Aku tidak akan mengerti," jawab Jessica, menatap Nathan dengan senyum kecut. Ia lalu mengibaskan tangannya acuh.  "Tapi tidak apa-apa, lagipula mungkin lebih baik jika aku tidak mengerti."


"Ngomong-ngomong," Nathan berdehem sebentar, mencoba untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka berdua. "Apakah kau ingin duduk? Karena ya… aku ingin melanjutkan pekerjaan ini."


Nathan menunjuk laptop yang sedang ia kerjakan di depannya. Jessica menoleh dan segera mengerti kalau pria muda itu pasti agak sibuk sekarang.


"Oh," Jessica kemudian mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu itu."


Jessica kemudian menyandarkan pinggulnya di meja kerja milik Nathan. Untuk beberapa saat ia hanya diam, mengamati pekerjaan dari pemuda itu. Pandang matanya kemudian beralih pada cangkir milik Nathan yang ada di meja itu sebelum akhirnya dia melihat layar besar di depannya.


Di sela keterdiamannya, tiba-tiba muncul di kepala Jessica tentang siapakah sosok Dimitri itu sebenarnya. Dan Jessica bertanya-tanya apakah yang sudah lelaki itu lakukan di laptopnya itu hingga membuat semua orang terlihat begitu ketakutan dan waspada.


Apakah Dimitri itu memang sangat berbahaya?

__ADS_1


***


__ADS_2