Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
48


__ADS_3

Entah sudah beberapa jam berlalu. Mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Jessica ditarik keluar dari pesawat beberapa saat setelah mereka mendarat.


Jessica menoleh kanan dan kiri. Tak ada orang di sini?


"Ini adalah lapangan pesawat terbengkalai," ujar Dimitri seakan membaca raut bingung di wajah Jessica.


"Aku tidak bertanya."


"Well, aku hanya memberitahumu saja."


"Dan aku tidak peduli." jawab Jessica.


Dimitri hanya melirik santai. Tak berniat menanggapi lagi. Ia memerintahkan anak buahnya agar bersiap dengan cepat.


Mereka lalu pergi ke sebuah rumah kosong yang ada di dekat lapangan pesawat terbengkalai itu. Mereka mempersiapkan beberapa hal sementara Jessica di dudukkan di ruangan lain dan dijaga oleh beberapa anak buah Dimitri.


Setelah beberapa jam berada di tempat itu, akhirnya mereka mulai kembali bergerak. Jessica tak pernah merasa sebosan ini selama ia hidup. Ia tak tahu apa yang orang-orang ini lakukan tapi ia benar-benar tak sanggup lagi menunggu.


Sepertinya sudah hampir seharian ia di bawa oleh orang ini. Dan ia tak tahu sudah berapa lama ia di rumah kosong ini. Ia hanya berharap di saat ia menunggu di tempat ini, ayahnya menyusul untuk menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


Tapi apa dia berharap terlalu tinggi?


Lamunan Jessica itu langsung terganggu karena ia merasakan tubuhnya ditarik dengan kasar memasuki sebuah helikopter. Ia didoronh dengan paksa untuk duduk ke dalam helikopter. Sejujurnya ini adalah kali pertama ia menaiki helikopter seperti ini. Tapi ia juga tak berharap bisa menaikinya dalam keadaan seperti ini.


Entah mereka akan pergi kemana, tapi bagi Jessica perjalanan ini terasa terlalu melelahkan bagi dirinya.


Dan beberapa saat setelah mereka menaiki helikopter, perhatian Jessica teralihkan pada pintu helikopter yang tiba-tiba saja di buka.


Jessica mengintip melalui jendela di sisi helikopter Dimitri, tatapannya melebar saat dia melihat sebuah rumah besar di depannya. Dahinya lalu berkerut saat melihat bangunan itu. Dan hal yang membuatnya penasaran adalah mengapa mereka membawanya kemari?


Apakah ayahnya ada di sana?


"Vila Kingdom," Dimitri tiba-tiba berseru pada Jessica sementara kedua matanya ikut melihat keluar, menatap pada pemandangan yang ada di sekitar mereka melalui jendela kaca dari helikopter itu.


Jessica menatap Dimitri dengan tatapan bingung, ia tidak mengerti dengan semua ini.


Dimitri menoleh pada Jessica yang masih terlihat bingung, kemudian ia tertawa. "Bukan kerajaan yang sebenarnya. Tapi itu adalah vila milik kakek dan juga nenekmu. Orang tua dari ayahmu! Apakah kau tidak tahu itu?"


Jessica tidak mengatakan apa-apa untuk sejenak. Ia memutuskan bahwa yang terbaik saat ini adalah tetap diam. Jessica menolehkan pandangannya ke bangunan di depannya.

__ADS_1


'Ini rumah kakek dan nenekku?' batinnya.


"Dan kau tau... aku mendapat informasi kalau ayahmu sedang berlindung di sini." ujar Dimitri. "Ayahmu di Thailand!"


Lalu saat itu juga Jessica menyaksikan salah satu dari anak buah Dimitri tiba-tiba saja berlutut di lantai helikopter, dengan senjata besar di tangannya. Dan saat itulah Jessica akhirnya menyadari apa yang akan Dimitri lakukan pada bangunan itu.


Dimitri akan menembak rumah itu.


"Kau tidak bisa melakukan itu!" Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak kencang pada Dimitri, suaranya tertutup oleh suara baling-baling dari helikopter yang tengah mereka naiki.


Tatapan tajam Dimitri beralih sejenak pada Jessica sebelum kemudian ia berbalik kembali, melihat ke arah anak buahnya dan memberi sinyal untuk melepaskan tembakan.


Jessica langsung berontak di kursinya, mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari tali yang mengikatnya.


"Kenapa menurutmu aku tidak bisa melakukannya?" ujar Dimitri tersenyum miring, tanpa melihat ke arah Jessica lagi. Kemudian detik itu juga Jessica melihat dengan mata kepalanya sendiri saat rumah itu mulai di tembaki dari atas helikopter. 


"AYAHHHH!"


***

__ADS_1


__ADS_2