Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
9


__ADS_3

Pagi hari itu Robert melakukan perjalanan dengan melalui lalu lintas perkotaan yang sangat ramai. Ia bersyukur bisa pergi lebih pagi dan menghindari kemacetan kota yang biasa terjadi.


Ia tidak langsung pergi ke bandara karena ia teringat kalau sebelum pergi ia perlu mengunjungi seseorang. Ya, pagi ini dia akan pergi ke kantor Kementrian tempat Nathan Jones bekerja. Nathan adalah pria muda yang sempat ia temui di gedung galeri beberapa waktu lalu.


Dia perlu bertemu dengan pria muda itu, mengingat dia tidak tahu harus pergi kemana untuk mengambil paspor miliknya. Dan selain itu, Robert juga harus bertemu dengannya karena ia perlu mengeluhkan tentang senjata yang di berikan Nathan padanya secara diam-diam di museum kemarin.


"Mr. Robert," Nathan berseru begitu dia memutar kursinya dan mendapati Robert berdiri di ambang pintu. Ia menutup dokumen yang tengah ia baca sementara kedua matanya masih menatap pada Robert yang saat ini tengah berjalan masuk kedalam ruang kerjanya.


Nathan saat itu tengah duduk di balik meja di dalam ruang kerjanya. Ia baru saja hendak memulai mengerjakan pekerjaannya beberapa saat yang lalu, sebelum kemudian seseorang muncul secara tiba-tiba setelah membuka pintu ruangannya tanpa mengucapkan permisi.


Setelah kedatangan Robert yang mendadak ke ruang kerjanya, Nathan kini meletakkan dokumen yang ada di tangannya ke atas meja.


"Aku rasa seseorang tidak tau cara mengucapkan kata permisi yang benar," sindir Nathan.


Robert menggedikkan bahunya, acuh. "Aku tak pernah menggunakannya selama ini."


Nathan memindahkan tangan kanannya ke atas mouse, fokus pada komputernya. Sementara Robert memilih berdiri tegak, dengan punggung menyandar ke dinding yang ada di dekat pintu dan kedua matanya menatap datar pada pria muda di depannya itu.


"Aku yakin, kedatanganmu pagi-pagi sekali di sini adalah untuk mengambil paspor milikmu," Nathan mulai bicara dengan nada sopan. "Ya, seharusnya aku benar-benar memberi semua perlengkapannya padamu di museum waktu itu, tapi seperti yang kau tau, kalau pembicaraan kita harus terpotong karena kedatangan putrimu."


"Bagiku waktu yang kita miliki kemarin sudah hampir cukup. Dan tak membuang-buang waktu dan juga kesempatan yang ada," jawab Robert, bibirnya tertutup rapat saat kedua matanya menatap ke sekelilingnya.


Robert lalu mengeluarkan pistol yang dia bawa sejak tadi dari sakunya dan menunjukkannya kepada Nathan. Baru setelahnya Robert meletakkan benda itu ke atas meja, tepat di hadapan Nathan.


"Apa ada yang salah?" Nathan bertanya penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya bingung. Ia lalu menyerahkan paspor milik Robert kemudian mengambil senjata itu. "Setahuku yang harus kau lakukan adalah menembak sesuatu. Bukankah ini sama sekali tidak sulit bagimu?"


Robert menaikan sudut bibirnya, tersenyum sinis pada Nathan. Ia lalu menggedikkan bahunya. "Ya, kau memang benar. Aku hanya perlu menembak sesuatu. Dan aku sudah mencoba melakukannya tadi malam," kata Robert dengan ekspresi datar di wajahnya.

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku bisa menggunakannya, Nathan! Aku jamin itu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang salah dengan benda itu."


Nathan melihat benda yang ada di tangannya itu kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil di sudut mulutnya muncul saat dia meletakkan senjata itu di atas meja.


"Aku rasa penyebabnya adalah karena seseorang lupa untuk 'mengaktifkannya'," jawab Nathan sambil terus mengamati benda di atas mejanya itu. "Sepertinya ini harus di aktifkan dulu."


Mendengar penjelasan dari pria muda di hadapannya itu, Robert hanya bisa menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Seseorang?" Robert berujar penasaran.


Robert saat ini terus menatap Nathan dengan pandangan ragu. Bicara tentang keraguan, sejujurnya sejak pertemuan pertama mereka di museum kemarin, Robert sudah meragukan kemampuan dari pria muda di hadapannya ini. Lihat saja, dia tampak terlalu muda untuk menjadi pemimpin di divisi ini. Benar-benar terlihat seperti anak amatiran yang baru lulus dari sebuah Universitas.


"Ya, seseorang. Tapi bukan aku," kata Nathan menjelaskan dengan santai. "Aku bisa merasakan rasa penasaran hanya dari ekspresimu itu, Mr. Robert."


"Hmm ya, aku memang bisa membantumu untuk mengaktifkannya." jawab Nathan. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya sambil mulai mengutak-atik senjata itu. "Tapi, kenapa kau mencoba menembakkan benda ini tadi malam? Tetanggamu akan mendengarnya nanti. Dan aku juga berharap kau tidak membuat anak gadismu itu sampai mati karena terkejut."


"Tidak, tenang saja. Aku mencobanya saat Jessica sedang tidur nyenyak. Aku membidik senjata itu ke arah dinding rumahku. Dan itu juga tak mungkin sampai membangunkan tetangga yang ada di sebelah rumahku karena aku mengunakan peredam." kata Robert menjelaskan. "Ya, aku hanya harus mencobanya karena aku perlu melihat dan mengecek seberapa baik kualitas dari benda itu. Aku tidak ingin diberikan barang rongsokan."


"Ck, kata rongsokan terdengar sangat kasar, Mr. Robert Anderson." ujar Nathan sinis.


"Ya! Dan tidak ada salahnya bukan jika aku mengecek senjatanya lebih dahulu. Dan lihatlah ini! Bukankah barangnya sangat bagus. Karena seperti yang kita lihat sekarang, benda itu bahkan tak bisa di gunakan." sindir Robert sambil melirik senjata yang ada di tangan Nathan itu.


"Kurasa begitu," jawab Nathan menyerahkan kembali senjata itu pada Robert setelah beberapa saat mengutak-atik bagian dalam senjata. "Aku sudah memperbaikinya. Bos sudah mengajariku sebelumnya, jadi itu mudah untuk mengaktifkannya. Kau sudah bisa menggunakannya lagi sekarang."


Robert mengambil benda itu dari tangan Nathan dan fokus menatap benda itu. "Bagus kalau begitu."

__ADS_1


"Ada orang dalam yang bekerja untuk kita di bagian pemeriksaan di bandara yang akan membantu meloloskanmu dengan senjata nanti." ujar Nathan lagi yang langsung di angguki Robert sebagai jawaban.


"Ah, dan juga... aku akan pastikan supaya kau bisa mendapat senjata tambahan lain nanti." ujar Nathan lagi melihat pada Robert yang masih fokus melihat senjata di tangannya.


Robert menghela napasnya malas. "Ya, pastikan itu!"


"Ngomong-ngomong, anak gadismu sepertinya tidak terlalu menikmati melihat ragam lukisan." Nathan mengubah topik pembicaraan.


Robert tampak sedikit heran saat Nathan membahas anak gadisnya.


"Dia memiliki selera yang sama denganku dalam hal menilai lukisan dan makna yang tersembunyi di dalamnya. Kami tidak suka mengamati hal-hal yang membuang waktu seperti itu." sindir Robert.


"Itu bukan membuang waktu, tapi kau hanya terlalu cepat bosan." Nathan menyindir balik.


"Ya, kalau saja pemimpin kita mengatakan padaku untuk bertemu di suatu tempat yang sedikit lebih menarik dari tempat itu, tentu akan jauh lebih menyenangkan." jawab Robert padanya.


"Itu adalah tempat yang menarik bagiku. Dan jujur saja, aku lah yang menyarankan pada ketua agar kita bertemu di sana." ujar Nathan terdengar sedikit tak terima.


"Ya, itu cocok denganmu. Sama-sama membosankan." ujar Robert membuat Nathan menatapnya tak terima.


"Apa?" ujar Nathan kesal.


"Aku memang baru bekerja dengannya karena bos yang meminta. Bos memang sering mengatakan kalau kata-katanya kasar. Tapi aku tidak tau kalau ternyata dia sangatlah menyebalkan... Nathan menatap Robert sinis.


Robert hanya diam, terlihat tak terlalu peduli dengan gerutuan pria muda itu. Ia kemudian menatap serius pada pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Tapi, sepertinya aku sedikit membutuhkan bantuanmu." ujar Robert dengan nada sedikit berbisik.

__ADS_1


"Bantuan?"


__ADS_2