
"Pergi saja kau ke neraka." ujar Jessica tajam.
"Pergi ke neraka?" gumam Dimitri tersenyum kemudian mendecih sinis. Ia menatap Jessica dengan tatapan tajam.
Wajah Dimitri kemudian terlihat mengeras. Ia merasa kesal karena penolakan yang di lakukan oleh gadis itu. Tubuhnya perlahan mundur ke belakang dan kembali menyandar pada sandaran kursi.
Jessica terus mengamati reaksi dari pria di depannya itu dengan hati-hati. Jessica bisa melihat sekilas ada ekspresi sedih yang terlintas di wajah Dimitri, sebelum kemudian lelaki itu balas menatap mata Jessica.
"Ah, aku merasa sangat kesal! Tapi aku tidak memukul wanita," ujar Dimitri pelan sebelum kemudian ia menganggukkan kepalanya, memberi tanda pada anak buahnya yang berdiri di dekat mereka.
Pria itu mengangguk kemudian melangkah mendekat pada Jessica. Dan sedetik kemudian tiba-tiba saja pria itu langsung menampar wajah Jessica dengan tangannya.
Jessica terkejut, namun ia tidak bereaksi, ia bahkan tidak berteriak kesakitan. Dan selanjutnya, Jessica hanya memekik kecil saat pria itu menamparnya sekali lagi pada pipi sebelahnya. Tamparan itu membuat kepalanya tertoleh ke samping dan Jessica merasa kedua pipinya saat ini terasa begitu perih.
Suara tamparan itu bergema di ruangan dan masuk ke telinga Nathan.
"Apa yang kau lakukan!" ujar Nathan.
Ia sudah hendak bergerak maju menuju Jessica, namun baru selangkah ia sudah harus kembali terhenti karena di tahan oleh anak buah Dimitri yang menjaga di belakangnya.
Dan saat itu juga Dimitri langsung menoleh, ia menatap Nathan untuk beberapa detik baru kemudian ia berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Sekarang, apakah kau sedang berniat untuk ikut melawanku juga?" Dimitri menatap Nathan tajam.
__ADS_1
"Aku-"
"Kau bertanya apa yang aku lakukan, hah? Kau mau tahu? Jawabannya adalah saat ini aku sedang mencoba untuk memperingatkan orang-orang yang berani melawanku!"
"Tapi kau tidak perlu menyakitinya seperti itu!" protes Nathan.
"Kau akan segera melihat bahwa ini adalah satu-satunya jalan yang bisa di lakukan dalam masalah ini. Jadi jangan ikut-ikutan. Aku baru saja menyakitinya dan aku juga bisa melakukan hal yang sama padamu." Dimitri mencoba memperingatkan Nathan.
"Dia bahkan tak ada hubungan apapun dengan masalahmu." ujar Nathan bersikeras.
"Diam!" bentak Dimitri. "Nathan, aku tidak menyentuhmu karena selama kita selalu bekerja bersama. Dan kau adalah orang yang selalu membantuku jika aku kesulitan dalam mengerjakan misi-misi penting. Tapi aku juga punya batasan! Dan aku tidak akan segan-segan melukai siapapun yang menghalangiku jalanku. Bahkan jika itu termasuk dirimu sendiri!" ujar Dimitri tajam.
"Ta-tapi apa yang akan kau lakukan padanya, Dimitri?" Nathan bertanya dengan gugup.
"Setelah ini aku akan membawanya," jawab Dimitri.
"Wow, apakah ini adalah bentuk penjagaan darimu, Nathan?" Dimitri bertanya dengan nada sinis sambil melangkah mendekat pada Nathan.
Jessica akhirnya menggerakkan kepalanya untuk melihat pemandangan yang ada di depannya. Dimitri kini sudah berdiri tepat di depan Nathan, menatap Nathan tajam dengan kedua tangannya yang berada di saku celananya.
Nathan menelan ludahnya kasar. Jakunnya terlihat naik dan turun saat dia melakukannya. Ia merasa ketakutan kalau boleh jujur. Pasalnya, seumur hidupnya, ini adalah kali pertama baginya berhadapan langsung dengan hal membahayakan. Ah… di tambah dengan kejadian kafe bersama Jessica beberapa waktu lalu.
Dimitri mengangkat tangannya untuk mencengkram dagu pemuda di hadapannya itu. Nathan meringis sakit begitu kuku Dimitri menusuk kulit dagunya, mengangkat wajahnya ke atas hingga pria muda itu mendongak dan matanya bertatapan dengan mata Dimitri.
__ADS_1
"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu padanya, tapi jika kau berani melawanku, aku bisa menyakitimu lebih dari yang pernah kau bayangkan." ancam Dimitri pada Nathan.
"Jangan sentuh dia!" ujar Jessica tiba-tiba pada Dimitri dengan nada dingin.
Mendengar ucapan dari Jessica itu Dimitri menoleh kembali pada Jessica. Ia lalu menatap Jessica dan Nathan secara bergantian.
"Wah, lihatlah ini! Putri kesayangan dari Robert ini begitu mengkhawatirkan dirimu? Dan kau juga terlihat begitu mengkhawatirkannya? Apakah ini sebuah kisah cinta?" ejek Dimitri sambil tersenyum sinis.
"Dia bukan ayahnya, Dimitri. Dia tidak biasa mengalami hal membahayakan seperti ini." kata Nathan pada Dimitri. "Lagipula kau bisa menemukan Robert bahkan tanpa menggunakan dia sekalipun."
"Oh, aku tahu itu. Aku juga tahu kalau dia baru pertama kali mengalami hal ini. Dia bahkan baru mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya, kalau kau lupa." kata Dimitri. "Dan ya, dia memang tidak terlalu berharga bagiku. Tapi saat ini aku hanya perlu menggunakan gadis ini untuk memancing ayahnya keluar. Selain itu, ayahnya tak akan menyentuhku jika anak gadisnya ini bersamaku. Itu saja yang perlu gadis ini lakukan. Dan aku yakin dia akan melakukan pekerjaannya kecilnya itu dengan baik."
"Begitukah," jawab Nathan dan Dimitri mengangguk enteng.
"Kau bisa tinggal di sini, Nathan. Aku tak akan membawamu." kata Dimitri pada Nathan. "Dan kau beri tahu Robert bahwa kami akan datang lagi untuknya dan kami juga memiliki putrinya yang berharga. Tidak akan ada masalah lagi bagi kami. Tidak ada yang bisa menghentikan kami lagi sekarang."
"Dia akan siap untuk kedatanganmu itu. Robert akan menghabisimu," ujar Nathan mencoba memperingatkan Dimitri. "Kau tahu seberapa berbahayanya Mr. Robert. Kalian adalah rekan dulu, jadi kau tahu jelas hal itu bahkan lebih baik dariku."
"Kalau begitu kau bisa bayangkan kejutannya, kau bayangkan apa saja yang bisa terjadi saat aku muncul kembali untuknya nanti," kata Dimitri pada Nathan tajam. "Dan dia tidak akan menghabisiku, karena aku lah yang akan menghabisinya lebih dahulu."
Dimitri kemudian berbalik untuk meraih lengan Jessica, menarik gadis itu dengan kasar agar berdiri. Dimitri lalu menahannya tepat di sampingnya.
Nathan mengepalkan tangannya. Ia bingung harus apa sekarang. Dia menyadari bahwa dia harus melakukan sesuatu dengan ini, karena sebelumnya Robert sudah menitipkan Jessica padanya.
__ADS_1
Nathan harus terus mengawasi kondisi dan juga posisi Jessica entah bagaimana caranya. Sebuah ide kemudian muncul di kepalanya. Ia ingat, ponselnya masih ada di dalam kantong mantelnya. Dan dia bisa menggunakannya untuk melacak Jessica nanti.
"Tunggu!"