Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
103


__ADS_3

Jessica tidak tahu sudah berapa lama ia menunggu semenjak Nathan pergi ke kantornya. Bagi Jessica waktu sepertinya berjalan sangat lama karena entah kenapa ia merasa Nathan sudah pergi terlalu lama.


"Kapan ia akan kembali," gumam Jessica sambil mengecek jam yang ada di dinding rumah Nathan.


Saat ini Jessica tengah duduk di atas sofa kulit milik Nathan. Ia memeluk kedua lututnya sendiri, mencoba menyeimbangkan remote televisi yang ia pegang dan terus bolak-balik mengganti saluran televisi berulang kali.


Ia sudah mandi dan juga berganti pakaian. Saat ini ia tengah mengenakan gaun tidurnya, rambutnya yang basah terurai melalui bahu belakangnya dan sudah mengering secara alami.


Jessica terus menjaga dirinya sendiri dalam tatapan mata yang tampak waspada. Berulang kali ia juga melihat ke arah pintu utama, menunggu kedatangan Nathan kembali ke apartemen itu.


Untuk sesaat Jessica melirik ke arah layar Macbook miliknya. Sejak kepergian Nathan tadi ia tetap membiarkan layar Macbook-nya itu tetap menyala. Jessica akhirnya mengambil benda itu dan memutuskan untuk membaca soal-soal matematika, ia harus terus melatih ilmunya agar tidak melupakan tentang pelajaran selama di sini.


Jessica baru saja hendak mengklik ke internet dan mulai mencari soal-soal matematika baru, tepat saat tiba-tiba saja layar laptopnya menjadi kosong lagi.

__ADS_1


"Apa ini? Kenapa malah mati?" ujarnya kesal. "Pasti baterainya habis."


"Ah, baterai sial*n," keluh Jessica.


Ia hendak bangun dan mencari pengisi dayanya dan gerakannya langsung terhenti ketika tiba-tiba saja dia melihat seberkas cahaya sebelum akhirnya kata-kata berwarna putih muncul di layar. Jessica bisa merasakan darahnya dingin dan napasnya tercekat saat dia meletakkan benda itu di pangkuannya dan membaca isi dari kata-kata di layar itu.


"Si*l... astaga... si*l..." Jessica berbisik.


Jessica merasakan denyut nadinya berdebar semakin kencang. "Apa ini? Bagaimana ini bisa terjadi?"


'Sendirian, cantik? Aku melihat Nathan tersayangmu itu telah meninggalkan dirimu sendirian di sana. Ya, bukankah itu sama seperti yang dilakukan oleh ibu dan ayahmu. Siapa yang sebenarnya peduli padamu, Jessica?'


Setelah membaca kalimat itu, Jessica melakukan yang terbaik sebisanya untuk tidak mengalami rasa kaget berlebihan karena isi dari kalimatnya. Dia mencoba mematikan Macbook, menekan tombol dengan ganasnya. Tapi kenapa tidak bisa? Tulisan itu tidak juga hilang dari layar.

__ADS_1


'Tidak ingin menjawab apapun, Jessica? Betapa membosankannya dirimu. Ya, aku tahu bahwa kau ada di sana.'


Sekali lagi tulisan lain muncul.


Setelah membaca itu, Jessica memilih untuk tetap diam. Ia melihat sekelilingnya. Bagaimana dia bisa tahu? Saat itulah lampu webcamnya menyala dan dia merasa begitu panik. Sebuah kotak kecil muncul di sudut kiri bawah untuk menunjukkan wajahnya. Dia bisa merasakan ketakutan memancar melalui dirinya saat dia meletakkan tangannya di atas kamera webcam.


Beberapa saat setelah itu, kembali muncul kalimat di layar komputernya.


'Kenapa tidak di terima. Ayolah bicaralah padaku, Jessica. Aku tahu betapa kau sangat suka berbicara. Aku tahu bagaimana menjadi seorang pusat perhatian membuatmu begitu bahagia. Tidak akan mengejutkan ku jika rasa stres ini pasti akan menyebabkan dirimu meraih sebotol minuman? Itulah yang biasa kau lakukan, bukan? Kau tidak dapat menangani ketegangan dan kau akan pergi minum.'


Jessica membulat, orang ini bahkan mengetahui kebiasaan Jessica dahulu. Bagaimana bisa?


'Sungguh membosankan, Jessica. Kau tidak menjawabku. Betapa sangat membosankannya dirimu. ah, tapi kau tidak perlu khawatir. Bukan kau yang aku inginkan... walaupun bisa jadi kau-lah yang aku butuhkan.

__ADS_1


Jessica dengan cepat membanting tutup Macbook-nya dan mendorongnya menjauh darinya ke sisi lain sofa. Tangannya menutupi mulutnya saat dia berdiri dan bergerak dengan cepat melalui dapur Nathan, melakukan yang terbaik untuk menjaga jarak dari Macbook-nya itu.


***


__ADS_2