Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
77


__ADS_3

Perjalanan kembali ke gedung BIN kali ini tampaknya berjalan mulus bagi mereka berdua. Pasalnya mereka menggunakan jet pribadi milik organisasi yang di kirim oleh Regina. Tidak ada rintangan atau hambatan apapun yang menghalangi mereka.


Saat ini mereka sedang berada di dalam gedung organisasi. Jessica sendiri terlihat mondar-mandir dengan satu tangan yang memegang sikunya saat jari tangan yang lain terus ia gigit karena sejak tadi terus menerus merasa khawatir.


Robert berdiri dengan tenang, tangannya berada di saku sementara hatinya bertanya-tanya apakah sang programmer handal mereka itu akan berhasil keluar dari situasi yang sedang dia hadapi.


"Aku tahu kau pasti sudah mendengar beritanya."


Keduanya berbalik begitu mereka mendengar suara dari seseorang. Jessica memandang wanita yang baru saja datang. Seseorang yang di ketahui bernama Regina, atasan baru yang menggantikan Marry.


Jessica menatap Regina lekat. Ia tidak bisa tidak memikirkan betapa berbedanya Regina jika dibandingkan dengan atasan ayahnya yang lainnya. Regina tampak lebih... kuat.


"Dimitri menelepon kamar hotel kami. Sepertinya Dimitri memang berniat memancing kami keluar dari persembunyian."ujar Robert mencoba menjelaskan dan mengikuti Regina ke ruang bawah tanah. 


"Kapan dia membawa Nathan?" tanya Robert sesampainya mereka di kantor Regina.


"Dia membawanya beberapa jam yang lalu," kata Regina sambil menutup pintu kantornya.


Robert berdiri di samping putrinya saat dia melihat pada sekeliling ruangan. Jessica sendiri jelas masih terlihat gelisah tentang semua yang terjadi. Bukannya Robert bisa menyalahkan Jessica. Semua ini jelas sama sekali bukanlah hal yang wajar terjadi.


"Boris telah diancam untuk membawanya ke koridor. Dimitri berhasil menyelundupkan dua agen yang sekilas terlihat mirip. Mereka telah mendapatkan izin masuk kemari."


"Lalu bagaimana mereka bisa keluar?"

__ADS_1


"Mereka menembaki beberapa agen." kata Regina memutar laptopnya ke arah Robert, memperlihatkan rekaman cctv. "Dan dari cctv mereka membawa Nathan dalam keadaan seperti ini. Para agen tidak dalam posisi yang pas untuk balas menembak karena tidak ingin menyakiti Nathan."


"Apa Nathan baik-baik saja?" Jessica bergerak maju setelah melihat kondisi terakhir dari Nathan.


"Dia mungkin pingsan." lanjut Regina dan kembali menatap Robert lagi. "Dia mengirim email kepada kami setelah kejadian itu untuk menjelaskan persyaratan yang harus kita penuhi untuk membawa Nathan kembali."


"Dan apa syaratnya?" Robert bertanya-tanya dan Regina menoleh untuk melihat Jessica, bertanya-tanya seberapa terlibatnya gadis itu dalam semua yang terjadi saat ini. Tampaknya Robert telah menyeret putrinya itu masuk ke dalam kekacauan lebih jauh dari pada yang Regina pikirkan sebelumnya.


"Dia mengatakan bahwa dia tidak bermaksud menyakiti Nathan," kata Regina kemudian. "Dia ingin bertemu denganmu malam ini. Dia mengatakan bahwa dia tidak punya niat untuk menyakitimu. Dia hanya ingin berbicara tentang sesuatu denganmu. Sesuatu tentang bagaimana 'mumi' yang mengkhianati kalian berdua. Dia mengatakan bahwa tidak boleh ada agen lain yang ikut bersamamu. Dan dia mengatakan bahwa dia pasti akan tahu jika ada yang ikut campur."


"Tentu saja dia akan mengetahuinya," Robert mengangguk. "Di mana dia ingin bertemu?"


"Sebuah kafe kecil di ujung jalan. Keputusan ada di tanganmu, Robert. Kami dapat membuat rencana cadangan dan mengirim agen tambahan untukmu. Mungkin akan lebih baik jika kita melakukannya. Dia itu sangatlah berbahaya. Aku rasa semakin banyak agen yang menjagamu maka akan semakin baik."


"Apa?" Jessica sontak saja menyela, ia mendeat pada sang ayah.


"Ayah, kau perlu memikirkan ini. Jika kau pergi menemuinya sendirian, menurutmu apa yang akan terjadi? Apakah kau pikir dia akan membiarkanmu keluar dari kafe itu?"


"Putrimu menunjukkan poin yang bagus." kata Regina. "Dia benar. Tidak ada jaminan bahwa Dimitri akan membawa Nathan bersamanya nanti ke tempat pertemuan. Astaga, bahkan bagaimana kita tahu kalau dia akan mengatakan yang sebenarnya?"


"Kita memang tidak akan tahu," kata Robert. "Dengar, aku sudah menjadi agen selama bertahun-tahun lamanya dari dulu hingga sekarang. Aku bisa menangani hal ini sendiri."


"Tapi kita belum pernah bertemu orang seperti Dimitri, Robert. Dia adalah mantan agen kita." bisik Regina pelan. "Kau tahu jelas  itu, Robert. Dia tau apa yang sering kita jalankan."

__ADS_1


"Aku tahu itu," Robert mengangguk. "Tapi kita juga tahu bahwa aku berhutang budi kepada Nathan untuk semua yang telah dia lakukan. Bahkan jika dia adalah seorang pengguna komputer yang buruk. Dia sudah melakukan hal yang sangat berarti untukku. Akan membahayakan Nathan jika kita tak memenuhi apa yang Dimitri inginkan."


"Tapi untuk masuk kesana tanpa ada rencana dan agen tambahan? Yang benar saja." ujar Jessica. Alisnya tampak melengkung saat dia menyisir rambutnya ke belakang sampai bahu. Ia agak frustasi dengan pilihan ayahnya itu. "Ayah, ini benar-benar rencana yang bodoh. Ayah seharusnya tidak melakukan itu. Ayah tidak seharusnya pergi sendirian, ayah tahu jelas itu."


"Aku tahu itu, Jessica" jawab Robert tegas, "tapi Dimitri akan tahu jika ada rencana cadangan. Jika dia mengetahui rencana kita, ayah ragu dia akan muncul nanti. Dia tidak bodoh. Dia akan tahu semua yang kita lakukan, Jessie..."


Regina menghela napas dan duduk di kursinya. Dia membuka sebotol wiski dari bawah meja kerjanya dan perlahan menuangkan dua gelas. Dia menyerahkan satu kepada Robert dan menyesap dari yang lain. Regina berdiri tegak dari kursinya, satu tangan ada di saku celananya yang lain saat dia menyesap minuman itu.


"Tidak setiap hari aku akan setuju membahas tentang hal-hal seperti ini dengan anak berusia dua puluh tahun, Robert," kata Regina, nada suaranya terdengar rendah dan dalam. "Tapi aku harus akui kalau putrimu memang menunjukkan pendapat yang bagus."


"Aku akan menggunakan sesuatu. Apapun itu dan pasti ada sesuatu dari ruangan Nathan yang bisa kau gunakan untuk melacak gerakanku nanti. Apapun! Asal bukan agen tambahan."


"Kau harus membahasnya dengan Evelyn tentang itu." kata Regina. "Dia mungkin bisa pergi untuk mencoba mencarikanmu sesuatu di ruangan Nathan... ya...dengan Nathan yang tidak ada di sana. Dia mungkin akan marah jika melihat kita mengutak atik ruangannya nanti..."


"Bagus," Robert menganggukkan kepalanya. "Aku harus segera pergi menemui Evelyn kalau begitu."


"Cepatlah," jawab Regina. "Putrimu seharusnya cukup aman di sini malam ini. Aku akan menyuruh Evelyn tinggal bersamanya selama kau pergi."


"Aku tidak suka ini," Jessica bergumam dan alis Regina terangkat.


"Aku harus memberitahumu kalau aku juga tidak menyukai ini, Nona Bailey," Regina berujar tajam padanya, Jessica hanya memutar bola matanya malas. 


"Kau harus pergi dan mulai." kata Regina pada Robert.

__ADS_1


***


__ADS_2