
Sambil memekik, Jessica segera ikut menunduk saat Nathan meraihnya untuk berlindung dari tembakan yang di tembakkan secara beruntun pada ruangan itu.
Lengan Nathan melingkar pada pinggang Jessica dan sebelah tangannya lagi segera mendorong kepala gadis itu kelekukan lehernya, mencoba untuk memeluk dan juga melindungi Jessica.
Mereka terlihat berlindung ke bawah meja saat suara tembakan itu terus menerus terdengar di seluruh penjuru ruangan itu. Suara pecahan dari barang-barang terdengar bergemuruh di seisi ruang.
Nathan mengernyitkan dahinya. Meskipun ia bersyukur karena tak ada satu pun peluru yang mengenai atau menggores tubuhnya namun ia merasa kalau itu justru yang aneh di sini. Itu jelas adalah tembakan beruntun namun kenapa tak ada satupun yang melukainya padahal orang-orang itu terlihat begitu mahir dalam senjata. Entahlah, Nathan entah mengapa tiba-tiba saja merasa kalau tembakan itu memang tak benar-benar diarahkan pada mereka tapi ke arah yang lain.
Nathan mencoba nyalinya untuk mengangkat kepalanya dan memberanikan diri melihat ke sekitar tempat mereka bersembunyi. Dan saat itu juga kedua matanya langsung terbelalak karena ia melihat semua barang-barang elektronik milik bawahannya yang ada di ruangan itu telah hancur oleh peluru, pecahan kaca bahkan berserakan kemana-mana.
Beberapa detik setelah penyerbuan menakutkan itu, tembakan akhirnya berhenti juga. Nathan dan Jessica mengangkat kepalanya. Jessica menatap sekitar dengan ketakutan. Dadanya naik turun dan nafasnya terlihat memburu saat Nathan menatap matanya. Tidak ada satupun dari mereka yang repot-repot bertanya tentang keadaan masing-masing, mereka sudah tahu jawabannya.
Mereka tetap diam saat kemudian mendengar langkah kaki berderak melewati pecahan kaca yang berserakan di lantai, berjalan ke arah tempat mereka berlindung.
"Kalian bisa keluar sekarang!" seru sebuah suara.
Mendengar itu, Nathan dan Jessica saling menatap dengan ekspresi ketakutan. Mereka masih berada di bawah meja, tak berniat menuruti kata-kata dari orang itu.
__ADS_1
"Keluarlah! Tidak akan ada tembakan lagi, aku janji pada kalian. Ya, kami tadi hanya ingin bersenang-senang dengan menghancurkan peralatan di ruangan ini." Ujar suara itu lagi.
Nathan menatap Jessica. Gadis itu kini tengah menatapnya ketakutan. Nathan menganggukkan kepalanya, memberi tanda pada gadis itu untuk keluar.
"Apa?" bisikan ketakutan yang berasal dari Jessica kini terdengar. Gadis itu menatap Nathan kaget sambil menggelengkan kepalanya dengan kencang. "Jangan keluar! Mereka akan menghabisimu."
"Tidak akan." Nathan menangkupkan tangannya pada kedua pipi Jessica. "Mereka tidak akan menghabisi kita, aku yakin itu."
Jessica kembali menggelengkan kepalanya namun Nathan sudah tidak melihat ke arahnya. Nathan mengangkat tangannya.
"Kami akan keluar" ujar Nathan.
Nathan dengan berani berdiri tepat di depan Jessica, sementara gadis itu memegangi pergelangan tangannya dengan ekspresi ketakutan. Mereka terus melangkah mundur saat akhirnya mereka menabrak dinding di bagian belakang mereka.
"Sampai kapan kalian akan berjalan mundur seperti itu?" ujar salah satu dari mereka diikuti oleh suara tawa dari orang-orang itu.
"Kau nona Bailey, bukan?" sebuah suara tegas bertanya padanya.
__ADS_1
Dia memiliki aksen bicara yang berbeda dari orang pada biasanya. Rambutnya disisir dengan rapi ke arah kanan sementara setelan cokelat menutupi tubuhnya yang telihat kekar dan berotot.
Jessica menelan ludahnya kasar dan Nathan mencoba memindahkan pegangan erat Jessica pada pergelangan tangannya ke sebelum kemudian ia membawa tangan gadis itu ke tautan jari-jarinya.
"Apa kalian berpegangan tangan seolah kalian akan menikah." ujar laki-laki itu terkekeh.
Ia lalu melangkahkan kakinya mendekat pada kedua orang itu. "Ya, aku rasa kita memang belum pernah diperkenalkan dengan cara yang benar," pria itu memberitahu Jessica dengan nada santai. "Jadi, namaku adalah Dimitri."
Sambil menelan ludahnya kasar, tangan Jessica terus memegang jari Nathan dengan erat. Kali ini lebih erat dari sebelumnya, Nathan bisa merasakan itu. Nathan lalu mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya dan mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. Mencoba untuk bersikap berani.
"Apa yang kau mau?" Nathan berujar dengan lantang.
Mendengar itu, Dimitri langsung tertawa dengan keras dan Nathan bahkan bisa merasakan tubuhnya yang mulai gemetar saat mendengar suara tawa dari lelaki itu.
"Apakah tidak jelas bagimu?" tanya Dimitri tersenyum sinis, ia lalu menunjuk Jessica dengan dagunya. "Aku di sini karena aku menginginkannya."
Melihat Dimitri yang menunjuk ke arahnya, Jessica terkejut bukan main.
__ADS_1
"Anak kesayangan Robert."