Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
59


__ADS_3

"Ada apa?" Nathan menatap Jessica yang menatap layar ponselnya ketakutan.


Tangan Jessica tampak bergetar setelah membaca pesan itu. Sementara Nathan mengerutkan keningnya semakin bingung.


"Dia ada di sini," kata Jessica, suaranya kini terdengar bergetar.


Nathan dengan cepat mengambil ponsel itu dari tangan Jessica untuk melihat dan membaca isi pesan itu sendiri.


Itu bukan hanya pesan.


Ada foto juga yang di kirimkan untuk Jessica. Dan itu adalah foto Nathan dan Jessica yang di ambil tepat beberapa saat yang lalu, tepat ketika Nathan duduk di samping Jessica, memeluk tubuh gadis itu saat ia menangis.


“Oke…oke…” kata Nathan. Ia terlalu bingung dengan apa yang dia lihat di layar ponsel itu. Ia kini tidak bisa berpikir jernih bahkan untuk sejenak saja.


"Nathan, dia di sini."


"Ya, aku tahu." jawab Nathan bangkit dari posisinya.


"Kau mau kemana?"

__ADS_1


"Aku akan mencarinya dulu sebentar."


Nathan dengan cepat bergegas ke arah pintu, menarik knop pintu, membukanya untuk melihat ke arah lorong. Tapi dia tidak melihat siapapun di lorong itu, tidak ada satu pun orang yang mengawasi mereka. Lorong itu kosong bahkan tak ada satupun petugas rumah sakit. Di lantai ini memang hanya di isi oleh beberapa orang saja.


Nathan diam di posisinya sebelum kemudian matanya tanpa sengaja melihat pada kamera CCTV yang ada di sudut. Nathan menatap lekat pada kamera cctv itu. Dia akan segera meretasnya untuk mencari tahu tentang hal ini.


"Tidak ada apa-apa di sini." ujar Nathan menoleh ke dalam ruangan, menatap Jessica. "Lorong ini bahkan sangat sepi."


"Tapi itu jelas dia!" Jessica bergumam dengan tak tenang. "Siapa lagi yang bisa melakukannya? Hanya dia. Hanya Dimitri!"


"Aku tidak tahu siapa yang mengirimnya," ujar Nathan pelan. Ia berjalan kembali untuk duduk di kursi tempat dia duduk beberapa waktu lalu. "Aku juga tak bisa asal menyimpulkan. Bukti adalah hal penting jika ingin menuduh seseorang."


Nathan mengangkat tangannya dan meletakkannya ke bahu Jessica, mencoba untuk menenangkan gadis itu.


Jessica mengangguk, "tapi aku tidak ingin sendirian."


"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini. Tenanglah."


Beberapa saat menunggu tapi Robert tak kunjung datang.

__ADS_1


"Nathan!"


"Hm."


"Bagaimana jika saat ini ayahku sudah bersama Dimitri? Bagaimana jika Dimitri melukai ayahku?" Jessica berujar khawatir dan Nathan mengangkat tangannya untuk memeriksa jam.


Nathan diam untuk beberapa detik. Hal itu bisa saja terjadi karena ini sudah beberapa lama sejak kepergian Robert. Tapi pria itu tak kunjung kembali ke sini.


"Aku akan mencarinya!" ujar Nathan hendak berdiri namun terhenti saat Jessica menahannya.


"Jangan! Jangan pergi kemanapun." Jessica menggeleng kencang. "Aku tidak ingin sendirian."


Nathan menatap Jessica sejenak kemudian mengangguk.


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini. Tapi aku akan meminta perawat untuk mencarinya jika dia tidak kembali dalam satu menit," kata Nathan pada Jessica.


Jessica mengangguk setuju kemudian mereka berdua melihat ke arah jendela, tatapan mereka melebar. 


Nathan menundukkan pandangannya ke bawah saat dia merasakan Jessica menautkan jarinya ke dalam jari-jarinya, mata gadis itu masih terkunci di jendela dan lorong rumah sakit.

__ADS_1


Nathan mengepalkan tangannya sebelum kemudian melihat kembali ke arah jendela. Dan di detik selanjutnya, ia buru-buru melepaskan tautan jarinya pada Jessica saat melihat Robert masuk.


***


__ADS_2