Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
86


__ADS_3

Robert menyeringai sejenak, tatapannya mengarah ke Nathan saat Jessica bangkit dan berlari menuju kearahnya. Jessica melingkarkan lengannya di lehernya, memeluknya dan itu membuat Robert sontak menahan ekspresinya. 


Robert mengambil waktu sejenak untuk membalas pelukan Jessica itu. Ia meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu, menutup matanya dan mengusap rambut ikal pirangnya yang agak berminyak.


"Bagaimana kabarmu, Jessie?" Robert bertanya, akhirnya membuka mata coklatnya untuk melihat kembali ke Nathan. "… atau apakah itu pertanyaan bodoh?"


"Kami baik-baik saja," Jessica mengangguk. Suaranya tenang saat dia berbicara dengan ayahnya. "Apa yang terjadi padamu? Nona Evelyn memberitahu kami bahwa Dimitri telah melarikan diri."


"Ya, Evelyn benar," Robert meyakinkan putrinya. Ia laly membiarkan Jessica duduk di sisi tempat tidur Nathan. Pria muda itu menjaga tangannya untuk dirinya sendiri, melipatnya di pangkuannya sementara Jessica dengan sabar menunggu ayahnya kembali berbicara.


Robert tampak begitu lelah sekarang. Nathan tidak bisa menahan pikiran mengerikan yang melintas di benaknya. Dia tahu bahwa pria itu telah memiliki banyak sekali kegiatan dalam beberapa minggu terakhir. 


Dia meragukan bahwa organisasi mereka mengajari semua agen cara menghadapi berbagai ancaman pembunuhan. Dan Nathan tahu bahwa dia tidak pernah diperlihatkan cara menghadapi kematian seperti yang Robert dapatkan. Nathan jadi bertanya-tanya apakah Robert pernah gagal menahan serangan, terutama ketika satu-satunya keluarga yang ia miliki juga terancam.


"Tapi kenapa?" kali ini Nathan yang bertanya. " kenapa dia justru meminta kehadiranmu? Aku bahkan punya teori sendiri tentang itu. Aku sempat berpikir dia akan menikmati permainan kucing dan tikus. Selain itu, dia tahu bahwa kehadiran dirimu akan terlihat sebagai penghalang. Jika dia membunuh salah satu agen terbaik sepertimu maka organisasi kita akan menjadi khawatir. Aku rasa itulah yang dia ingin."


"Tidak ada yang tahu apa yang diinginkan Dimitri," jawab Robert, duduk di kursi cadangan di samping tempat tidur. Dia menyilangkan satu kaki di atas yang lain, menggaruk tempurung lututnya melalui bahan celana abu-abu miliknya. "Saat ini Regina sudah meminta pada orang-orang yang ada di divisi yang kau pimpin untuk segera mencari keberadaannya."

__ADS_1


"Aku akan segera kembali ke sana," kata Nathan dengan tergesa-gesa, mengingat bahwa tidak ada seorang pun di divisi itu yang berbakat seperti dirinya. Dia tidak ingin terdengar percaya diri, tetapi dia tahu sebesar apa kemampuannya.


"Sejauh ini bawahanmu sudah mengelola kesibukan divisi tanpamu, Nathan" jawab Robert, ia melirik pada Jessica. "Selain itu, kau tampaknya berada di tangan yang baik di sini."


Robert hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejek programmer muda dan putrinya itu. Dan tampaknya Nathan adalah orang yang lebih tersipu daripada Jesicca. Dan Jessica, anak gadisnya terus menatap ayahnya, ekspresi geli tampak di wajahnya.


Robert tahu berapa umur putrinya. Robert juga tahu bahwa gadis itu sangat mampu untuk membuat keputusan sendiri. Tapi saat ini Robert hanya berharap kalau Jessica tidak melibatkan Nathan dalam perasaannya. Robert berpendapat dia agak terlalu tua untuk Jessica. Selain itu, Jessica juga masih harus menyelesaikan kuliahnya di universitas. Tapi yah…


"Ternyata ayahku sangat peka. Aku harap ayah memang jauh lebih peka dari kelihatannya," ujar Jessica memberitahu ayahnya.


"Tidak," Nathan cepat menjawab. "Maksudku...aku tertarik...tapi...yah...aku tidak hanya menyukai Jessica karena penampilannya. Bukannya penampilan itu hanya bonus, tapi aku tidak keberatan jika dia- "


"... kupikir ayah akan mengerti," Jessica menyela ke Nathan.


Dia membiarkan senyum kecil terbentuk di wajahnya sebelum Robert menggelengkan kepalanya, tangannya memegang dahinya saat dia bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan setelah ini. Ingin rasanya dia menolak.


"Kau masih akan kembali ke universitas, Jessie" kata Robert padanya. "Kau akan kembali kuliah dalam waktu kurang dari dua bulan."

__ADS_1


"Aku tahu."


"Dan kamu akan lulus."


"Semoga."


"Kamu akan berada di Singapura. Nathan akan berada di Indonesia."


"Ayah juga," balas Jessica, mengetahui bahwa ayahnya pasti tengah berusaha mencegahnya dari merasakan perasaan apa pun untuk Nathan. Saat ini Jessica hanya tidak bisa menahan ego-nya. 


Jessica menghela, "Ayah, aku berumur dua puluh tahun. Kupikir aku bisa membuat keputusanku sendiri tentang masalah ini."


"Kau yakin?" Robert bertanya, suaranya terdengar ragu.


Robert memperhatikan saat putrinya memberi Nathan senyum tipis dan dia menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan pemuda itu. Robert tidak tahu harus berpikir apa pada saat itu. Dia tetap diam, tahu bahwa apapun yang terjadi, Jessica akan melakukan apa yang dia suka. Dan Robert tak akan bisa mencegahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2