
"Nathan, bisakah kau mendengarku?"
Beberapa saat setelah Nathan menghabiskan waktu untuk meratapi pekerjaannya yang sia-sia. Robert menghubunginya. Nathan berdiri dari posisinya dan mendekat ke mejanya.
"Kau menggunakan speaker dan suaramu sangat nyaring, jadi tentu saja aku mendengarmu." kata Nathan saat mendengar suara Robert yang menggelegar ke dalam ruangan itu. "Dimana kau?"
"Aku di stasiun kereta bawah tanah. Menurut laporan beberapa agen, Dimitri kabur kesini."
"Apa? Kau di stasiun bawah tanah?" tanya Nathan kaget.
"Ya, aku di bawah tanah, tapi aku bukan di stasiun. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju ke terowongan rel kereta bawah tanah. Ini adalah jalur tercepat yang menuju ke stasiun kereta."
Nathan kemudian berdiri di samping meja kerjanya sementara Jessica turut berdiri di sampingnya, ikut mendengarkan saat ayahnya berbicara.
"Aku butuh bantuan agar kau menuntunku. Aku tidak tau harus kemana. Aku ingin cepat sampai, agar bisa menangkapnya. Beberapa agen memang mengejarnya tapi mereka gagal mendapatkannya."
"Ya. Aku akan coba menuntunmu!"
"Apa kau sudah bisa melihatku?" Robert bertanya.
"Tunggu sebentar." ujar Nathan mulai mengetik dengan cepat di keyboard yang ada di mejanya sebelum titik merah yang menunjukkan lokasi Robert muncul di layarnya.
"Ah, ya! Sekarang aku bisa melihat posisimu. Dan aku juga mendapatkan denah dari terowongannya." Nathan kembali berbicara. "Kau harus terus berjalan. Majulah sedikit. Tepat di depanmu seharusnya akan ada pintu nanti. Kau bisa lewat situ untuk menuju terowongannya."
"Di mana pintunya?"
"Seharusnya ada di sebelah kirimu. Kau harus lebih maju lagi" jelas Nathan.
__ADS_1
"Aku melihatnya!" seru Robert terdengar berlari.
"Bukalah!"
"Ya," Robert kembali berbicara pada Nathan sementara Jessica terus memperhatikan layar yang ada di depannya.
"Ke arah mana aku harus pergi, Nathan." Robert terdengar bingung.
"Kiri, jalur itulah yang akan menuju ke stasiun" ujar Nathan.
"Di terowongan ini tidak ada tempat untuk aku berlindung jika ada kereta yang melintas." omel Robert.
"Kau teruslah lalui jalur itu. Aku akan memeriksa jalur hilir mudik dan juga keberangkatan keretanya."ujar Nathan.
"Cepatlah!" ujar Robert.
"Bergerak kemana?"
"Seratus meter di depanmu akan ada pintu, masuklah kesana!"
Terdengar langkah Robert yang tengah berlari dengan kencang menuju pintu yang di maksud oleh Nathan.
"Apa-apaan ini, pintunya terkunci, bocah!" bentak Robert kesal.
Nathan mengerutkan keningnya. "Dobrak saja!"
"Oh begitukah? Kau cobalah turun ke sini untuk mendobrak pintu besi ini dan biar aku yang bicara dari sana," jawab Robert menggerutu.
__ADS_1
"Ayolah, Mr. Robert." Nathan membalas, "Ini bukan waktu yang tepat bagimu untuk mengomel."
"Tunggu sebentar. Akan aku coba cara lain. Di sini ada tembok, aku akan masukkan tubuhku ke sela tembok ini saja." ujar Robert, suaranya terdengar serak. "Ini terlalu kecil untukku, tapi aku harap aku punya cukup ruang untuk tubuhku."
"Apa kau yakin? Seharusnya kau tembak saja pintunya. "
"Tidak akan sempat! Sial, seharusnya aku diet sejak lama agar ukuran tubuhku lebih kecil." Robert bicara pada dirinya sendiri.
Tepat saat itu Nathan kemudian membuka tayangan dari CCTV terowongan bawah tanah tempat Robert berada saat ini.
Dan kini Jessica bisa melihat langsung saat kereta yang bergerak semakin dekat ke lokasi ayahnya. Namun ayahnya masih berusaha masuk ke sela tembok kecil itu. Saat ini Jessica hanya bisa berpikir negatif untuk sejenak sebelum kemudian dia melihat kereta bawah tanah itu melaju, melewati tempat ayahnya berada tadi.
Tubuh ayahnya tertutup badan kereta dan Jessica tidak yakin apakah ayahnya sempat atau tidak masuk ke sela tembok itu. Tangannya Jessica bergerak cepat untuk mencengkeram lengan Nathan dan dia bisa merasakan napasnya tercekat di tenggorokan.
Jessica merasa begitu khawatir kalau kereta itu menabrak sang ayah. Ia juga tak bisa memastikan kondisi ayahnya karena posisi ayahnya saat ini tertutup oleh badan kereta yang tengah melaju. Tayangan di CCTV juga tak memberikan cukup pemandangan untuk memperlihatkan kondisi sang ayah.
"Ayah," bisik Jessica pada dirinya sendiri.
Nathan sendiri terlihat berdiri mematung, tubuhnya tegang sementara kedua matanya menatap layar besar di depannya.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
"Aku berhasil!"
__ADS_1