Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
94


__ADS_3

Jessica berjalan di sisi Nathan sepanjang perjalanan, terus-menerus melihat sekeliling pada pemandangan indah yang dia lihat. Nathan memberi tahu Jessixa beberapa fakta tentang rumah itu yang sebenarnya telah dia pelajari di internet sebelumnya.


Jessica mendengarkannya dengan penuh perhatian, meresapi setiap kata yang didengarnya darinya.


"Menarik, bukan?" Nathan tiba-tiba berbisik begitu melihat semua orang yang juga berkeliling telah meninggalkan ruangan tempat mereka berada.


Nathan melihat sekeliling, menatap pada dekorasi megah. Ia meneliti segala sesuatu mulai dari tempat tidur empat tiang hingga motif-motif yang rumit pada kayu jati. Bau apek tercium, ini adalah seperti yang dia harapkan dari sebuah rumah tua, tapi itu justru membuat mereka merasa lebih baik. 


Jessica juga melihat sekelilingnya, menggerakkan kedua tangannya untuk membungkus salah satu lengan Nathan, kepalanya bergerak untuk bersandar di bahu pemuda itu saat dia melihat sekeliling ruangan.


"Ini menarik saat kita memikirkan kalau seseorang tengah berdiri di tempat yang sama di era yang berbeda dengan kita... itu membuatmu jadi bertanya-tanya seperti apa sebenarnya waktu itu."

__ADS_1


"Apakah kau tidak pernah menontonnya di sinetron atau film? Bukankah ada gambaran seperti apa kehidupan jaman dahulu di sana." Jessica bertanya-tanya padanya.


Nathan memutar bola matanya. "Aku menontonnya di film-film, tapi aku ragu kalau itu sepenuhnya akan akurat, Jessica. Itu kan hanya bayangan mereka saja yang di tuangkan dalam bentuk film." Jelas Nathan.


"Tapi aku suka menonton film-film seperti itu," ujar Jessica mengakui sambil tersenyum pada Nathan. "Aku pernah melihat banyak sekali film jaman dahulu di Indonesia,"


"Ck, aku juga menonton filmnya, namun aku hanya akan berhasil menonton satu film saja," balas Nathan yang juga turut mengakui. "Pekerjaan akan selalu menjadi prioritas dan aku tidak pernah pergi ke bioskop untuk menontonnya. Aku lebih memilih menonton sinetron atau berita saja di rumah jika di bandingkan menonton film ke bioskop."


"Aku ini adalah seorang pria dengan banyak bakat, Jessie," jawab Nathan senyum tipis terpatri di wajahnya. Setelah itu dia memilih untuk fokus membaca papan pengumuman yang ada di dinding rumah itu.


Jessica meliriknya, melakukan yang terbaik untuk ikut fokus pada tulisan itu. Dan detik selanjutnya, terasa jemari Nathan yang mendesak masuk ke sela jari-jarinya. Jessica menoleh dan tersenyum pada pemuda itu, baru setelahnya memilih untuk melanjutkan tour.

__ADS_1


Nathan dan Jessica pada akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Kali ini mereka pergi ke sebuah perkebunan bunga tulip yang terkenal di kota Jakarta.


Mereka melangkah perlahan menaiki bukit kecil yang ada di belakang perkebunan itu untuk melihat indahnya pemandangan dari bunga-bunga yang ada di bawah bukit.


Jessica meletakkan tangannya di dahinya untuk menghentikan cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Saat ini dia terus menatap ke kejauhan, pikirannya menerawang saat ia menoleh pada Nathan, menatap lekat pemuda itu yang kini tengah balas menatapnya.


Tatapan Nathan tetap kosong saat sebelah tangannya mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya. Dalama hati ia bertanya-tanya berapa lama lagi dia bisa bersama Jessica sebelum dia pergi kembali bekerja di organisasi. Sejujurnya, Nathan merasa seperti kembali remaja lagi. Dia merasa seolah-olah dia telah menemukan seorang gadis dan telah jatuh cinta padanya.


Jika Jessica kembali ke Singapura, Nathan yakin kalau dia akan bertemu Jessica lagi. Nathan tahu bahwa saat ini, kuliahnya adalah hal yang paling penting baginya. Dan Nathan tidak berniat menghalangi gadis itu untuk menempuh pendidikannya.


Itu sebabnya, untuk saat ini dia akan melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa ia dan Jessica akan menjalani hidup dengan bahagia bersama dan Nathan tak akan pernah meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


***


__ADS_2