Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
13


__ADS_3

Dia berpikir untuk menelepon Robert saat ini. Tetapi detik itu juga Nathan dengan segera langsung menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.


Nathan yakin dia memiliki hal-hal yang lebih penting untuk di laporkan pada lelaki itu. Selain itu jika keberadaan anak gadisnya tidak di ketahui oleh Robert sendiri, maka tak ada gunanya bagi Nathan untuk memberitahunya.


Tidak, dia tidak bisa memberitahu Robert.


Nathan jelas sendirian dalam hal ini.


Menyadari itu membuat Nathan langsung menghela nafasnya perlahan. Ia lalu memilih keluar kembali dari login komputernya. Nathan menarik ponselnya dari saku mantel hangatnya dan dengan cepat mengetuk lokasi dari gadis itu.


Nathan berhasil menemukan taksi beberapa saat setelah ia sampai di dekat jalan raya. Dia memberitahu tempat tujuannya pada supir taksi itu dan taksi pun meluncur detik itu juga.


Di dalam taksi, sekali lagi Nathan menatap layar ponselnya untuk mengecek keberadaan gadis itu dan mendapati kalau gadis itu masih ada di toko kue tadi. Perasaan tegang kembali memasuki pikiran Nathan. Hal utama yang membuatnya takut adalah terkait dengan Robert yang pasti akan menembak kepalanya jika pria itu tahu kalau Nathan sudah kehilangan anak gadisnya.  


Nathan merinding sendiri saat membayangkan itu. Ia langsung buru-buru menggelengkan kepalanya saat mulai membayangkan hal itu. Ia menghela napasnya perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Masih di sela ketakutannya, dengan serius Nathan mulai membayangkan dirinya yang mungkin harus pindah ke suatu tempat, seperti pedesaan untuk menghindari kekejaman dari Robert Anderson. Ia tentunya tak ingin sampai harus kehilangan kepalanya karena masalah ini.


Tapi Nanthan tak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi. Itu tak akan terjadi. Karena Nathan yakin kalau ia bisa menghentikannya sebelum hal menakutkan itu terjadi padanya. Apapun caranya. Dan hal terpenting saat ini adalah, dia harus menemukan Jessica terlebih dahulu.


Tepat saat itulah sopir taksi itu berhenti dan langsung meminta bayarannya pada Nathan. Sambil menggerutu karena ketidaksabaran sang supir, Nathan dengan segera mengeluarkan dompetnya dari saku dan menyerahkan uang kertas seratus ribu pada supir itu. Nathan lalu menyuruh supir cerewet itu untuk menyimpan kembaliannya.


Dan untuk beberapa saat setelah keluar dari mobil, Nathan berdiri di trotoar, menatap layar ponselnya dan bangunan di depannya itu secara bergantian. Ia dengan cepat langsung menyadari jika itu sama sekali bukanlah toko kue, melainkan sebuah kafe kecil.


"Kenapa informasi yang aku terima itu adalah toko kue?" gumamnya heran.


Nathan melangkahkan kakinya, menyeberangi jalan raya. Ia berjalan masuk, setelah sebelumnya mendorong pintu kaca dan membuat lonceng yang ada di atas pintu itu berbunyi. Nathan melihat ke sekeliling kafe. Dan dia bisa melihat dengan jelas gadis yang dia cari sejak tadi tengah duduk dengan santai di sudut kafe itu.


Di dekat meja gadis itu terlihat dua orang lagi yang tengah duduk dan fokus pada urusan mereka. Yang satu tengah membuka buku tebal yang ada di hadapannya. Dan yang lain sedang menatap laptopnya, mengerjakan sesuatu, sambil sesekali menyeruput minuman di gelas.


Nathan mempertimbangkan untuk berbalik pergi dan berjalan keluar dari kafe begitu dia sudah mengetahui dengan matanya sendiri kalau gadis itu ternyata benar-benar aman dan hanya bermain-main dengan Macbook- di tangannya.

__ADS_1


Tapi kemudian Nathan berpikir betapa mencoloknya dia jika harus datang dan pergi secara tiba-tiba seperti itu tanpa membeli apapun di kafe itu. Dan pada akhirnya, Nathan kemudian memutuskan untuk pergi ke meja kasir untuk memesan sesuatu.


"Aku ingin pesan cokelat panas satu, tolong," kata Nathan dengan nada sopan.


"Anda ingin minum di sini, tuan?" tanya pelayan di meja kasir menunggu jawaban dari Nathan.


Nathan menatap sebentar ke arah dimana Jessica duduk tadi dan kembali menatap sang pelayan. "Aku akan membawa pergi saja." jawabnya kemudian.


Sang pelayan mengangguk dan segera membuat pesanan. Nathan bersandar di dekat meja kasir untuk menunggu pesanannya. Nathan menghela napasnya perlahan. Ia diam-diam memperhitungkan segala uang yang baru saja ia keluarkan. Ia mendecih kesal saat menyadari bahwa perjalanan yang sia-sia ini telah menelan biaya setidaknya seratus lima puluh ribu dan itu adalah uang pribadi miliknya.


Nathan kembali mendecih sinis. Robert benar-benar sudah merugikannya untuk semua omong kosong ini. Lihat saja nanti, dia pasti akan menagih ganti rugi pada Robert untuk hal ini ketika mereka bertemu lagi nanti.


Nathan melihat sekelilingnya tepat saat gadis itu mengambil cangkir putihnya dan perlahan menyesap cappuccinonya. Mata gadis itu lalu bergerak untuk kembali meletakkan cangkirnya dan tanpa sengaja ia melihat ke arah Nathan yang kebetulan juga tengah menatapnya.


'Sial, dia melihatku' Nathan berujar dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2